Industri Nikel dan Gas Menjadi Penopang Ekonomi Sulteng

Pascabencana Pertumbuhan Ekonomi Sulteng di Angka 6,7 Persen

- Periklanan -

PALU – Tujuh bulan pasca Bencana gempa bumi yang melanda Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong pada 28 September 2018, sempat membuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah merosot, kini mulai tumbuh.
Secara umum dan secara bertahap pertumbuhan ekonomi Sulteng kembali pulih dan terus tumbuh. Pascabencana pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan II 2019 diperakirakan membaik pada kisaran angka 6,3-6,7 persen.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah, Miyono ditemui, Rabu siang (22/5) mengatakan, salah satu penopang ekonomi, sehingga pascabencana pertumbuhan ekonomi di Sulteng tidak begitu merosot, salah satunya pendukung adanya perbaikan sektor konsumsi rumah tangga yang sebelumnya sempat melambat. Selanjutnya tingkat investasi yang semakin meningkat seiring tahap rekonstruksi yang mulai berjalan secara masif dan juga adanya peningkatan produksi pertambangan di bidang nikel dan migas. “Memang kalau untuk wilayah terdampak bencana Palu, Sigi, Donggala dampaknya ekonomi khususnya konsumsi awal-awalnya sangat terasa,” ujarnya.
Namun secara umum untuk di Sulteng pertumbuhan ekonominya relatif tumbuh. Pertumbuhan ekonomi Sulteng tidak begitu merosot karena ikut ditopang oleh sektor industry, di antaranya industry nikel PT. IMIP di Kabupaten Morowali, industri gas PT. DSLNG di Kabupaten Banggai dan industri amonia PT. Panca Amara Utama di Kabupaten Banggai. Selain itu juga ditunjang pada sektor pertanian dan perkebunan. “Keberadaan industri-industri yang ada di wilayah Sulteng, khususnya di wilayah Timur Sulteng memang tidak bisa dimungkiri menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di Sulteng,” ujarnya.
Harus juga diakui, khusus untuk di wilayah terdampak bencana yakni, Palu, Sigi, Donggala untuk pemulihan secara total tidak bisa hanya dengan waktu satu atau dua tahun. Dibutuhkan waktu yang cukup lama, lima tahun mungkin lebih. Namun, walaupun berjalan lamban, namun pertumbuhan-pertumbuhan di beberapa sektor khususnya sektor konsumsi mulai menggeliat kembali. Hanya saja beberapa sektor jasa seperti perhotelan, pusat-pusat perbelanjaan belum begitu maksimal berjalan. “Yang paling penting saat ini pascabencana, khususnya di beberapa wilayah terdampak bencana beberapa sektor sudah lumayan bangkit,” jelasnya.
Miyono menambahkan, yang harus disiapkan untuk bisa membuat investor untuk mau berinvestasi di Sulteng, adalah menyiapkan sumber daya listrik yang memadai. Menurutnya di Sulteng salah satu permasalahan mendasar adalah masih kurangnya sumber energy listrik, sehingga para investor masih mempertimbangkan untuk berinvestasi di wilayah Sulteng. Para investor yang ingin membangun industri tentu membutuhkan infrastruktur memadai, salah satunya kesiapan sumber daya energy listrik. Karena jika menggunakan mesin diesel sendiri, tentu akan menggunakan cost yang cukup besar bagi industri. “Jujur saja kita di Sulteng ini listriknya belum kurang. Masih sering padam. Mana investor tertarik jika ketersediaan listrik saja belum memadai,” ucapnya.
Disinggung soal adanya PLTA Poso yang memiliki sumber listrik cukup besar, Miyono tidak mau terlalu jauh menanggapi soal keberadaan PLTA Poso. Namun kehadiran PLTA Poso seharusnya diharapkan bisa menjadi solusi krisis sumber energy listrik di Sulteng, sehingga bisa menjadi jaminan bagi investor untuk membangun industri di Sulteng. Dengan adanya industri-industri baru akan menjadi sumber penopang ekonomi baru di Sulteng. “Yang saya dengar pasokan listrik PLTA Poso lebih banyak disuplay ke Sulawesi Selatan, daripada ke Sulteng. Soal kenapa? Silakan tanyakan langsung ke pihak PLTA Poso,” katanya.
Miyono berharap, dengan kehadiran industri-industri yang sudah beroperasi di Morowali dan Banggai akan memberikan Multiplier Effect tidak hanya secara umum di Sulteng, tapi juga pada sektor-sektor UMKM lokal di sekitar industri-industri yang ada. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.