Jamaah Sulteng Persiapan Tinggalkan Makkah

Sebanyak 750 Jamaah Ajukan Tanazul

- Periklanan -

MAKKAH – Sekira empat hari lagi tepatnya 28 Agustus 2019, jamaah haji asal Sulawesi Tengah yang tergabung kelompok terbang Balikpapan, akan meninggalkan Makkah al Mukarramah menuju Madinah al Munawwarah. Pasalnya, jamaah asal Sulteng tersebut belum melaksanakan Arbain di masjid Nabawi tempat Nabi Muhammad di makamkan.
‘’Kami bersama TPHI dan TPIHI melakukan pemeriksaan paspor jamaah sebelum meninggalkan Makkah al Mukarammah. Dijadwalkan pada 28 Agustus menuju Madinah untuk melaksanakan Arbain di Masjid Nabawi,’’ jelas Koordinator lapangan Kloter 07/BPN, H Mustamin Umar kepada Radar Sulteng.
Selama delapan hari di Madinah kata Mustamin, jamaah haji asal Sulteng akan melaksanakan arbain di Masjid Nabawi tempat Nabi Muhammad di makamkan. Arbain adalah salat 40 waktu tanpa terputus berjamaah di Masjid Nabawi. Saat ini kondisi jamaah di Makkah mulai berkurang. Konsentrasi jamaah haji asal Indonesia menuju Madinah karena pada umumnya jamaah haji dari Indonesia melaksanakan ibadah haji Tamattu. ‘’Jamaah haji asal Sulteng akan kembali ke Indonesia via Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. Tidak lagi lewat Bandar Udara King Abdul Aziz, Jeddah,’’ jelas H Mustamin Umar yang juga Ketua KBIH Babussalam, Palu.
Sementara pelaksanaan operasional penyelenggaraan haji sudah masuk hari ke-49 kemarin (23/4). Total jamaah haji meninggal mecapai 308 orang. Jamaah wafat terbanyak dari embarkasi Surabaya (SUB) dan Bekasi (JKS), masing-masing 49 orang.

Penyebab jamaah haji wafat terbanyak adalah karena penyakit jantung atau kardiovaskular sebanyak 97 kasus. Kemudian disusul penyakit pernafasan (respiratory) sejumlah 88 kasus. Selain itu juga ada penyakit terkait peredaran darah (circulatory diseases) mencapai 58 kasus.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Subhan Cholid menuturkan sampai saat ini masih banyak jamaah yang dirawat. Baik itu di klinik kesehatan haji Indonesia (KKHI) Makkah atau RS Arab Saudi. Tidak kurang dari 166 jamaah dirawat di KKHI Makkah. Kemudian juga masih ada 231 jamaah dirawat di RS Arab Saudi.

“Bagi jamaah yang sakit dan layak terbang, bisa memilih Tanazul,” katanya. Tanazul artinya mutasi kloter. Jadi jamaah dalam kondisi khusus, seperti sakit, bisa mengajukan Tanazul. Umumnya Tanazul adalah pemulangan yang dipercepat dari jadwal kloternya.

Subhan menjelaskan jumlah pengajuan tanazul sementara ini mencapai 750 orang. “53 orang diantaranya jamaah haji sakit dan pendampingnya,” katanya. Dia menjelaskan proses Tanazul jamaah haji sakit bisa sampai membutuhkan tiga kursi penerbangan atau lebih. Misalnya untuk jamaah yang hanya bisa menjalani penerbangan sambil berbaring.

- Periklanan -

Namun sampai saat ini proses tanazul jamaah haji wafat seluruhnya membutuhkan satu seat penerbangan. Sebab jamaah sakit yang ditanazulkan masih bisa duduk. Subhan menuturkan proses tanazul terkait dengan ketersediaan kursi kosong dalam setiap flight atau kloter.

Dia menjelaskan pengajuan tanazul banyak dilakukan oleh jamaah yang ingin kembali bergabung dengan kloternya. Contohnya adalah jamaah kloter SOC-96. “Kloter SOC-96 ini dulu saat berangkat ke Saudi adalah kloter sapu jagat,” katanya. Di dalam kloter ini banyak jamaah dari berbagai kabupaten atau kota di Embarkasi Solo. Kemudian setelah tiba di Makkah, mereka ingin pulangnya bergabung dengan kloter yang se-kabupaten atau se-kota.

Sementara itu Sekretaris Itjen Kemenag Muhammad Tambrin menyampaikan hasil evaluasi internal terkait penyelenggaraan haji 2019. Dia menuturkan pelayanan ibadah haji sampai setelah proses Armuzna berjalan sangat baik. Mulai dari akomodasi yang memenuhi kriteria minimal. Yakni minimal hotel bintang tiga.

Dia menjelaskan ada masukan soal tempat mencuci baju. Tambrin mengatakan hotel berbintang tiga ke atas memang tidak menyediakan tempat mencuci dan menjemur baju. “Sehingga jamaah tidak bisa mencuci baju. Adanya jasa laundry,” jelasnya. Dia berharap untuk musim haji berikutnya sosialisasi bahwa tidak ada tempat mencuci dan menjemur baju ini disosialisasikan sejak dari tanah air.

Sosialisasi lainnya adalah tidak adanya alat pemanas atau penghangat makanan di kamar hotel. Jamaah harus memahami kondisi ini. Jamaah diminta untuk segera menkonsumsi katering, supaya tidak basi saat dimakan. Tambrin lantas mengapresiasi adanya AC di tenda di Arafah. “Sehingga jamaah bisa nyaman berdoa,” paparnya. (*/hilmi/lib/jpg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.