Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Isteri Tewas, Terdakwa Akui Sempat Aniaya

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi (@jpnn.com)

DONGGALA – Aifan (31), terdakwa kasus dugaan tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), di Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, telah menjalani pemeriksaan di Pengadilan Negeri (PN) Donggala, Senin (16/1) kemarin. Korban kekerasan terdakwa adalah istrinya sendiri Sanging alias Ani. Akibat kekerasan itu korban meninggal dunia. Dugaan kasus KDRT ini, terjadi 10 Juli 2016 lalu.

Sidang pemeriksaan terdakwa ini, dipimpin oleh hakim ketua Achmad Rasjid SH yang juga merupakan wakil ketua PN Donggala. Dihadapan majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum (JPU) serta kuasa hukumnya, terdakwa sedianya menerangkan apa yang dia lakukan terhadap istrinya hingga akhirnya istrinya ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamar.

Terdakwa membenarkan fakta fakta yang selama ini telah terungkap di persidangan. Seperti tindakan kekerasan mulai dari memukul hingga mencekik korban atau istrinya sendiri. Atau tindakan penganiayaan kekerasan yang terjadi pada Minggu malam atau awal permasalahan rumah tangga keduanya harus dipisahkan oleh kematian.

Hanya kejadian selanjutnya pada Senin malam hingga kemudian istrinya ditemukan sudah tak bernyawa di dalam kamar, pada Selasa dini hari, oleh terdakwa pun mengaku tidak mengetahuinya. Hal itu katanya, setelah kejadin Minggu malam, dihari Senin pagi dia sudah menegur istrinya, selanjutnya Senin malam terdakwa sempat berhubungan badan dengan istrinya.

“Saat saya masuk dan berbaring sambil memeluk istriku awalnya istriku menolak. Tapi kedua kalinya saya peluk dia tidak lagi marah dan kami berhubungan badan,” terangnya.

Kata terdakwa setelah melakukan hubungan badan itu, dirinya kemudia keluar dari kamar untuk tidur diruang tamu. Alasannya suasana di dalam kamar panas. Ketika keluar dari dalam kamar itu, istrinya sementara melanjutkan memberi asi kepada anak mereka. “Dari situ saya sudah tertidur. Saya terbangun nanti sekitar pukul 05.00, itupun nanti dibangunkan adik sama ibu saya. Saat sampai di kamar benar, saya dapati istriku sudah tidak sadarkan diri, saya coba bangunkan juga tidak sadar, setelah saya periksa nadinya ternyata sudah meninggal,” kata terdakwa menerangkan lagi.

Korban atau istri terdakwa sendiri berdasarkan fakta fakta dipersidangan ditemukan meninggal, Selasa di saat hari menjelang pagi.  Atau setelah terdakwa bersama korban melakukan hubungan suami istri pada malam harinya.

Mirisnya, saat mayat istrinya akan dikebumikan di Palu, terdakwa yang diduga sebagai pelaku utama malah tidak hadir dipemakaman. Alasanya tidak hadir karena takut ancaman. Selain itu juga karena tidak ada uang. Keterangan terdakwa ini sejatinya masih sangat penuh tanda tanya. Dalam perkara ini terdakwa dijerat dengan pasal 44 Ayat 1 dan 3 UU No 23 Tahun 2004, tentang penghapusan KDRT.

Sidang kasus KDRT ini selanjutnya akan digelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi ahli. (cdy)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.