Istri Lebih Banyak Gugat Cerai Ketimbang Suami

- Periklanan -

Ilustrasi (@jpnn.com)

PALU – Sengketa rumah tangga yang berujung pada perceraian di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1 A Palu mengalami tren peningkatan dari 2015 lalu.

Data menunjukan jumlah kasus perceraian yang diterima PA Kelas 1A Palu selama 2015 sebanyak 739 perkara. Dari 739 perkara tersebut, cerai yang diajukan oleh pihak istri sebanyak 547 perkara, sedangkan cerai yang diajukan oleh pihak suami 192 perkara. Artinya, cerai gugat atau dari pihak istri tiga kali lipat lebih banyak ketimbang cerai gugat atau yang diajukan dari pihak suami.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kota Palu, Agustinah Petta Nasse SH MH mengatakan, di 2015 kasus perceraian yang telah dikabulkan sebanyak 646 perkara, yang terdiri dari 486 cerai gugat dan 160 cerai talak.

“Kasus yang dikabulkan ini ada kasus yang diterima dari tahun sebelumnya dan di 2015 sendiri,” kata Agustinah, Kamis (3/8).

- Periklanan -

Faktor penyebab di 2015, lanjut Agustina, masih didominasi oleh perselisihan karena tidak ada keharmonisan sebanyak 336 kasus, tidak ada tanggung jawab 107 kasus, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 58 kasus, ekonomi 55 kasus, krisis ahklak 54 kasus dan cemburu 30 kasus.

“Perselisihan masih menjadi urutan teratas faktor penyebab perceraian setiap tahunnya,” sebut Agustina.

Sementara untuk 2016, Agustina menyebutkan, kasus perceraian yang diterima sebanyak 825 perkara, yang terdiri dari cerai gugat 593 perkara, sedangkan cerai talak 232 perkara. Kasus perceraian yang dikabulkan 2016, sebut Agustina, ada sebanyak 684 perkara dari 491 cerai gugat, dan 193 cerai talak.

“Sebagaian kasus faktor penyebabnya masih karena perselisihan secara terus menerus, di 2016 ada 201 kasus karena perselisihan, diikuti KDRT 92 kasus, meninggalkan salah satu pihak 74 kasus, tidak ada tanggung jawab 56 kasus, gangguan pihak ketiga 58 kasus, krisis akhlak 15 kasus,” jelas Agustina.

Sedangkan, pada awal bulan Januari hingga Juni 2017 kasus perceraian yang masuk untuk cerai gugat sebanyak 298 perkara dan cerai talak 99 perkara, dengan total jumlah kasus yang diterima 397 perkara. Menurutnya, penyebab utama perceraian umumnya masih karena kasus perselisihan yang tak kunjung reda, sehingga menimbulkan tidak adanya keharmonisan antara suami dan istri.

“Selama Januari hingga Juni PA juga telah mengabulkan 345 kasus perceraian. 345 kasus itu masih didominasi cerai talak yaitu sebanyak 251 perkara, sedangkan cerai gugat sebanyak 94 perkara,” pungkas Agustina. (cr2)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.