Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Inspirasi dan Motivasi Meraih Beasiswa Studi di Luar Negeri (Bagian 1)

Oleh : Mochtar Marhum *)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

MELANCONG, berwisata dan tinggal di luar negeri dalam waktu yang relatif lama adalah impian banyak orang apalagi  jika tidak perlu mengeluarkan dana dari rekening orangtua atau rekening pribadi alias dibiayai oleh sponsor.

Tinggal di luar negeri dan mendapat kesempatan studi pada jenjang pascasarjana (S2 dan S3) dengan tunjangan beasiswa merupakan idaman dan cita-cita oleh banyak generasi muda di mana saja di belahan bumi ini termasuk di Indonesia.

Pengalamanku tinggal dan studi di Australia antara tahun 1988 dan 2005 sangat berkesan dan menjadi memori yang tak akan pernah terlupakan.
Saya menyelesaikan pendidikan SMA di kota kecil Tolitoli ibu Kota Kabupaten Buol Tolitoli Sulawesi Tengah tahun 1985.

MENAPAKI KARIR PENDIDIKAN
Setamat SMAN 1 Tolitoli saya langsung ke Makassar dan bercita-cita ingin masuk Fakultas Ilmu Sosial Politik UNHAS Jurusan hubungan Internasional sebagai pilihan pertama dan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris sebagai pilihan kedua jika tidak lulus pilihan pertama.

Ketika saya mengikuti tes Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU) di Universitas Hasanuddin (Unhas) tahun 1985 peserta tes waktu itu membludak banyak sekali sehingga panitia SIPENMARU UNHAS memamfaatkan beberapa gedung sekolah di Kota Ujung Pandang (Makassar). Waktu itu saya mendapatkan lokasi tes SIPENMARU di SDN Pembangunan gedungnya dekat dengan lapangan Karebosi.

Ketika sedang mengikuti tes, tiba-tiba seorang teman peserta yang duduk di belakang saya meminjam penggorok pensil alias penajam pensil. Dan pada waktu itu memang ada aturan tegas bahwa peserta SIPENMARU dilarang keras berbicara dengan teman peserta atau meminjam dan meminjamkan alat tulisnya kepada pesrta lain. Waktu itu petugas SIPENMARU mencatat nama dan nomor ujian kami dan masuk ke dalam berita acara.

Sejak itu saya merasa pesimis, kecewa dan yakin pasti saya tidak akan lulus karena dapat diskualifikasi. Akhirnya dugaan saya benar karena ketika pengumuman hasil SIPENMARU keluar nama saya tidak ada  dalam daftar yang lulus calon mahasiswa baru Unhas.

Jodoh saya untuk menjadi mahasiswa FISIP Unhas ketika itu pupus sudah dan waktu itu saya hampir masuk Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) tapi akhirnya saya berbalik arah dan putuskan ke Palu dan mengikuti tes Penerimaan Mahasiswa Baru lagi di UNTAD dan Alhamdulillah lulus dan diterima di FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra (Seni), Prodi Pend. Bahasa inggris.

Walaupun saya tidak menjadi mahasiswa FISIP ketika itu tapi saya berhasil meraih beasiswa bergengsi dari pemerintah Australia untuk program S2 (Masters) dan S3 Doctor of Philosophy (PhD) dalam bidang Kebijakan Bahasa dan Pendidikan (Language Policy and Education) merupakan konsentrasi dari Kajian Sosiolinguistik Makro.

Saya studi di Flinders University of South Australia pada Fakultas ELHT singkatan dari Faculty of Education, Law, Humanity and Theology. Lima Fakultas digabung menjadi satu yaitu Fakultas Pendidikan, Fakultas Hukum, Fakultas Humaniora dan Fakuktas Agama menjadi satu Fakultas dan Dekannya waktu itu berada di Fakultas Hukum . Tapi saat ini Fakultas di Almamater saya tersebut telah berubah jadi Faculty of Education, Psychology and Social Science.

