Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ini Pengakuan Praja IPDN, Korban Surat Rapid Tes Palsu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Peristiwa yang menimpa 18 praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tentunya sangat merugikan bagi mereka. Pasalnya seluruh jadwal yang sudah mereka buat kini harus tertunda, termasuk kembalinya mereka untuk menimba ilmu di IPDN harus ditunda karena dokumen kesehatan yang mereka miliki dinyatakan palsu oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Sis Al – Jufri Palu, Kamis (11/2/2021).

Salah satu Praja IPDN angkatan 31, Raihan Qubays kepada Radar Sulteng mengaku dalam peristiwa ini, dia dan 17 rekanya merupakan korban oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Dirinya juga megatakan berdasarkan informasi yang diterima dari salah satu orang tua rekanya bahwa ada petugas covid19 yang bisa melayani dirumah olehnya untuk meminimalisir penyebran virus ditempat keramaian, dia dan rekannya memutuskan untuk melakukan rapid tes disalah satu rumah rekannya yang juga masuk dalam rombongan 18 praja IPDN.

“Kita dapat arahan itu, dari pada kita bergerombol test covid, jadi kita putuskan disatu rumah biar petugasnya yang datang. Petugas ini mengaku dari Dinas Kesehatan. Jadi kita juga ikut prosedurnya seperti hidung ditusuk dan yang lainnya” bebernya Kamis sore.

Lebih lanjut kata Raihan, dia dan rekanya tidak mengetahui secara pasti oknum petugas tersebut berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi atau Kota. Reihan pun belum menaruh curiga karena dalam amatannya perlengkapan yang dibawa oknum petugas itu lengkap seperti yang ada disejumlah klinik kesehatan di Kota Palu.

“Alatnya lengkap, prosedurnya juga sama seperti diklinik. Pakaian juga lengkap terus ada ID card Cuma saya tidak terlalu perhatikan dari Dinas Kesehatan mana karena tulisannya kecil. Karena takut berantakan suratnya jadi kita kumpul sama satu orang biar satu kali verifikasi. Jadi kemarin kita tidak liat suratnya, tau-tau pas di sana ternyata palsu,” katanya.

Usai memberikan keterangan kepada pihak Polsek Palu Selatan, Raihan menuturkan bahwa dari hasil keterangan polisi dia dan 17 rekanya tidak terbukti memalsukan surat tersebut secara sengaja. Pelaku pemalsuan kata Raihan juga sudah dimintai keterangan oleh pihak polsek dan siap untuk bertanggung jawab dengan mengganti uang tiket serta memperbaharui surat rapid test yang asli.

“Jadi kita jatuhnya korban, dari Kapolsek Palu Selatan. Itu pernyataan langsung dari kapolsek palu selatan yang hubungi kita tadi. Jadi dari kapolsesk menyarankan kami untuk melakukan rapid test ditempat lain,” tambahnya.

Atas penundaan itu, Raihan juga telah melaporkannya kepada pihak kampus dan rencananya akan berangkat pada Jumat (12/2). Ke 18 praja ini juga telah kembali melakukan rapid tes dan semuanya negatif. Secara pribadi Raihan juga mengaku kecewa dengan komentar-komentar yang ada disosial media yang mengatakan mereka terlibat dalam pemalsuan dokumen kesehatan agar mempermudah untuk bisa keluar Kota.

“Jujur atas kometar-komentar itu kan yang mengatakan kami ini mau tau beres atau cari jalan pintas. Itukan menjelekan-jelekan kami, istilahnya kita kan putra daerah tapi dipermalukan begitu kan tidak bagus. Padahal kita ini korban,” tandasnya (win)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.