Jenazah Transit di Makassar, Keluarga Penjemput di Palu Kecele

- Periklanan -

Jenazah setelah tiba di Badnara Mutaira Palu, Selasa (31/1). (Foto: Mugni Supardi)

PALU- Jenazah ketinggalan pesawat kembali terjadi. Kali ini pengalaman pahit itu menimpa keluarga Susanto. Pihak keluarga kecewa berat karena jenazah tertinggal ketika transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan.

Jenazah didampingi istri dan anaknya dari Bandara Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara dengan maskapai penerbangan Batik Air no penerbangan ID 6276-UPG tanggal 31 Januari 2017 dengan kesepakatan bahwa jenazah sama-sama dengan istri dan anak tiba di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu Sulawesi Tengah.

Sayangnya, perjanjian itu tidak sesuai harapan keluarga. Hal ini diketahui ketika pesawat sudah mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie pukul 11.10 Wita. Setelah diketahui jenazah tertinggal di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar suasana duka pun jadi pecah menjadi amarah.

Pihak keluarga kesal dan tidak terima dengan sikap cargo dan Maskapai Batik Air yang dianggap tidak becus. “Pertama istri dan anaknya sampai di Bandara Mutiara, mereka langsung tanyakan jenazah, katanya ada di cargo eh ternyata tidak ada, makanya kami kecewa sekali dengan sikap mereka seakan tidak peduli,” ujar pihak keluarga, Susanto dengan nada cukup keras.

Tidak hanya itu saja, suasana semakin memanas setelah pihak cargo dan Batik Air seakan saling lempar tanggungjawab. Alasan pun dilontarkan oleh kedua pihak ini. Ada yang bilang dokumen belum lengkap, ada juga yang bilang pesawat satu dengan yang lainnya berjauhan. Apalagi tertinggalnya jenazah tidak ada pemberitahuan langsung kepada keluarga.

Akibat ketinggalan pesawat, pihak keluarga akhirnya harus menunggu empat jam lebih hingga akhirnya jenazah tiba sore kemarin pukul 15.37 Wita. “Mereka saling lempar tanggungjawab dan saling menyalahkan, kasihan pihak keluarga,” tegasnya.

Terkait dengan komplen ini, Station Manager Batik Air Palu, Mardian, dikonfirmasi kemarin mengaku kaget. Ia pun tidak banyak bicara terkait dengan kelalaian yang mengakibatkan jenazah tertinggal di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

- Periklanan -

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Sulteng, Jenazah bersama dengan keluarga berangkat dari Bandara Sam Ratulangi Manado dengan maskapai penerbangan Batik Air ID 6276 pukul 06.06 Wita. Tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar pukul 07.55 Wita.

Kemudian, pukul 09.10 Wita jenazah dipindah ke pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6233 tujuan Palu. Jenazah belum bisa diterbangkan karena alasan dokumen terlambat ditunjukkan ke kapten pilot sehingga jenazah diturunkan kembali dengan alasan dokumen tidak lengkap.

Setelah pesawat siap berangkat, ternyata dokumennya ada dan lengkap. Hanya saja lambat diserahkan ke kapten pilot sehingga jenazah harus diberangkatkan pada penerbangan selanjutnya yakni pukul 14.36 Wita dan tiba di Bandara Mutiara SIS Aljufrie pukul 15.37 dengan maskapai Lion Air nomor JT 852.

Sementara itu, pihak Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie menjelaskan pihaknya tidak ada kaitannya dengan tertinggalnya jenazah di bandara Sultan Hasanuddin Makassar itu.

“Kami dari bandara tidak ada masalah, karena hanya sebagai penerima. Namun bukan berarti kami tidak bertanggung jawab. Kami hanya memfasilitasi pihak Batik Air dengan pihak keluarga jenazah,” kata Kepala Seksi Teknik dan Operasional Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Rasud Muhammad.

Rasud menerangkan terkait tertinggalnya jenazah tersebut juga telah dibuatkan laporannya dan telah di kirim ke kantor Lion pusat.

Terkait penyebab tertinggalnya jenazah tersebut, Rasud menjelaskan kemungkinan dikarenakan kesalahan dari petugas yang memindahkan jenazah dari kargo di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

“Jika tertinggalnya jenazah karena tidak dipindahkan, kesalahannya itu dari ground handlingnya karena tidak memindahkan jenazah,” pungkasnya. (jcc/cr5)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.