Perguruan Tinggi di bawa Kemenetrian Agama seperti UIN, STAIN dan IAIN juga ada yang sudah mengikuti kebijakan seperti perguruan tinggi di Australia dan luar negeri lainnya yaitu menggabungkan beberapa Fakultas menjadi satu misalnya di IAIN Palu yang sekarang telah berubah status menjadi UIN juga ada yang telah menggabung tiga Fakultas menjadi satu fakultas hasil merjer misalnya Fakultas Ushuluddin, Fakultas Adab dan Fakuktas Dakwa telah digabung menjadi satu Fakultas yang diberi Akronim FUAD (Fakultas, Ushuluddin, Agama dan Dakwa).

Kebijakan ini mungkin terinspirasi dengan perguruan tinggi di luar negeri karena kenyataannya saat ini perguruan tinggi di bawa kementrian Agama tersebut banyak yang menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri.

Perguruan tinggi di Australia Fakultasnya relatif sedikit tapi yang banyak School atau College dan Department. Perguruan tinggi di sana juga sangat dinamis dan sangat fleksible karena Otonomi penuh dan setiap saat bisa merubah nomenklatur fakultas. Dan kini perguruna tinggi Indonesia yang terbesar dan berstatus BH (Badan Hukum) juga mulai mengikuti jejak perguruan tinggi di Australia yang sangat otonom tapi bedanya Fakultas Perguruan Tinggi di Indonesia terlalu banyak.

Juga hobi dan minat saya mengamati dan mengkaji isu-isu Sosial Humaniora bisa tersalurkan karena selama studi di Australia saya rajin mengikuti Seminar Internasional dan Simposium tentang isu-isu terkait yang saya minati dengan pembicara pakar dari berbagai belahan dunia. Saya juga bisa menyalurkan bakat saya sebagai penulis atau kolumnis lepas (freelance columnist).

Saya dulu tidak lulus masuk Unhas tapi mungkin semua di balik itu juga ada hikmanya misalnya dengan kembalinya saya saya ke kampung halaman di Sulawesi Tengah, saya bisa lebih mudah beradaptasi, berinvestasi sosial dan kultural di kota Palu ibukota Provinsi Sukawesi Tengah sehingga saya otomatis bisa dianggap bagian dari warga Sulawesi Tengah.

Saat ini kenangan dan cita-cita saya masuk Unhas masih tidak terlupakan tapi saya juga tetap optimis dan percaya diri bahwa ketidak lulusan saya menjadi mahasiswa Unhas mungkin telah di atur oleh yang maha kuasa.

Walaupun jodoh saya bukan jadi mahasiswa Unhas tapi akhirnya saya dapat jodoh seorang wanita alumni Fakultas Pertanian Unhas yang kini menjadi istri saya, ibu dari dua orang anak kami dan oma dari satu orang cucu kami.
Sampai saat ini saya yakin dan percaya ketidaklulusan saya menjadi mahasiswa Unhas mungkin bukan karena ketidakmampuan saya secara akademis tapi karena faktor nasib.

Saya tetap percaya dengan kemampuan akademis saya karena sejak pendidikan S1 (dalam negeri) S2 dan S3 (Luar Negeri) saya berhasil ikut berkompetisi meraih beasiswa yang sangat bergengsi melalui kompetisi yang sangat ketat dan berjenjang. Untuk bisa berhasil meraih beasiswa Australia misalnya seorang pelamar beasiswa harus bersaing secara ketat dengan ribuan perserta tes dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah saya bisa lulus hanya dengan sekali melamar dan ikut tes meraih beasiswa dalam setiap jenjang.

Pengalaman saya tinggal dan belajar di Australia dalam tiga program pada priode masa yang berbeda yaitu pertama mengikuti Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia (AIYEP) 1988, menyelesaikan program S2 (Masters) tahun 1998 dan menyelesaikan Program S3 (PhD) tahun 2005.

