Jembatan Ambruk, Warga Terpaksa Jalan di Atas Pipa Air

- Periklanan -

Kondisi terkini pasca ambruknya jembatan desa Tanasumpu, Mamosalato. (Foto: Nurain Alwi Daniah)

MORUT – Sebagian warga Pandauke dan Tambale terpaksa nekat meniti jaringan pipa PDAM di atas Sungai Tanasumpu, Kecamatan Mamosalato, Morowali Utara, Jumat (2/6). Pilihan berisiko itu akibat mahalnya sewa rakit pasca jembatan di sungai tersebut rusak diterjang banjir sehari sebelumnya.

Kondisi tersebut diutarakan Kepala Seksi Pendidikan dan Kesehatan pada Kantor Pemerintah Kecamatan Mamosalato Nurain Alwi Daniah kepada Radar Sulteng via pesan whatsApp, Jumat (2/6) siang.

Menurut dia, masyarakat yang nekat memanfaatkan bentangan jaringan pipa besi sekira 30 meter itu sebagiannya adalah anak sekolah. Mereka lebih memilih jalan ini ketimbang membayar sewa penyeberangan menggunakan rakit.

“Satu orang dipungut sewa sepuluh ribu rupiah. Kalau bawa sepeda motor sewanya dilipat dua. Anak sekolah yang tidak punya uang lebih, terpaksa meniti pipa itu,” kata Nurain.

Melihat kenekatan warga, lanjut dia, pemerintah setempat akhirnya memerintahkan anggota Satpol PP untuk melarang masyarakat melewati pipa itu.

“Karena membahayakan jiwa penyeberang, petugas Pol PP kemudian berjaga-jaga di kedua sisi sungai. Kasian kalau tetap dibiarkan,” tandasnya.

Meski sudah dijaga, masih ada juga warga yang nekat. Pasalnya para penarik rakit tidak berani mengambil risiko akibat arus sungai kembali deras.

Beberapa jam kemudian, penarik rakit akhirnya beroperasi lagi. Sebab banyak warga yang membutuhkan jasa mereka.

- Periklanan -

“Untuk mengantisipasi banjir susulan, rakit hanya akan dioperasikan sampai jam tujuh malam saja,” pungkas Nurain.

Sementara itu, Sekretaris Camat Mamosalato I Ketut Sunane mangantar para murid SMP dan SMA dari sungai Tanasumpu ke sekolah mereka di desa Tana Nagaya menggunakan kendaraan dinas Camat setempat.

“Kami prihatin atas kondisi ini, olehnya saya berupaya untuk membantu sebisa mungkin. Terlebih tadi pagi anak-anak mau ujian semester,” singkat Sunane.

Terpisah, Camat Mamosalato Nasib Nje’e membenarkan tindakan nekat masyarakatnya. Namun dia menyebut kondisi ini disebabkan tidak beroperasinya rakit akibat derasnya arus sungai Tanasumpu.

“Benar demikian. Dan saat ini sudah ada alat berat melakukan penimbunan di ujung jembatan yang belum terseret arus sungai,” sebut Nasib.

Sebelumnya, Bupati Morut Aptripel Tumimomor saat meninjau Sungai Tanasumpu, Kamis (1/6) malam, sudah meminta pemilik rakit agar mematok jasa penyeberangan sesuai kemampuan masyarakat.

“Tolong sewa rakitnya jangan mahal-mahal ya,” imbau Bupati kepada Oman, salah seorang pemilik rakit di sungai tersebut.

Kepada Radar Sulteng, Oman mengaku biaya itu tidak terlalu mahal dibanding manfaat bagi pengguna jasanya.

“Karena saya tidak bekerja sendiri maka hasil rakit dalam sehari kita bagi-bagi,” ujar Oman.(ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.