Janji Semua Hasil Study Banding Akan Dipraktikan di Pasigala

- Periklanan -

SENDAI – Setelah meninggalkan Kota Hagashimatsushima dengan strategi pertahanan berlapisnya menghadapi tsunami, konsep mitigasi dan edukasi terhadap warganya, resiliensi kebencanaan, merelokasi warga ke pemukiman baru yang aman, proyek disaster, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pemukiman warga menjadi catatan khusus dalam study banding atau pembelajaran bagi kami di program Knowledge Co-Creation Program (KCCP) Japan Internasional Cooperation Agency (JICA), Senin (11/11).

Para peserta di hari Senin ini, berada di kampus Universitas Tohoku Kota Sendai Prefektur Miyagi untuk mengikuti seminar berkelas internasional di World Bosai Forum yang akan membahas berbagai langkah strategis dari masing-masing pemerintah negara, pemerintah kota dan kabupaten yang mengikuti seminar tersebut.

Hari itu kami mendengarkan paparan dari dua narasumber kunci yakni Direktur Regional Development Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Sumedi Andono Mulyo, dan Kepala Dinas (Kadis) Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, Samuel Yansen Pongi. Kemudian hasil paparan tersebut dibahas ditingkat panel sebagai pembanding dari rencana kegiatan yang akan dilakukan pemerintah Indonesia (pemerintah pusat) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi.

Ditambah materi program JICA yang sudah dilakukan oleh JICA di wilayah bencana di Provinsi Sulawesi Tengah yang dibawakan oleh Masatgusu Komiya, pimpinan proyek pelatihan KCCP JICA gelombang II, 5 – 14 November 2019.
Di diskusi panel ini dipandu oleh Atsutoshi Hirabayashi, dengan menghadirkan Direktur Pengembangan Usaha Kecil dan Koperasi Bappenas Ahmad Dading Gunadi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Hasanuddin Atjo, Kepala Bidang Rekonstruksi Kota Hagashimatsushita Kawaguchi Takafumi, dan Kepala Bidang Rekonstruksi Kota Kawamaishi Prefektur Iwate Jepang, Mr. Kanno, sebagai pembahas.

Dalam paparannya Sumedi mengatakan, pemerintah Indonesia sebagai pemerintah pusat sudah melakukan berbagai langkah kebijakan untuk aksi-aksi dan tindakan disaster di daerah yang dilanda bencana di Provinsi Sulteng dalam hal ini Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala (Pasigala) serta Kabupaten Parigi Moutong.

“Pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan penanganan bencana di berbagai daerah, khususnya di empat kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Tengah hingga detail-detailnya apa yang menjadi urgensi kebutuhan warga di daerah itu, serta aksi penanggulangannya, ” jelas Sumedi.

Demikian pula yang dijelaskan Samuel Yansen Pongi (SYP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi sudah melakukan berbagai langkah-langkah konstruktif dalam mengatasi dan menangani berbagai masalah dalam bencana yang telah dialami warga masyarakat di Kabupaten Sigi, daerah yang terkena dampak bencana gempa bumi, likuifaksi, dan banjir tahunan.

” Daerah kami terkena gempa bumi dan likuifaksi. Sehari sesudah gempa, kami dengan sigap dan cepat langsung turun menangani berbagai kebutuhan warga masyarakat di seluruh wilayah yang rusak karena gempa dan likuifaksi, salah satunya di Desa Jono Oge. Selain memberikan bantuan sesuai kemampuan Pemerintah daerah, juga mendata apa yang menjadi kebutuhan warga terdampak saat itu,” tutur Samuel.

Menurutnya, yang menjadi kebutuhan utama dan mendesak adalah perbaikan rumah-rumah rusak, kebutuhan hidup sehari-hari, pemulihan ekonomi, pemulihan mata pencaharian, dan kesejahteraan ekonomi masing-masing keluarga.
” Inilah kebutuhan yang kami dapat, lalu kami beri bantuan sesuai kemampuan anggaran yang ada. Lalu kami bertemu dengan pihak JICA yang sudah masuk di daerah kami, ” papar Samuel.

Setelah bertemu pihak JICA, dirinya mengajukan proposal bantuan dan apa yang harus dilakukan dalam proses pemulihan ini. ” Sedikitnya ada delapan kali pertemuan dengan JICA hingga proposal kami direspon secara positif, ” ungkap Samuel.
Bantuan JICA pun kemudian turun, mulai dari bantuan alat-alat pertukangan, melatih para warga terdampak untuk menjadi ahli atau terampil di bidang pertukangan. Selanjutnya bantuan untuk ibu-ibu rumah tangga, yang dulunya adalah penjual kue dan makanan jajanan (kuliner), dan membangun sentra-sentra UMKM.

Kami memperkuat sentra-sentra UMKM, dengan harapan masyarakat kami kembali mendapatkan harapan hidupnya, kembali percaya diri, ada pencaharian, sudah bisa beraktifitas dengan profesi yang dilakukannya sebelum terjadinya bencana, dan lain-lainnya semuanya demi pemulihan ekonomi dan kesejahteraan warga terdampak, ” urai Samuel.

- Periklanan -

Dijelaskannya lagi, pemberdayaan UMKM yang diperkuat itu sangat didukung oleh Bupati Sigi Mohammad Irwan Lapatta dan Wakil Bupati Sigi Paulina, para Aparatur Sipil Negara (ASN), dan seluruh masyarakat Sigi.
Salah satu yang sudah dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sigi yang didukung oleh JICA antara lain Tenda Ramadhan. Konsep bantuan itu memberdayakan masyarakat lokal Sigi, agar uang berputar lebih banyak di daerah sendiri yaitu di Kabupaten Sigi, tidak lari ke daerah lain.

