Ini Pengakuan Saksi dalam Sidang Dugaan Malapraktik di RS Anutapura

- Periklanan -

PALU – Mohammad Ebtawan, suami dari Almarhumah Nurindah Restuwati, pasien korban dugaan malapraktik yang terjadi di RSU Anutapura Palu, Agustus 2016 silam, bersaksi di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Rabu (17/1).

Suami dari korban dugaan malapraktik, Mohammad Ebtawan saat memberikan kesaksian di hadapan hakim, pada sidang yang digelar Rabu (17/1), di Pengadilan Negeri Palu. (Foto: Sudirman)

Dugaan malapraktik ini menjerat dokter spesialis kebidanan dan kandungan di rumah sakit tersebut, yakni terdakwa Heryani Parewasi.

Dokter inilah yang menangani pasien Almarhum Nurindah Restuwati. Meninggalnya pasien karena pendarahan aktif diduga akibat tindakan malapraktik yang dilakukan terdakwa Heryani Parewasi. Ebtawan satu dari dua saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) hari itu.

Ebtawan menerangkan, fakta sekaitan dengan apa yang dialaminya bersama istrinya yang harus menjadi korban malapraktik. Katanya, peristiwa itu bermula pada 15 Agustus 2016. Istrinya pasien Nur Indah Restuwati ke RS Anutapura Palu untuk memeriksakan kandungan. Pertama dirawat di IGD kemudian dilakukan rawat inap di salah satu ruangan VIP rumah sakit tersebut. “Saat itu, belum terpikirkan kalau istriku benar-benar akan melahirkan,” katanya di dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, H Aisa H Mahmud SH MH.

Sebagai suami pasien, kemudian saksi menggunakan haknya menunjuk dokter Djemy yang akan menangani istrinya. Karena sebelumnya pernah juga menangani pasien saat melahirkan anak pertama dan kedua, termasuk yang menangani kehamilan anak ketiga pasien (korban). “Hanya salah satu dokter saat itu, mengatakan kalau dokter Djemy tidak ada. Dan tidak boleh menunjuk dokter Djemy apa tidak ada pengantar dari dokter Djemy,” tuturnya.

- Periklanan -

Selanjutnya saksi mendapatkan penyampaian dari pihak RS saat itu, bahwa yang akan menangani istrinya, adalah dokter spesialis yakni terdakwa Heryani Parewasi. Namun hingga diberitahukan kalau istrinya akan dioperasi, saksi Ebtawan mengaku belum pernah mendapatkan penjelas tentang kondisi istrinya dari terdakwa.

“Sejak itu, saya juga belum pernah melihat dan bertemu dokter Heryani Parewasi (terdakwa). Kecuali nanti setelah istri saya dipindahkan dari ruang operasi ke ruang observasi, itu pun malam sekitar pukul 22.00 wita, karena beberapa jam sesudah operasi istri saya tidak sadarkan diri,” akunya.

Mengenai tindakan operasi saksi Moh Ebtawan mengaku menyetujui dan menandatanganinya, hanya untuk operasi sesar dan ikat kandungan. Meskipun persetujuan dua tindakan inipun hanya dilakukan dalam satu surat persetujuan sebagaimana disodorkan pihak rumah sakit. Padahal setiap tindakan harus disertai surat persetujuan masing-masing.

“Operasi dilaksanakan 16 Agustus 2016. Saya menandatanganinya dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Harapan saya saat itu istri saya benar benar mendapatkan pelayanan yang sebaik-baiknya,” terang saksi.

Setelah operasi aku Ebtawan, sang istri yang kemudian dipindahkan ke ruang observasi atau pemulihan, namun  kondisinya malah semakin kritis dan tidak sadarkan diri. Di ruangan inilah dia baru mengetahui terdakwalah yang menangani istrinya. Di ruang ini juga dia kemudian mendapatkan penjelasan terkait adanya tindakan kuret yang dilakukan terhadap istrinya tanpa melalui persetujuannya. “Untuk meyakinkan hal itu saya kemudian meminta rekam medik hasil penanganan istri saya dari rumah sakit. Teryata ada tindakan operasi yang dilakukan tanpa persetujuan saya,” tuturnya

Dari sejak itu, kondisi istrinya terus menurun dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus, Nurindah meninggal dunia karena kehabisan darah. “Pagi sekitar jam 07.00 wita istri saya meninggal dunia,” tutupnya. Terdakwa Heryani Parewasi tak berkelit terhadap keterangan-keterangan saksi ini. Selanjutnya yang diperiksa saksi dari pihak RSU Anutapura Palu namun pemeriksaannya tidak lama. Sidang lanjutan perkara ini akan dilanjutkan pekan mendatang, masih dengan tahap pembuktian agenda pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum. (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.