Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ini Penyebab Banyak Ikan Mati di Danau Sibili

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Beberapa ekor ikan ditemukan mengapung di Danau Sibili kemarin. Kematian ikan juga membuat resah warga sekitar. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Danau Sibili adalah satu-satunya danau yang ada di Kota Palu. Tapi sayang, belakangan ini airnya diduga telah tercemar racun.

Pasalnya, beberapa hari terakhir ditemukan ikan di danau yang terletak di Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Tawaeli, terlihat mati dan mengapung.

Salah seorang warga di sekitar Danau Sibili, Ilham mengatakan, kematian ikan di danau itu mulai tampak sejak dua pekan lalu. Dia bersama warga lainnya mengaku heran dengan kejanggalan ini. Selain karena baru terjadi pertama kalinya, ikan di danau juga menjadi konsumsi warga sekitar.

“Warga sini, sering mancing di situ (Danau Sibili, red). Orang kecamatan lain juga biasa kemari. Biasa juga ada yang dari Sigi. Cuma ini sudah banyak ikannya mati,” terang Ilham di kediamannya yang berjarak sekitar 200 meter dari Danau Sibili, kemarin (18/10).

Ikan-ikan yang mati mengapung di atas air danau, lanjut Ilham, sudah dibersihkan warga untuk menghilangkan bau tak sedap bangkai ikan. Sedangkan sebagian lainnya yang tidak bisa dibersihkan menjadi santapan burung-burung yang acapkali mencari makan di tepian danau.

Pantauan di danau itu, di pinggiran danau terlihat ikan-ikan mujair khas Danau Sibili mengapung. Bau air juga terasa kurang sedap, ditambah dengan warna air yang dominan berwarna hijau.

Lurah Pantoloan, Ramli SE MAdm KP, ditemui di kantor kelurahan membenarkan banyaknya ikan mati di Danau Sibili. Dia mengaku sudah mendapat laporan dari warganya terkait matinya ikan-ikan itu.

“Ini kita duga diracun. Karena di danau situ hanya ada dua rumah dan jarang ditempati. Jadi kalau malam tidak ada yang lihat-lihat,” sebut Ramli.

Dugaan diracun, lanjut Ramli, karena sebelumnya tidak ada hal serupa terjadi. Selain itu, Ramli menduga orang yang meracun air danau karena dipicu larangan menangkap ikan menggunakan jaring atau pukat.

“Ikan ini-kan untuk siapa saja. Asalkan dipancing, jangan dipukat. Sekarang sudah diterapkan aturan givu (sanksi adat, red) kalau ada yang kedapatan pakai jaring. Mungkin mereka jengkel dengan aturan,” duganya.

Terkait air yang masuk ke danau, jelas Ramli, berasal dari Sungai Lambagu, sehingga kematian ikan berasal dari sawah warga, hal itu sulit diterima. “Airnya dari Sungai Lambagu, masuk ke saluran di drainase hingga ke dalam danau. Air dari Sungai Lambagu juga mengalir ke persawahan warga. Tapi tidak ada air dari sawah masuk ke danau,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Kerusakan dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan (P2KPKL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ir Tinus Siampa menerangkan, pihaknya sudah melakukan pantauan langsung ke Danau Sibili berdasarkan aduan warga yang menyatakan banyaknya ikan yang mati. Dari hasil kunjungannya ke Danau Sibili bersama Dr Fadli yang merupakan akademisi Universitas Tadulako sekaligus Tim Konservasi Kota Palu, penyebab kematian ikan-ikan tersebut akibat blooming.

“Blooming itu, kematian ikan disebabkan kekurangan oksigen karena meningkatnya alga atau plankton di dalam danau,” imbuh Tinus.

Peningkatan alga di dalam Danau Sibili, kata Tinus, dikarenakan hujan yang lebat. Sehingga membawa nutrien-nutrien dari sawah hingga masuk ke dalam danau. Tinus menjelaskan, di sawah, ketika petani memupuk padi, di pinggir-pinggir sawah ada tersisa nutrien-nutrien pupuk.

“Nutrien pupuk itulah yang terbawa bersama air hujan hingga masuk ke dalam danau. Banyaknya nutrien di dalam danau mengakibatkan meningkatnya pertumbuhan alga. Alga ini ketika siang, menghasilkan oksigen karena ada matahari. Namun saat malam, membutuhkan oksigen,” jelas Tinus.

Makanya, karena banyaknya alga di Danau Sibili, mengakibatkan oksigen di dalam air berkurang. Karena juga digunakan alga-alga yang berada di dalam danau.

“Karena oksigen berkurang, makanya ikan banyak yang mati karena tidak bisa bernafas. Hal ini juga terlihat dari pengakuan masyarakat yang membenarkan matinya ikan banyak terjadi saat malam hari,” ucapnya.

Sekalipun demikian, Tinus juga menegaskan bahwa air di danau tersebut tidak tercemari racun. Sehingga sekalipun ikan itu sudah mati, masih layak untuk dikonsumsi.

“Airnya tidak tercemar, hanya karena kekurangan oksigen. Ini bisa disiasati dengan pembuatan kincir sehingga oksigen bisa masuk ke dalam air. Namun tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kejadian seperti ini juga tidak akan berlangsung lama. Karena nutrien itu hanya terbawa saat air deras yang membawanya masuk ke dalam danau,” pungkasnya. (saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.