Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Joyful Kids Selaraskan Pendidikan di Rumah dan di Sekolah

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Kegiatan seminar parenting yang diselenggarakan PAUD Joyful Kids, Sabtu (29/7), ditutup dengan foto bersama orang tua, guru dan direktur Joyful Kids, serta pembicara seminar Sisilia Maryati. (Foto: Joyful Kids)

PALU – Dalam upaya menyelaraskan pola pendidikan yang ada di rumah maupun di sekolah, maka PAUD Joyful Kids menggelar seminar parenting yang menghadirkan para orang tua siswa, Sabtu (29/7). Kegiatan yang berlangsung di aula PAUD Joyful Kids itu menghadirkan pembicara Sisilia Maryati. Dia adalah instruktur nasional kurikulum 2013, serta konsultan PAUD di berbagai provinsi di Indonesia.

Menurut Direktur Joyful Kids Evy Ratna SPd MDP, keselarasan antara pendidikan di sekolah dan di rumah sangat penting. Agar apa yang diajarkan bisa maksimal. “Hal yang akan menyulitkan guru di sekolah, ketika ternyata di rumah tidak selaras dengan sekolah. Sangat-sangat sulit untuk kita hadapi,” terangnya saat membuka seminar tersebut.

Tetapi, kata lulusan Queensland University Australia ini, jika ada keselarasan antara orang tua dan sekolah, maka anak-anak akan melihat bahwa di rumah dan di sekolah sama. Hingga anak-anak akan lebih mudah diarahkan untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik-baik di rumah maupun di sekolah.

Menurut wanita yang pernah mengunjungi negara Finlandia, negara dengan metode pendidikan terbaik di dunia, dimana Joyful Kids banyak mengadopsi hal-hal yang mendukung proses belajar mengajar Joyful Kids dengan sistem yang menyenangkan buat anak-anak, kegiatan yang mengusung tema “Pola Asuh yang Membangun Potensi Anak Usia Dini” tersebut dirangkaikan dengan in house training bagi guru-guru Joyful Kids.

“Saya selalu ingin guru-guru di Joyful Kids itu tiap tahun harus diisi, supaya bisa mengikuti perubahan zaman, selalu bisa up to date, sehingga tidak tergerus dengan perubahan zaman yang ada,” tegasnya.

Di sisi lain, Evy mengungkapkan, melihat sangat pentingnya kegiatan parenting, ke depan kegiatan seperti itu akan lebih diintensifkan. “Kita akan programkan tiap tahun akan ada parenting seperti ini, karena ini sangat penting khususnya di awal tahun ajaran seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Sementara dalam paparannya, Sisilia Maryati, selain menyampaikan akan pentingnya kegiatan parenting untuk dilaksanakan dan diikuti para orang tua, wanita asal Purworejo ini lebih banyak berbicara mengenai bagaimana menggali potensi anak. “Program parenting itu sebenarnya mau menyamakan isi di kepala sekolah dan isi kepala di rumah. di rumah dan di sekolah isi programnya sama,” paparnya.

Menurut pemilik sekolah percontohan di Purworejo ini, berbagai alasan orang tua dalam menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu. Misalnya, ada yang beralasan dari pada tidak ada kerjaan mending anaknya dimasukkan ke sekolah biar setiap hari mengantar anak ke sekolah. ada juga yang beralasan agar anaknya bisa mandiri, memiliki kemampuan sosial yang bagus, bahkan ada yang memilih sekolah PAUD yang paling bagus agar setelah anaknya lulus sudah bisa membaca dan menulis. “Tetapi pada kenyataannya orang tua tidak memiliki grand desain,” tekannya.

Kata dia, usia PAUD 0-8 tahun. Tapi di Indonesia undang-undangnya 0-6 tahun. Maka kata dia, seharusnya anak usia kelas I dan II sekolah dasar (SD) masih masuk kategori anak usia dini. Yang dimaksud kata dia, adalah ciri perkembangan anak. “Begitu masuk SD berubah semua, padahal anak kelas I sampai kelas II adalah anak usia dini. Yang kadang-kadang mogok sekolah, yang kadang-kadang malas kerjakan PR,” paparnya.

Menurutnya, banyak anak SD yang direbut masa usia dininya. Dia mengibaratkan mendidik anak ibarat membangun sebuah rumah. Di mana dalam membangun sebuah rumah diperlukan sebuah pondasi yang kokoh, begitu juga dalam mendidik anak pendidikan di usia dini anak menentukan kesuksesan anak tersebut di masa depannya. “Yang paling esensi adalah di pendidikan anak usia dini,” jelasnya lagi.

Masih menurut Sisil, sapaan akrabnya, pendidikan di Indonesia sangat jauh berbeda dengan pendidikan yang ada di luar negeri. Seperti di Finlandia, di sana kata dia, mereka konsen dengan pendidikan awal (anak usia dini, red). “Nah sementara di Indonesia yang dapat bantuan itu perguruan tinggi, bertriliun-triliun. Orang tua yang mencari sekolah unggulan itu dimulai dari mana? SD, SMP,” tuturnya.

Sisil menerangkan, yang perlu dilakukan yakni konsen membangun pondasi pada anak usia dini. Di mana banyak orang di Indonesia yang belum memahami bahwa PAUD itu usia 0-8 tahun.

Di sisi lain, Sisil menjelaskan pentingnya executive function, yaitu proses neuropsikologi yang tidak dapat dilihat, yaitu merupakan suatu proses kognitif atau proses mental di dalam prefrontal cortex dan diubah menjadi self-regulation. Kenapa disebut penting? Dia mengatakan, apakah yang disebut manusia cerdas mereka yang bisa baca dan menulis, tidak. Dijelaskannya, yang disebut manusia cerdas adalah yang punya persambungan antara sel otak yang sangat banyak, yang rimbun.

“Tuhan itu baik, mau anak orang kaya, anak orang miskin, anak pejabat, anaknya tukang becak, semua dikasih yang namanya sel otak. Begitu lahir semuanya satu-satu, rangkaiannya tak terhitung. Jika rangkaian sel otak itu tersambung satu dengan yang lain akan menjadi rimbun, yang rimbun itulah anak yang siap untuk hidup,” ulasnya.

Lalu bagaimana caranya biar rimbun, imbuh Sisil, yang paling efektif yakni usia 0-3 tahun. Kemudian naik 3-8 tahun. Sebenarnya hampir seluruh bekal hidup itu, prosesnya selesai di usia 4 tahun pertama kehidupan. Yang perlu dilihat, tekan Sisil, apa yang berikan kepada anak yang akan menjadi bekal mereka di hari tua.(fdl/exp)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.