Jurnalis di Palu Dilatih Tangkal Berita Hoaks

- Periklanan -

PALU – Penyebaran informasi di era digital yang kian cepat, menuntut jurnalis harus memiliki kemampuan memilah mana informasi yang benar dan mana informasi bohong atau hoaks. Melihat hal itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar training cek fakta yang diikuti jurnalis di 23 daerah se Indonesia secara serentak.

Di Kota Palu sendiri, AJI bekerjasama dengan redaksi Radar Sulteng, menggelar pelatihan cek fakta ini, di Lantai II Ruangan VIP Rumah Makan Darisa, Jalan Setia Budi, Sabtu hingga Minggu (24/11) kemarin. Khusus Kota Palu, ada sekitar 17 jurnalis yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Ketua Umum AJI Abdul Manan mengatakan, kegiatan ini memang dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu beragam. Mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong. Penyebaran informasi palsu berupa teks, foto hingga video itu memiliki tujuan beragam. Ada yang sekedar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi. “Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya,” kata Abdul Manan di Jakarta, Sabtu (23/11).

Bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut. Terkadang media pun turut mendistribusikannya. Hal ini terjadi karena berbagai faktor. Antara lain, karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan ‘informasi’ secara cepat, atau sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.

- Periklanan -

Mudahnya penyebaran informasi palsu itu dipicu oleh banyak sebab, termasuk karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang apa itu informasi palsu dan bagaimana cara mendeteksinya. Sejumlah latar belakang itu yang mendorong Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dengan dukungan Internews dan Google News Initiative, mengadakan Pelatihan Cek Fakta Serentak di 23 kota ini.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman. “Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar media dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial,” kata Manan.
Sementara itu Redaktur Pelaksana Radar Sulteng, Rony Sandhi mewakili Pemimpin Redaksi Radar Sulteng, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada AJI, yang sudah menjadi pelopor, agar jurnalis di daerah ini, bisa memiliki kemampuan dalam menyaring suatu informasi. Dia berharap, kedepan, dengan adanya kegiatan ini, pengetahuan jurnalis dalam menangkal informasi hoaks, bisa semakin meningkat. “Kawan-kawan nantinya, bisa menjadi penangkal informasi hoaks. Sehingga profesi jurnalis, benar-benar akan tetap dipercaya oleh masyarakat,” sebut Rony.

Kegiatan ini sendiri dibuka oleh Koordinator Wilayah Sulawesi dan Maluku AJI, Ridwan Lapasere dan ditutup oleh Ketua AJI Palu, Moh Iqbal. Sementara yang menjadi trainer, yakni Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir serta Syamsuddin Levi dari AJI Papua.

Untuk diketahui, kegiatan training cek fakta serentak ini digelar serentak di kota-kota berikut: Gorontalo (Gorontalo), Palu (Sulawesi Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), Bulukumba (Sulawesi Selatan), Jakarta (Jakarta), Surakarta (Jawa Tengah), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat), Malang, Kediri (Jawa Timur), Bandung (Jawa Barat), Yogyakarta, Tanjungpinang), Banda Aceh (Aceh), Ambon (Maluku), Padang (Sumatera Barat), Kotamobagu (Sulawesi Utara), Bima, Mataram (Nusa Tenggara Barat), dan Denpasar (Bali). (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.