Kafe di Sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan Ditertibkan

- Periklanan -

Personel Satpol PP Kota Palu melakukan penertiban kafé di sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan, Kamis (6/7). (Foto: Wahono)

PALU- Puluhan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Palu menertibkan kafe di sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan, Kelurahan Talise, Kamis (6/7) kemarin. Sekitar 40 kafé terutama bagian terasnya dirobohkan Satpol PP. Sebab, keberadaan kafé-kafé tersebut telah menggunakan ruang milik jalan (rumija)

Kafe-kafe yang ditertibkan, umumnya masih berdinding papan dan beratap seng. Setiap akhir pekan, terutama hari Sabtu dan Minggu, kafe di sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan menyediakan jajanan sarapan pagi bagi pengunjung di pantai itu.

Pada penertiban kemarin sebanyak 80 personel Satpol PP diturunkan. Penertiban hari itu berjalan lancar dan aman. Tidak ada upaya perlawanan dari para pedagang maupun pemilik kafe.

Sebelum turun melakukan penertiban, sudah lebih dulu ada pemberitahuan kepada pemilik kafe. Para pemilik menyadari bahwa kafe mereka melanggar. Tak tanggung-tanggung, dua bulan sebelum turun melakukan penertiban, Pemkot Palu telah mengeluarkan imbauan.

Kepala Bidang Penataan Ruang pada Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan (DPRP) Kota Palu, Ilyas Ladtjindo mengatakan, posisi kafe di sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan Talise, telah menyalahi aturan. Karena puluhan lapak kafe-kafe telah menggunakan ruang milik jalan di sebelah timur. Rumija yang mereka “caplok” merupakan hak bagi pejalan kaki.

“Makanya, Pemkot Palu melalui DPRP dan SapPol PP turun menertibkan semua lapak kafé yang telah menggunakan rumija di sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan,” ujar Ilyas di lokasi penertiban.

Kasat Pol PP Kota Palu, Muhamad Arif Lamakarate menyatakan, dalam penertiban kali ini pihaknya membantu DPRP. Mereka koordinasi ke Satpol untuk turun penertiban.

- Periklanan -

“DPRP juga turun sosialisasi. Keikutsertaan para pedagang untuk menata tempat berjualan sehingga tidak mengganggu fasilitas umum seperti jalan, sangat dibutuhkan,”kata Arif.

Diakuinya, Pemkot Palu melalui OPD terkait, sudah sosialisasi dan mengimbau kepada para pedagang untuk tidak menggunakan bahu jalan sebagai area kafenya. Namun tidak diindahkan atau ada niat baik membongkarnya sendiri. Karena itu tidak mereka lakukan, makanya Pol PP turun melakukan pembongkaran.

“Penertiban ini memberi pelajaran, sehingga jika ada imbauan dari pemerintah setempat, harus dipenuhi dan disadari,” katanya.

Arif juga menegaskan, penertiban bukan hanya pada satu titik di sepanjang Pantai Kampoeng Nelayan. Tapi juga menyasar area Anjungan Nusantara dan sekitarnya di Jalan Rajamoili Palu.

“Ada laporan dari masyarakat bahwa kafe-kafe di Jalan Rajamoili, dekat pantai, sudah dijadikan usaha sewa kamar untuk fasilitas esek-esek pasangan tak resmi,” tambahnya.

Rusdiana, pemilik salah satu kafé di Pantai Kampoeng Nelayan yang sudah empat tahun berdagang di lokasi itu, menyadari bahwa penertiban yang dilakukan pemkot sudah sesuai aturan. Karena sebelumnya para pedagang sudah diimbau untuk tidak menggunakan bahu jalan ketika berjualan.

“Kami mengaku salah, karena sebelumnya telah ada imbauan kepada kami. Selama empat tahun berdagang di lokasi itu, baru kali ini tempat saya jadi sasaran penertiban,” ujarnya pasrah.

Pemilik kafé yang lain, Suliah, meminta agar penertiban yang dilakukan Sat Pol PP harus merata tanpa ada pilih kasih. Karena terikat hubungan keluarga, biasanya saling melindungi sehingga kafenya dibiarkan di tempat semula. (who)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.