Kisah ini mungkin bisa menjadi warisan berupa cerita inspiratif buat generasi berikut yang punya cita-cita mengikuti jejak berburu beasiswa studi ke luar negeri tanpa membebani orang tua, keluarga bahkan negara secara finansial.

Dulu saya dan teman-teman pernah jadi pemburu beasiswa luar negeri tapi setelah selesai studi di Australia oleh Atase Pendidikan, Kedutaan Besar Australia dan  Lembaga Bantuan Pembangunan Australia untuk luar negeri, AusAID saya dan beberapa orang teman alumni dari berbagai provinsi di Indonesia sempat dipercayakan menjadi Duta Alumni dan Tim Promosi Beasiswa Australia untuk jenjang S2 (Masters) dan S3 (PhD).

Berawal dari pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di Australia tepatnya di Kota Brisbane ibukota negara bagian Queensland tahun 1988. Hingga proses pelatihan program pembekalan pra pemberangkatan (Predeparture Training) di Bali sebelum diberangkatkan ke Australia untuk melanjutkan studi Magister tahun 1997 dan juga PhD. tahun 2001.

Saya mengalami berbagai suka dan duka serta banyak macam pengalaman, kisah menarik dan juga cerita yang terasa lucu serta menggelikan.
Tahun 1988 kami 18 orang pemuda Indonesia dikirim ke Australia dalam rangka mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia.

Ketika baru beberapa hari berada di kota Brisbane perasaan saya dan teman-teman terasa kaya dalam mimpi karena mungkin baru pertama kali kami berkunjung ke luar negeri dan apalagi kami menyaksikan kota yang sangat indah gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi dan di mana mana orang bule lalulalang.

Australia lebih Eropa dari Amerika terutama dari aspek Demografi dan Kulur walaupun keduanya pada awalnya didominasi  penduduk keturunan inggris (Angloxason) dan negara-negara Eropa lainnya. Populasi Australia jauh lebih besar persentasinya masyarakat keturunan Eropa dibanding Amerika yang penduduknya lebih Multikuktur dan lebih majemuk hingga dikenal dengan julukan Meltingpot.

Kota Brisbane adalah ibu kota negara bagian Queensland yang juga dikenal dengan One Nation Party (Partai Kulit Putih Bersatu) dipimpin oleh Pauline Hanson, seorang janda nyentrik yang dikenal rasis dan konon anti imigran Asia.

Pauline Hanson politisi asal Kota Ipswich dekat kota Brisbane Australia, pernah mengeluarkan statemen yang menghebohkan bahkan satatemennya ini menjadi viral sampai ke luar negeri. Pauline pernah berkata bahwa Australia akan ditenggelamkan oleh pendatang imigran dari Asia yang jumlahnya terus bertambah.

Sebelumnya pada dekade tahun 1950an dan 1960an diterapkan Kebijakan White Policy yang melalui kebijakan ini membatasi secara ketat imigran non-eropa berimigrasi ke Australia. Tapi tahun 1966 kebijakan white policy yang dianggap rasis itu dihapus (Abolished).

Namun, kebijakan white policy pernah ditantang oleh kelompok migran non-eropa yang resisten. Mereka menganggap orang kulit Putih asal Eropa juga adalah pendatang dan penduduk asli Australia adalah suku Aborigine yang telah mendiami benua Australia secara turun temurun 4000 tahun.

Namun, armada pelaut Inggris sejak Abad ke 16 telah menjelajahi benua Australia. Sekitar abad ke 17 armada pelaut dari Inggris menginjakkan kakinya pertama di teluk Botany Bay di dekat Kota Sydney yang lokasinya berada sekitar gedung Opera House yang unik itu sekitar akhir.

Sebelum bangsa Inggris menginjakkan kakinya di Benua Kangguru, menurut sejumlah Dokumen sejarah Maritim Australia dan pernah ditulis dalam sebuah buku dan dibuatkan film dokumenter berjudul the Voyage to Marege. 

