Jual Mangga dengan Mengayuh Sepeda dari Donggala ke Palu

Semangat Kakek Hatta, Mencari Rezeki di Penghujung Usia

- Periklanan -

Semangat kakek hatta, patut ditiru para pemuda. Di usianya yang sudah lanjut, dia masih gigih bekerja mencari rezeki untuk keluarga. Meski hanya menjual mangga, pria 74 tahun ini, rela mengayuh sepeda dari Desa Loli, Donggala hingga ke Kota Palu.

SYAHRIL, Kamonji

TERIKNYA siang, terpaksa harus menghentikan kayuhan sepeda Hatta. Dia tampak berhenti sejenak di bawah pohon rindang, sembari memarkirkan sepedanya yang mengangkut keranjang berisi buah mangga.

Radar Sulteng, terpanggil untuk ikut berhenti sejenak dan mendekati Hatta. Warga Desa Loli ini mengaku, sudah dari sejak pagi berangkat ke Palu untuk menjual buah mangga dari desanya.

Namun hingga siang, baru beberapa bungkus buah mangga saja yang laku.
Mengayuh sepeda dari Loli ke Kota Palu, yang jaraknya kurang lebih 20an kilometer itu, sudah dilakoni Hatta sejak dua tahun yang lalu.

Pascatsunami yang menghancurkan rumahnya, Hatta terpaksa harus putar otak mencari tambahan uang untuk memperbaiki rumah. Meski memiliki anak dan cucu, Hatta tidak ingin membebani keluarganya. Dengan modal sepeda seadanya, setiap musim buah mangga tiba, dia berdagang mangga hingga ke Kota Palu.

“Sejak tsunami itu, saya menjual begini saya usahakan untuk perbaiki rumah. Soalnya didata (bantuan stimulan) semua tapi tidak ada juga kena (dapat),” ucap Hatta saat ditemui di tepian Jalan WR Supratman beberapa waktu lalu.

Meski penghasilan dari berdagang tak menentu dan usia yang sudah tak muda lagi, kakek Hatta tetap semangat menguras sisa-sisa tenaga tuanya untuk mengayuh sepedanya berkeliling Kota Palu berharap ada yang membeli dagangannya.

- Periklanan -

Jika bernasib baik dia bisa mendapat Rp 400 ribu. Tetapi kadang pula ia kurang beruntung harus pulang dengan tangan kosong, bahkan sesekali tak dapat bayaran dari orang-orang jahil yang mengambil mangganya tanpa membayar.

“Biasanya ada yang ambil mangga,sebentar saya kesini, saya tunggu-tunggu tidak ada juga datang,” sebutnya.

Hanya saja, dia tak pernah mempersoalkan itu. Dengan besar hati, mengikhlaskan hal tersebut. padahal dagangannya, bukanlah miliknya, tetapi milik tetangga dan saudaranya, di mana hasil penjualan mangga itupun harus
dibagi lagi.

Hatta juga menceritakan, pernah ada yang datang tiba-tiba langsung ambil dagangannya dan tanpa sempat mengucap apa-apa langung pergi. Ia hanya bisa ikhlas jika bernasib sial seperti itu. Saat sedang bercerita dengan Radar Sulteng, sesekali pembeli datang menghampiri jualannya, dengan telaten Hatta menawarkan mangganya.

Ada yang dihargai dengan Rp 20 ribu perkantong kresek ada pula yang dijual Rp5 Ribu per buahnya. Cuaca panas tak jadi masalah baginya, demi dapur dapur keluarga tetap mengepul. Jika tak merasa mampu mengayuh sepedanya, Hatta terkadang menumpang sembarang mobil pick up untuk pulang ke rumah. “Kalau umur 40 atau 50 masih mampu kalau sekarang sudah tidak,” ujarnya.

Lelah tak perlu ditanya lagi,berkeliling Kota Palu di tengah terik matahari ditambah usia yang tak lagi muda bukanlah hal mudah. Namun dia tak berkeluh kesah, karena di rumah ada
tiga orang anggota keluarga yang menugguinya berdagang hingga sore hari. Anak, istri dan cucunya. Dia memiliki 3 orang anak yang sudah berkeluarga, hidup mereka pun hampir sama dengan keadaannya, sehingga tak bisa banyak membantu.

Kakek Hatta tak berjualan penuh waktu, jika hari sudah teramat terik menusuk kulitnya, pukul 12 siang ia harus beristirahat, memulihkan tenaga untuk kembali berjualan pada pukul 2 siang. Dengan insting berdagangnya yang terbilang lumayan, kakek sudah tahu tempat-tempat strategis untuk dijadikan tempat persinggahan berjualan. “Tempat saya berjualan di Taman Gor, di Penggaraman dan di Baruga,” sebutnya.

Keinginan untuk berhenti jualan sesekali terlintas dipikirannya, akan tetapi dia menepis semua pemikiran itu, karena dirinya masih kepala keluarga, agar perut keluarga tetap terisi. “Harus bekerja keras, apa yang dimakan cucu
saya di rumah. Anak saya gajinya biasa 2 minggu baru terima. Anak saya buruh semua,” terangnya.

Dalam keadaan yang serba terbatas itu, kakek Hatta hanya bisa berharap dengan hasil dagangannya itu bisa disisipkan untuk kelangsungan hidup cucu-cucunya di masa-masa yang akan datang. “Yang penting ada uang disimpan, karena kita tidak punya tanah, itu saya ingatkan sama anak-anakku, kalau sudah meninggal kita apa yang kita berikan untuk anak-anak kita, cuma itu harapan saya,” tutupnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.