JICA Desain Rencana Penanganan Sedimen di Sigi

- Periklanan -

HIROSHIMA- Di hari kedelapan tim training rekonstruksi bencana Sulteng, bersama JICA belajar penanganan bencana sedimen dan tanah longsor. Berada di prefectur Hirosima menerima materi penanganan bahaya sedimen yang disampaikan Deputi General Manager Sabo Departement, Domestic Departement, counsuting Headquertee Yachiyo Engineering, Co, LTD, Mr. Makoto Ikeda, di Hiroshima, Minggu (23/6).
Makoto memulai materinya pengenalan Dam Sabo untuk penanganan sedimen. Ia fokus membahas sedimen jenis Debris. Debris flow adalah erosi aliran sedimen luruh yang berupa pasir dan batuan dalam jumlah besar tidak selalu dapat dikatakan sebagai bencana.
“Debris di Jepang dilakukan dua penanganan debris, non struktural yakni terkait penanganan relokasi masyarakat yang ada wilayah terdeteksi bencana dan struktural yakni pembangunan dam Sabo,” terangnya.
Bahasa Jepang yaitu sa, yang artinya pasir dan bo yang bermakna pengendalian. Jadi secara harfiah, kata sabo berarti pengendalian pasir. Bangunan dam sabo biasanya terletak di sungai di dekat gunung vulkanik yang berfungsi mengontrol banjir debris
Training ini mencakup seluruh penanganan bencana di Sulteng. Selain penanganan tsunami beberapa hari sebelumnya, kini terkait dengan penanganan sedimen, sebagaimana yang terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Sigi.
Mr. Junichi Fukushima enginer Yachiyo yang menangani project rekonstruksi di Sulteng mengungkapkan ada 4 titik desain penanganan debris di Kabupaten Sigi, Desa Poi, Bangga, Paneki dan Salua.
Menurutnya Fukushima penanganan sedimen di Hiroshima dan kota lain yang ada di jepang akan sesikit berbeda dengan di Kabupaten Sigi. Karena karakteristik tanah berbeda, namun pola masih sama menggunakan Dam Sabo.
Lebih lanjut Makoto mengungkapkan di Hiroshima saat telah dibangun beberapa dam sabo dan sedang berlangsung pembangunan lainnya. Hiroshima pernah terjadi bencana akibat curah hujan ekstrem. Sedangkan kota lain di Jepang pernah mengalami bencana banjir bandang adalah Hokaido terjadi bencana gempa bumi 6,7 MG yang menyebabkan longsor. Dari paparan lokasi peta terlihat Hokaido hampir seluruh lereng runtuh.
“Ini bencana pertama, tapi kedua hujan turun deras terjadi di lokasi gempa,” tutur Makoto.
Tim training rekonstruksi bencana Sulteng berharap penanganan sedimen di Sulteng khususnya Kabupaten Sigi bisa segera terealisasi dengan bantuan pemerintah Jepang melalui JICA. Dibutuhkan dukungan semua pihak termasuk masyarakat agar proyek penanggulangan bencana yang merendam wilayah Sigi itu bisa terwujud.(awl)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.