Pelaut Bugis Makassar sudah pernah datang ke Australia. Mereka pertama kali menginjakkan kakinya dan mendarat di Anharm Land wilayah Bagian Utara Australia (Australia Northen Territory ibukotanya Darwin).

Pelaut Bugis Makassar asal Sulawesi Selatan berlayar dengan kapal tradisional sejenis finisi sampai ke perairan Australia. Mereka bahkan tinggal beberapa bulan di wilayah Australia, berburu dan mengelola taripang hasil tangkapan. Konon mereka sangat akrab dengan penduduk Australia tersebut bahkan ada yang menikah.

Kemudian mereka kembali ke Sulawesi Selatan dan membawa orang Aborigine yang berkunjung ke Sulawesi Selatan. Adanya interkasi dengan suku Aborigine sehingga beberapa kosa kata Bahasa Aborigine ada yang berasal dari Bahasa Makassar. Seperti Badi (Pisau), Cella (Garam). Hampir setiap tahun diadakah kunjungan muhibah dan napak tilas perjalanan pelaut Bugis Makasar ke Australia.

Mantan pembimbing saya dulu waktu memgambil S3 (PhD) pernah bilang, dengan ilustrasi kalau ada 10 orang Australia sekitar 8 atau 9 orang merupakan keturunan Eropa dan 7 dari mereka merupakan keturun Inggris.
Seorang Sejarawan Australia pernah berkata bangsa kukit putih Australia sangat unik karena mereka bisa dijuluki dengan ungkapan “Orang Barat dari Selatan dan Orang Selatan dari Barat. Oleh sebab itu Australia juga punya julukan Australia Down Under karena kalau kita melihat bola Bumi (Globe) berada di bawah.

Dekade tahun 1980an dan 1990an gelombang imigran Asia terus bertambah baik imigran legal, pengungsi Vietnam dan Timur Tengah pencari Suaka maupun pendatang haram yang diseludupkan oleh manusia perahu dan berbayar.

SEKELUMIT PENGALAMAN LUCU DAN MENGGELIKAN
Baru beberapa hari berada di Kota Brisbane pada suatu sore yang cerah kami menyempatkan diri jalan-jalan di Kota Brisbane yang indah mengunjungi Mall dan suasana suasana yang asing dan baru bagi kami.
Kata seorang teman, “Saya mendengar orang Bule ngomong bahasa Inggris sangat cepat dan terkadang saya kurang faham apa yang mereka bilang karena mereka penutur asli itu ketika mereka ngomong bahasa Inggris cepat sekali, saya perhatikan mulut mereka kalau lagi ngomong mirip orang yang lagi makan pisang goreng panas-panas, demikian canda teman kami, Hehehehehehe.

Juga suatu hari ada teman counterpart pemuda Australia nanya ke seorang teman yang kebetulan lagi berada di tempat bus stop. Teman bule tersebut nanya, “How’re you going ?”, dijawab teman, “I am going by bus” ????????, si bule bingung karena yang dia maksud How’re you going artinya apakabar tapi teman kira si bule tersebut nanya, mau naik apa ?

Juga ketika tahun 1996 sebelum kami diberangkatkan ke Australia sebagai penerima beasiswa Australia untuk melanjutkan studi, kami mendapat training bahasa Inggris Akademik (TOEFL dan IELTS) di IALF Bali dan Kuliah Cross Culture Understanding dan pada suatu hari disaat pembekalan Mata Kuliah Cross Culture, seoarang dosen instruktur memberikan kesempatan diskusi tentang pemahaman lintas budaya.

Beliau bertanya, “Apa perbedaan antara budaya Indonesia dan budaya barat ?” Kemudian tiba-tiba seorang teman angkat tangan dan dia bilang, saya bisa jawab, Mam. Teman tersebut dengan lugu menjawab, “Kalau pemuda bule make love di depan publik tapi kalau pemuda indonesia terkadang make love sembunyi-sembunyi… Si instruktur orang bule bingung dan kelihatan agak grogi.

