Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Jumlah Penduduk Miskin di Sulteng Meningkat

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Secara umum pada periode 2009 hingga September 2017, tingkat kemiskinan di Sulteng mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase. Tapi BPS mencatat sejak 2015 tingkat kemiskinan tersebut menunjukkan fluktuasi yang cenderung meningkat.

Kenaikan jumlah penduduk miskin di Sulteng dipicu oleh kenaikan harga kebutuhan pokok. (Foto: Fery)

Kabid Statistik Sosial BPS Sulteng, Sarmiati mengungkapkan, kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin terutama dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Yakni, seperti beras, ikan, telur, gula, dan mie instan. “Peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin juga dipicu tingginya konsumsi rokok di kalangan penduduk miskin,” jelas Sarmiati, Selasa (2/1).

Ia menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Sulteng pada Bulan September 2017 mencapai 423,27 ribu orang. Terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin sebesar 5,41 ribu orang dibandingkan Maret 2017. Sementara dibandingkan September 2016 jumlah penduduk miskin bertambah sebanyak 10,12 ribu orang.
Sementara itu, berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret hingga September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebesar 3,57 ribu, sedangkan daerah pedesaan naik sebesar 1,84 ribu orang. “Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 10,16 persen menjadi 10,39 persen, sedangkan di pedesaan naik dari 15,54 persen menjadi 15,59 persen,” sebutnya.

Dia menyebutkan, persentase penduduk miskin di Sulteng dibanding provinsi lain di Sulawesi, masih cukup tinggi. Bahkan, untuk daerah perkotaan persentasenya sebesar 10,39 persen merupakan yang tertinggi. Sementara dari sisi jumlah, penduduk miskin di Sulteng juga tergolong besar. Jumlah penduduk miskin sebesar 423,27 ribu orang merupakan tertinggi kedua setelah Sulawesi Selatan yang tercatat sebesar 825,97 ribu orang.

Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Di Sulteng, selama periode Maret – September 2017, Garis Kemiskinan naik sebesar 4,28 persen yakni dari Rp391.763,- per kapita per bulan pada Maret 2017 menjadi Rp408.522,- per kapita per bulan pada September 2017.

Sementara pada periode September 2016–September 2017, Garis Kemiskinan naik sebesar 6,73 persen, yaitu dari Rp.382.775,- per kapita per bulan pada September 2016 menjadi Rp408.522,- per kapita per bulan pada September 2017. “Peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dalam mempengaruhi garis kemiskinan dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2017 sebesar 76,16 persen,” jelasnya.

Pada September 2017, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras yang memberi sumbangan sebesar 19,02 persen di perkotaan dan 23,12 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap GK, 13,38 persen di perkotaan dan 14,06 persen di perdesaan.

Sarmiati menambahkan, persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. “Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” jelasnya.

Pada periode Maret – September 2017, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulteng mengalami kenaikan. Yakni, dari 2,55 pada Maret 2017 menjadi 2,80 pada September 2017. Demikian juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami kenaikan dari 0,72 menjadi 0,78 pada periode yang sama.

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan. Pada September 2017, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk daerah perkotaan sebesar 1,85 sementara di daerah perdesaan jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 3,14. Sementara itu nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan adalah 0,46 dan di daerah perdesaan mencapai 0,90.(ars)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.