Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Insiden di Luwuk, Murni Pidana, Tak Berkaitan dengan SARA

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Massa membakar ban bekas dan kayu sebagai aksi protes dengan cara memblokade jalan di Luwuk, Selasa (22/8). (Foto: Steven Laguni)

BANGGAI– Aksi blokade di sepanjang jalan Urip Sumoharjo, mulai dari pertigaan tugu burung maleo atau tepatnya depan kantor sentral Sulawesi Luwuk, Kelurahan Jole, hingga perempatan kantor perusahaan rokok gudang garam Kelurahan Maahas, Kecamatan Luwuk Selatan, oleh ratusan warga Kelurahan Jole, Selasa (22/8) malam hingga Rabu (23/8) kemarin, tidak berkaitan dengan SARA. Hal itu ditegaskan Wakil Kepala Kepolisian Resort (Wakapolres) Banggai, Kompol Doni Prakoso.

“Kasus ini tidak berkaitan dengan SARA melainkan pidana murni,” tegasnya menjawab pertanyaan sejumlah wartawan di lokasi blokade, Selasa (22/8) malam.

Menurut Doni, Nurcholis Saputra Dayanun merupakan korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh beberapa pemuda di kompleks eks kantor UPT Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, Kelurahan Mangkio, Kecamatan Luwuk, Senin (21/8) dinihari.

Meskipun Doni tidak menyebutkan nama ataupun inisial pelaku penganiayaan, tapi yang pasti dengan tegas dia mengatakan pelaku penganiayaan ada 5 orang, yang terdiri dari 4 orang berstatus tersangka dan 1 orang masih berstatus saksi.

“Empat orang akan kami naikan statusnya sebagai tersangka dan satu masih dalam pemeriksaan sebagai saksi,” bebernya.

Lanjut Doni, kini para pelaku penganiayaan telah diamankan di ruang tahanan mapolres Banggai dan akan tetap menjalani proses hukum, sehingganya dia berharap agar keluarga, kerambat korban penganiayaan dan seluruh masyarakat Kabupaten Banggai dapat mempercayakan kepada kepolisian resort Banggai untuk menyelesaikan kasus tersebut. Apalagi saat ini para tersangka dijerat dengan pasal penganiayaan berat yang ancaman pidana kurungan penjara lebih dari 5 tahun.

“Harapan kami, serahkan masalah ini kepada aparat keamanan untuk menyelesaikannya. Kami tetap transparan selama proses hukum berlangsung. Kini para tersangka kami jerat dengan pasal penganiayaan berat yang ancaman hukuman pidana kurungan penjara lebih dari 5 tahun,” tutupnya.

Sementara dari pantauan Radar Sulteng hingga Rabu (23/8) sore kemarin, kondisi Kota Luwuk sudah kondusif. Arus transportasi lalu lintas ke dan dari jalan Urip Sumoharjo, yang menjadi pusat pemblokiran dan pembakaran ban oleh warga sudah membaik.

Sementara itu, mendengar adanya aksi pemblokiran jalan oleh warga Jole di sepanjang jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Jole, Kecamatan Luwuk Selatan, spontan Bupati Banggai, Herwin Yatim berniat untuk mendatangi kumpulan massa yang berkonsentrasi di depan pertigaan ruko Lutos.

Niat baik itu disampaikan kepada Wakil Bupati Banggai, Mustar Labolo dan Ketua DPRD Banggai Samsul Bachri Mang bersama unsur forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda, red) Kabupaten Banggai lainnya. Sekira pukul 23.00 wita, Selasa (22/8) niat itu tertunda disebabkan ada informasi bahwa warga kelurahan Jole akan datang ke rumah jabatan orang nomor satu di kabupaten itu. Sejam lebih menunggu, ternyata massa yang ingin keadilan atas aksi penganiayaan berat yang dilakukan oleh beberapa pemuda kelurahan Mangkio, Kecamatan Luwuk tersebut, tidak kunjung datang. Akhirnya sekira pukul 00.45 Wita dini hari, Rabu (23/8) kemarin, Bupati Herwin Yatim memutuskan untuk mendatangi dan berhadapan langsung dengan para pendemo dan keluarga korban penganiayaan.

Keputusan itu ikut diamini oleh Wakil Bupati Banggai Mustar Labolo, Ketua DPRD Kabupaten Banggai Samsul Bachri Mang, Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Inf Sapto Irianto, Kajari Banggai Ramdhanu Dwiyantoro dan Wakapolres Banggai, Kompol Deni serta beberapa tokoh adat dan tokoh masyarakat Saluan seperti, Fuad Muid dan Murad Nasir.

Ketika mobil innova warna hitam bernomor polisi DN 1 C plat merah tiba di lokasi utama blokade bersama beberapa mobil lainnya, warga pun sontak berteriak meminta keadilan kepada orang nomor satu di daerah ini.

Tuntutan warga dan keluarga korban penganiayaan hanya dua, yaitu mengadili pelaku penganiayaan terhadap saudara mereka dan mengusir serta memulangkan seluruh warga masyarakat pendatang, khususnya warga Muna dan Buton, Sulawesi Tenggara, yang berdomisili di dalam kota Luwuk.

Keinginan pertama yang disampaikan massa saat itu langsung diamini. Waka polres langsung mengatakan akan memproses pelaku penganiayaan sebagaimana aturan yang berlaku. Namun keinginan kedua warga Jole, tidak bisa dipenuhi. Sehingga membuat para pendemo terus berteriak untuk mengusir. Akibat tidak ada kesepakatan, maka diputuskan Bupati Banggai, Herwin Yatim bersama lainnya mendatangi rumah duka, yang berada tidak jauh dari lokasi pembakaran ban.

Di rumah sederhana yang terbuat dari papan itu, Herwin, Mustar dan Bali Mang bertemu dengan Kakak kandung almarhum, Yudi Dayanun dan keluarga lainnya. Tidak banyak yang dibicarakan, intinya adalah pemerintah daerah kabupaten Banggai menyatakan turut berduka cita atas kejadian tersebut dan akan mengawal proses hukum terhadap pelaku penganiayaan.(stv)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.