Teman tersebut mengira kata make love dalam bahasa Inggris berarti pacaran dan mungkin dikira hampir sama artinya make friend artinya berteman. Jadi teman tersebut kira make love artinya pacaran atau berkencan ???? sebab di Indonesia kata make love  yang artinya bercinta sering juga ada di lirik lagu-lagu pop dan dangdut dan seolah-olah maknanya bukan sesuatu yang tabu diucapkan.

BERAWAL DARI PROGRAM PERTUKARAN PEMUDA ANTARA BANGSA
Suatu kesempatan baik bisa mendapatkan peluang langka bagi kami yang berasal dari kawasan di luar wilayah yang sudah maju, dapat kesempatan bersaing mengikuti tes seleksi Program Pertukaran Pemuda Australia Indonesia 1988/1989.

Sebelumnya sempat mengikuti tahapan seleksi ketat di tingkat lokal provinsi Sulawesi Tengah dan kemudian seleksi akhir di Jakarta.
Cita-citaku untuk mendapatkan pengalaman tinggal dan studi di luar negeri itu berawal dari tahun 1980-an.

Mulanya saya sempat menyaksikan penempatan Program Pertukaran Pemuda Antara Bangsa di Kampungku sehingga itupula yang menginspirasi saya untuk bertekad belajar giat menguasai bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan terkait yang sangat dibutuhkan dalam program pertukaran pemuda antara bangsa agar bisa seperti mereka melancong ke luar negeri secara gratis.
Padahal sebelumnya saya kurang berminat belajar dan menguasai bahasa Inggris.

Dulu di zaman angkatan kami mata pelajaran bahasa Inggris, Matematika dan ilmu eksakta lainnya dan mungkin dianggap mata pelajaran paling sulit dan menjadi momok menakutkan di kalangan siswa lerting kami karena guru-gurunya ketika itu selalu meberi tugas kepada siswa langsung main nunjuk dan saat tidak mampu menjawab tentu merasa malu dan apalagi  ditegur keras oleh guru.

Bermula sekitar tahun 1982/1983 ketika itu saya masih berstatus siswa kelas 1 SMA N. Tolitoli Sulawesi Tengah. Dan penempatan Program Pertukaran Pemuda Indonesia Canada kebetulan di Kabupaten Tolitoli (dulu Kabupaten Buol Tolitoli).

Sejumlah kurang lebih 70 orang Pemuda terdiri dari sekitar 35 Pemuda Canada (Bule) dan 35 Pemuda Indonesia sebagai Counterpart mengikuti program di Indonesia setelah selesai mengikuti Program fieldwork di Canada selama 9 bulan, mereka memboyong pemuda Canada untuk mengikuti Program field work dan work experience di Indonesia.

MISPERSEPSI PELUANG STUDI KE LUAR NEGERI
Saya merasa bersyukur karena bisa melancong ke luar negeri secara gratis dan mendapat kesempatan tinggal dan kuliah di negara maju dan makmur tanpa harus mengeluarkan banyak duit pribadi alias minus sponsor finansial Ortu.

Banyak yang bilang peluang untuk tinggal dan belajar di luar negeri bagi warga +62 dulu dan sampai sekarang hanya bisa dinikmati oleh anak-anak dari latar belakang keluarga yang orangtuannya kalau bukan pengusaha sukses, pasti anak seorang penguasa kaya.

Kesan ini juga mendapat pembuktian nyata waktu saya berada di Jakarta dan Denpasar Bali. Dan kebetulan waktu itu ada yang mengetahui bahwa saya pernah tinggal dan kuliah di Australia, mereka langsung berkesimpulan bahwa saya anaknya orang kaya.

Kesan ini biasanya banyak dari kalangan masyarakat awam yang kurang gaul dan minus informasi tentang peluang meraih beasiswa luar negeri.
Pernah satu waktu pengalaman saya waktu di Bali dan di Jakarta. Seorang sopir taxi dan resepsonis hotel telah mengetahui bahwa saya lagi tinggal dan studi di Australia. Kemudian mereka sempat bilang bahwa saya anaknya bos kaya di Sulawesi, mereka menyangka orangtua saya orang kaya raya dan mampu menyekolahkan saya sampai di luar negeri.

