Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Ini Penjelasan BMKG Penyebab Kekeringan di Sulteng

PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Klas II Mutiara Palu menyatakan terdapat gangguan tropical cyclone atau tekanan rendah di wilayah Filipina sehingga menarik seluruh masa udara. Masa udara basah terkumpul di wilayah bertekanan rendah tersebut. Salah satu dampaknya mengakibatkan wilayah Sulawesi Tengah cenderung kering.
“Harusnya sudah ada hujan, cuman masa udara tertarik semua ke sini. Jadi karena tekanan rendah itu wilayah Sulteng berdampak kering,” kata Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Klas II Mutiara Palu, Moh Fathan kepada Radar Sulteng belum lama ini.
Tropical cyclone atau tekanan rendah tadi lanjut Fathan sangat berpengaruh sekali pada kekeringan, bahkan hampir di seluruh wilayah di Indonesia merasakan dampak dari tropical cyclone ini. Pola angin saat ini berhembus dari Benua Australia yang identik dengan kering, sehingga berdampak kekeringan di wilayah Indonesia. “Makanya banyak kebakaran,” singkatnya.
Di Sulteng sendiri dari pengamatannya dengan masa udara yang tertarik tadi munculnya belokan angin di atas wilayah Sulteng. Terkadang jika ada belokan angin ini akan berdampak pada cuaca buruk. Akan tetapi, meskipun ada belokan angin tadi, tidak juga berpengaruh pada turunnya hujan sama sekali. “Karena memang masa udaranya kering. Masa udara yang dibawa ini dari Timuran, masa air di udara sangat kurang sekali,” ungkapnya.
Namun Fathan memprediksikan, secara umum di Sulteng akan memasuki musim hujan di awal Oktober. Sehingga kemungkinannya akhir bulan September dan awal bulan Oktober adalah masa peralihannya secara umum. Tetapi ini dilihat kembali, apakah ada gangguan siklon. Misalnya masih ada tropical cyclone yang di Filipina kemungkinannya kondisinya masih akan kering. Jadi kita imbau masyarakat itu yang di daerah pertanian tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi akan membesar, “Kalau untuk wilayah Palu sendiri karena tidak ada perbedaan kemarau dan hujan agak susah memprediksinya,” terangnya.
Dia mengakui, Kota Palu memiliki keunikan tersendiri. Karena dibandingkan dengan Nusa Tenggara Timur yang diketahui sumber airnya kurang dan malah biasa dilanda kekeringan, tetapi untuk curah hujan tahunannya itu lebih tinggi dibandingkan dengan Kota Palu sendiri setiap tahunnya. “Jadi Palu ini unik sekali, mungkin faktor geografisnya jadi awan-awan itu cuman tumbuh di sekitar pegunungan,” pungkasnya (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.