Jual Maskawin dan Bongkar Tabungan untuk Modal Bangun Bank Sampah

- Periklanan -

SAMPAH BAWA BERKAH: Syawaludin dan Febriarti di bank sampah yang mereka dirikan. Kini usaha mereka meluas ke berbagai kota. (Foto: KHAFIDLUL ULUM/JAWA POS)

Syawaludin dan Febriarti Khairunnisa risi melihat Kota Lombok penuh dengan sampah. Pasangan suami istri itu tidak ingin kota kelahirannya sebagai destinasi wisata berkesan kurang menyenangkan bagi wisatawan. Mereka lalu mendirikan bank sampah dan sukses.

KHAFIDLUL ULUM, Lombok

DI lahan tertutup 1.500 meter persegi di Dusun Tatak, Desa Tanak Tuwu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tumpukan sampah tertata rapi. Tentu saja itu bukan sampah biasa, melainkan sampah yang sudah disulap menjadi komoditas.

Yang paling banyak berupa sampah plastik seperti gelas atau botol air mineral serta bungkus makanan/sabun. Barang-barang bekas itu dimasukkan ke sak putih ukuran jumbo, lalu ditumpuk untuk kemudian dijual ke pabrik pengolahan sampah guna didaur ulang.

Itulah suasana kompleks Bank Sampah Bintang Sejahtera NTB yang didirikan pasutri Syawaludin dan Febriarti. Di situlah mereka memberdayakan masyarakat Lombok untuk menyulap sampah menjadi rupiah.

’’Di tempat ini kami mengolah sampah-sampah itu menjadi komoditas yang bernilai ekonomi,’’ terang Febriarti saat ditemui di kantornya, Jumat (23/12).

Selain dipilah, sampah terpilih dicacah menjadi kecil-kecil. Kemudian dimasukkan ke dalam plastik transparan sesuai dengan jenisnya. Ada sampah plastik putih, merah, biru, dan hijau. Sampah yang sudah dicacah akan lebih mahal jika dibandingkan dengan sampah yang masih utuh.

’’Kebetulan, baru saja ada yang dikirim ke Sidoarjo, Jawa Timur. Di sana ada pabrik pengolahan plastik. Jadi, di gudang tak banyak stoknya,’’ tambah Febri.

Hari itu tidak ada aktivitas pengolahan. Para pekerja sedang libur. Namun, Febri dan suami tetap ngantor untuk melihat kondisi bank sampah dan mengecek hasil pekerjaan karyawan. Keduanya juga datang ke beberapa bank sampah binaan yang tersebar di Pulau Lombok. Ada 50 unit bank binaan Bank Sampah Bintang Sejahtera.

Selain menjalankan aktivitas rutin, sorenya Febri dan Syawaludin menerima tamu dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Rupanya, Bank Sampah Bintang Sejahtera mendapat kepercayaan dari Kemenristekdikti untuk memberdayakan masyarakat dengan sampah. Kementerian yang dipimpin M. Nasir itu memberikan insentif teknologi atau hibah teknologi kepada Bank Sampah Bintang Sejahtera berupa empat alat pengolah kompos.

Sore itu staf Kemenristekdikti ingin meninjau alat yang berbentuk seperti tandon air tersebut di kompleks Bank Sampah Bintang Sejahtera. Alat itu bisa digunakan untuk mengolah sampah menjadi biogas, kompos cair, serta kompos padat. ’’Empat alat ini bisa mengolah 25 ton sampah sekaligus,’’ papar Febri.

Alumnus Universitas Mataram itu menyatakan, bank sampah yang didirikannya bersama suami pada Juni 2010 di Desa Jempong, Kecamatan Sekar Bela, Kota Mataram, itu ternyata memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan Kota Lombok. Sebab, saat itu kondisi lingkungan Lombok cukup kotor, penuh sampah. Masyarakat masih sering membuang sampah dengan sembarangan. Selain itu, banyak anak yang  drop out  dari sekolah sehingga menambah buruk citra Lombok di mata orang luar.

Perempuan 32 tahun tersebut sedih melihat kondisi itu. Dia sangat malu ketika suatu hari kedatangan tamu dari Jerman. Turis itu sebenarnya takjub melihat kecantikan Lombok, tapi sayang banyak sampah yang berserakan di jalan-jalan maupun pantai. ’’Lombok itu cantik, tapi kotor,’’ ungkap Febri menirukan ucapan tamu asingnya itu.

Dari sindiran turis dari Jerman itulah Febri bersama suami tergerak untuk mencari jalan ke luar sehingga Lombok bersih. Awalnya berupa gerakan membuang sampah di tempatnya. Namun, cara itu kurang efektif karena tidak disertai aksi nyata di lapangan.

Maka, Febri dan Syawaludin kemudian menemukan ide bank sampah yang mampu menyulap sampah menjadi rupiah. Dari situ, masyarakat langsung tertarik untuk mengikuti ide Febri dan suami tersebut.

- Periklanan -

’’Terus terang, tidak ada yang mengajari bagaimana mengolah sampah menjadi rupiah itu. Saya hanya belajar dari internet,’’ kata Febri.