JADI PEMBURU BEASISWA
Tahun 1997 saya mendapat kesempatan meraih beasiswa untuk Program S2 (Masters) dengan sponsor beasiswa ASTAS AusAID Australia dan kemudian hanya dalam waktu sekitar dua tahun setelah menyelesaikan studi S2 di Australia bisa kembali mendapat kesempatan meraih beasiswa S3 (PhD.) dengan Sponsor beasiswa ADS AusAID Australia tahun 2001.

Semuanya persyaratan untuk mendapatkan beasiswa mampu terpenuhi dan semua tahapan seleksi yang sangat ketat dapat dilalui.

Waktu itu berhasil ikut kompetisi nasional menyingkirkan ribuan pemburu beasiswa studi ke luar negeri yang punya kemampuan akademik dan pengalaman yang relatif sama bahkan ada yang punya kemampuan akademik di atas rata-rata tapi bernasib sial tersingkir dari daftar calon penerima beasiswa Australia yang dinyatakan memenuhi persyaratan alias diterima (Accepted).

Walaupun saya belum pernah punya pengalaman melamar beasiswa ke luar negeri sebelumnya, saya pernah punya pengalaman meraih beasiswa dari Pemerintah Indonesia ketika masih berstatus mahasiswa Program Sarjana (S1) di Universitas Tadulako, salah satu perguruan tinggi negeri di Kawasan Timur Indonesia.

Saya mendapat Beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID) dari Dirjend Pendidikan Tinggi Kementrian Dikbud (Depdikbud). Dan beasiswa TID ini yang telah memberikan tiket gratis kepada saya dan teman-teman diangkat menjadi dosen berstatus PNS di Perguruan Tinggi tanpa melalui tes CPNS.
Sekitar empat tahun setelah terangkat jadi dosen PNS di Universitas Tadulako (Untad) Palu, saya dan teman-teman dosen muda ketika itu bergairah dan punya motivasi tinggi untuk berburu beasiswa studi ke luar negeri.

Waktu itu informasi tentang  beasiswa tawaran beasiswa ke luar negeri masih sulit diakses beda dengan era Industri 4.0 seperti saat ini akses informasi tentang tawaran beasiswa ke luar negeri sangat mudah diperoleh berbagai plaform media social di internet dan laman internet dari kedutaan besar negara-negara sahabat.

Kalaupun anda ingin dengan muda mendapatkan informasi beasiswa pada saat itu, anda harus rajin ke kampus dan bersahabat dekat dengan pimpin fakultas atau Ketua Jurusan karena tawaran beasiswa biasa ditujukan Lagsung pada pimpinan universitas kemudian turun ke pimpunan fakultas.
Saya mendapatkan informasi dan formulir beasiswa Astas AusAID Australia dari seorang sahabat dekat di Fakultas pada tahun 1996 dan kemudian saya memgisi formulir beasiswa, melengkapi semua persyaratan beasiswa dan kemudian memasukkan lamaran beasiswa Australia.

Alhamdulillah hanya dalam satu kali kesempatan melamar beasiswa Progrm Magister (S2) ke Australia lamaran saya diterima. Saya beruntung dibandingkan dengan teman-teman lain yang berkali-kali melamar beasiswa tapi selalu gagal. Hampir semua tawaran beasiswa dari luar negeri mereka lamar tapi gagal. Sama dengan teman-teman lain, saya juga pernah melamar beasiswa Amerika, Jerman dan Jepang tapi jodoh beasiswa justru jatuh ke negeri Kangguru.(BERSAMBUNG)

*) Penulis adalah akademisi Universitas Tadulako, penulis lepas (freelance columnist), pegiat media sosial dan jurnalisme warga (Citizen Journalism), alumni Masters dan PhD dari Flinders University of South Australia.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.