” Jadi manfaatnya dirasakan oleh warga masyarakat di Kabupaten Sigi, ” tandasnya.
Karena itu, tidaklah berlebihan selama dirinya melakukan study banding di Jepang akan mempraktikan semua hal-hal baik di Jepang ke daerahnya di Kabupaten Sigi, salah satunya kalau Jepang membuat pertahanan berlapis kenapa tidak di Sigi juga kita buat pertahanan berlapis untuk meredam likuifaksi.

“Tetapi konsep ini bisa dilakukan harus sesuai dengan kondisi yang ada dan kemampuan daerah kami. Jadi tidak semua harus kita praktikan, tetapi sekali lagi semuanya tergantung dari kebutuhan masyarakat dan kemampuan daerah,” tegasnya.

Kemudian Kepala Bappeda Sulteng, Hasanuddin Atjo memaparkan, hasil kajiannya selama melakukan study banding di Jepang, yang akan dilakukannya di wilayah Pasigala Sulteng yakni komunikasi keterbukaan modal sukses relikasi. Hal itu dikatakannya, melihat dari berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Jepang seperti yang disampaikan oleh Kepala Devisi Rekonstruksi Pemkot Hagashimatsushima Kawaguchi Takafumi, bahwa komunikasi dengan masyarakat terdampak serta keterbukaan pemerintah terhadap pembangun tanggul berlapis (pertahanan berlapis) di pantai Suzaki dan Nagahama menjadi salah satu kunci sukses relokasi masyarakat terdampak.

Dia mengatakan pemerintah harus terus membangun komunikasi, harus sabar dan tidak boleh bosan. Keinginan masyarakat ditampung saja dahulu. Setelah itu pemerintah menjelaskan bagaimana desain dan kontruksi tanggul penahan tsunami, mau diapakan lokasi yang ada dibelakang tanggul utama dan di mana pemukiman dapat dibangun.

” Konsep menghidari dari terjangan Tsunami dinamakan pertanahan berlapis, karena terdiri dari tanggul utama yang terletak di pesisir dengan tinggi 7.2 m, kemudian tanggul ke dua tingginya 4.2 m, ” jelasnya.

Diantara tanggul pertama dan kedua ada drainase yang fungsinya membuang air pada saat musim hujan dan jalur air masuk pada saat pasang laut. Dibelakang tanggul utama dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas seperti pertanian, kegiatan bisnis lain yang tidak ditinggali. Perumahan dapat dibangun di belakang tanggul kedua.

Dengan pendekatan seperti itu, hampir semua masyarakat terdampak setuju untuk direlokasi ke tempat yang baru. Bahkan masyarakat yang ada di zona biru (aman) juga ada yang minta di relokasi di kawasan pemumikiman yang baru karena lebih teratur, indah, dan menarik.

Desain tanggul utama teluk Palu yang panjangnya 4.2 km dan tingginya 6,2 m banyak diinspirasi dari ahli-ahli jepang yang telah menpraktekannya di Jepang pascabencana tahun 2011. Dan juga desain yang diterapkan di Palo Philipina tahun 2015 yang mana di atas tanggul utama ada jalan melingkar sehingga akses publik pemandangan ke arah laut tetap tersedia. Namun di Sulawesi Tengah untuk kawasan tertentu akan ditanami mangrove.

Dari apa yang langsung dilihat di Jepang dan mengikuti seminar di Bosai Forum Jepang, senin 11 September 2019 semakin banyak informasi terkait upaya upaya mengurangi korban karena tsunami.
Selanjutnya, penjelasan dan paparan konsep penanganan pascabencana dari Kepala Bidang Rekonstruksi Kota Hagashimatsushita, Kawaguchi Takafumi, telah dipaparkan sebelumnya saat berada di Balaikota, di lokasi Tanggul di pantai Suzaki dan Nagahama, kemudian ketika menjelaskannya di bekas Terminal Kereta api Nobiru, hingga mengunjungi SD dan kawasan relokasi warga di Nobiru baru.

” Untuk perbaikan dan perlindungan infrastruktur kami membuat tanggul pertahanan berlapis, dan merelokasi warga secara baik-baik berdasarkan musyawarah berkali-kali, ” singkatnya di forum seminar kemarin.
Selanjutnya pemateri terakhir adalah Kepala Bidang Rekonstruksi Kota Kamaishi Prefektur Iwate, Mr. Konno, menjelaskan bagaimana pemerintah setempat melakukan penanganan dan penanggulangan pascabencana. Langkah kebijakan strategisnya hampir sama dengan yang dilakukan Pemkot Hagashimatsushima.

Usai mengikuti seminar di World Bosai Forum yang dihadiri oleh berbagai negara dari Asia, Amerika Latin, Eropa dan Afrika di Universitas Tohoku Sendai, perjalanan kami dilanjutkan ke Kota Kesennuma salah satu wilayah terdampak tsunami. Rencananya, di kota ini kami akan mengunjungi bangunan SMA terdampak bencana gempa bumi dan tsunami, dan mengunjungi Museum peringatan bencana gempa bumi dan tsunami. Tetapi kami masih menginap semalam dulu di Hotel Rotten Inn di wilayah Kota Kensennuma.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.