Bila Febri bergelut di hal teknis, suaminya bertugas mencari pasar untuk menjual sampah yang sudah dipilah dan dipilih itu. Sebab, bila belum ada pembeli bank sampah tersebut, pekerjaan mereka kurang berdampak ekonomi. Dan, itu pasti kurang menarik masyarakat untuk mau mengikuti jejak Febri-Syawaludin.

Agar fokus dan total, pasutri itu rela keluar dari pekerjaan tetap mereka. Febri keluar dari German International Cooperation atau GIZ yang berkantor di Lombok. Syawaludin keluar dari pekerjaannya sebagai staf ahli DPRD Provinsi NTB.

Untuk membiayai gerakan itu, keduanya rela berkorban dengan menjual maskawin serta menggunakan uang tabungan sebagai modal. Agar menarik, mereka meluncurkan program pinjaman uang kepada warga kurang mampu. Mereka bisa mengembalikan pinjaman itu dengan menyetorkan sampah ke bank sampah.

Benar saja, program itu menarik perhatian masyarakat. Begitu program dibuka, puluhan warga mengajukan pinjaman, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Mereka mengembalikan pinjaman tersebut dengan sampah-sampah yang bernilai ekonomi. Saking bersemangatnya, ketika ada acara hajatan di kampung-kampung, mereka menunggu sampahnya.

’’Di setiap rumah mereka juga disiapkan sak khusus untuk sampah plastik,’’ papar Febri.

Namun, setelah enam bulan, para nasabah yang meminjam uang mulai tidak amanah. Mereka tidak menyetor sampah lagi ke Bank Sampah Bintang Sejahtera. Mereka menjual sampah di tempat lain. Tak ayal, bank sampah milik Febri dan suami itu pun menghadapi kredit macet. Nilai pinjaman yang tidak kembali mencapai lebih dari Rp 100 juta.

Kedua rekan Febri yang selama ini men-support bank sampah itu pun mundur. Mereka memilih fokus bekerja di bidang masing-masing. Meski begitu, Febri dan Syawaludin tidak patah semangat. ”Kalau tidak diteruskan, siapa yang peduli dengan sampah di Lombok?” ucap Syawaludin.

Berkaca dari kasus tersebut, Syawal –sapaan Syawaludin– pun mengubah strategi. Salah satunya ialah meniadakan program pinjaman lunak itu. Sebagai gantinya, bank sampah meluncurkan program tabungan sampah. Sampah yang disetor nasabah akan menjadi tabungan yang sewaktu-waktu bisa dirupakan uang.

Awalnya program tersebut kurang menarik minat nasabah. Hanya sedikit yang mau menabung sampah di Bintang Sejahtera. Tapi, begitu hasilnya konkret, masyarakat berduyun-duyun menabung sampah di bank sampah itu. ”Kami selalu siapkan uang cash bila sewaktu-waktu ada yang mau ambil uang simpanannya,” ucap pria yang juga alumnus Universitas Mataram tersebut.

Ada nasabah yang mengambil uang tabungannya saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ada yang menguangkan saat tahun ajaran baru tiba dan sebagainya. Setelah bank sampah memilih banyak nasabah, Febri-Syawal pun mulai melebarkan sayap usaha. Mereka mengajak masyarakat mendirikan bank-bank sampah di kota lain.

Maka, berdirilah bank sampah di Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Utara. Saat ini ada 50 unit bank sampah yang menjadi mitra Bank Sampah Bintang Sejahtera. Total nasabahnya mencapai 2.500 orang. Mereka aktif menyetor sampah setiap saat.

Bukan hanya masyarakat umum yang menjadi nasabah. Sejumlah sekolah juga bergabung di bank sampah. Sedikitnya 25 sekolah kini terdaftar sebagai nasabah dan menjadi binaan Bintang Sejahtera. Bahkan, ada sekolah yang mempunyai program sedekah sampah. Seluruh siswa ”wajib” mengumpulkan sampah untuk ditabung di bank sampah. Hasilnya digunakan untuk membangun masjid.

Febri menambahkan, pihaknya juga menggandeng pengelola wisata untuk mengelola sampah. Salah satunya pengelola Gili Trawangan. Mereka cukup menyediakan tempat sampah yang memadai. Pihak Bintang Sejahtera akan mengambilnya secara periodik sebulan dua kali. ”Lumayan banyak. Sekali ambil sampai 7 ton sampah.”

Menurut perempuan yang pernah ikut program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada itu, kini dalam sebulan omzet dari pengelolaan sampah di Bintang Sejahtera mencapai Rp 150 juta hingga Rp 160 juta. Uang hasil penjualan sampah tersebut dikembalikan untuk masyarakat.

Berkat kegigihannya memberdayakan masyarakat, Febri memperoleh berbagai penghargaan. Pada 2015 dia meraih tiga penghargaan bergengsi. Yang pertama adalah Indonesian Women of Change dari Kedubes AS di Indonesia. Dua lainnya: Sankalp Southeast Asia Award dan Tupperware She Can Award.

Saat ini Febri dan suami sedang memasuki proses mendirikan recycle center di Kota Mataram. Masyarakat bisa datang untuk belajar mengolah sampah dan mendirikan bank sampah. ”Tahun ini recycle center itu akan kami resmikan. Jadwal pastinya menyusul,” terang perempuan kelahiran 22 Februari 1984 tersebut. (***)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.