Indonesia Resmi Resesi, Masih ada harapan?

Oleh : Mohamad Rivani

- Periklanan -

HARI Kamis 5 November 2020 Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) secara resmi merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III sebesar -3,49 persen. Angka ini meskipun masih lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar -5,32 persen, akan tetapi sudah masuk pada fase Resesi. Pertanyaan yang muncul adalah apa yang dimaksud dengan Resesi? Resesi adalah periode penurunan ekonomi sementara di mana perdagangan dan aktivitas industri berkurang, umumnya ditandai dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua triwulan berturut-turut.

Menurut Ekonom senior Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Edhie Purnawan menjelaskan bahwa, resesi ekonomi adalah istilah dalam ilmu makroekonomi yang mengacu pada penurunan yang signifikan pada kegiatan ekonomi, atau dengan kata lain secara konsensus, para ekonom menyatakan bahwa resesi adalah keadaan dimana terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi rill selama dua triwulan secara berturut-turut yang disertai dengan peningkatan jumlah pengangguran.

Jika kita mencermati lebih lanjut rilis yang dikeluarkan oleh BPS, maka kita akan melihat bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang negatif dan masuk resesi pada triwulan III 2020, masih ada harapan untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara ini di triwulan IV 2020. Kalau dilihat Pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha, terdapat 7 sektor lapangan usaha yang masih tumbuh Positif diantara 17 sektor lapangan usaha yang ada di Indonesia, 7 sektor itu adalah; 1. Jasa kesehatan yang tumbuh sebesar 15,33 persen, 2. Informasi Komunikasi sebesar 10,61 persen, 3. Pengadaan Air sebesar 6,04 persen, 4. Jasa Pendidikan sebesar 2,44 persen, 5. Pertanian sebesar 2,15 persen, 6. Real Estate sebesar 1,98 persen dan 7. Administrasi Pemerintahan sebesar 1,86 persen.

- Periklanan -

Kemudian jika melihat pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran maka akan terlihat bahwa Konsumsi Pemerintah jadi yang paling besar tumbuh yaitu sebesar 16,93 persen disusul oleh Ekspor 12,14 persen kemudian PMTB sebesar 8,45 persen selanjutnya Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,70 persen dan terakhir Konsumsi LPNRT sebesar 0,56 persen. Kita ketahui bersama bahwa 88,43 persen Produk Domestik Bruto (PDB) berasal dari konsumsi rumah tangga dan Investasi. PDB Indonesia pada triwulan III berdasarkan harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 3.894 Triliun, dan berdasarkan harga konstan 2010 sebesar 2.720,6 triliun.

Angka yang dirilis oleh BPS menunjukkan bahwa kita masih optimis ditengah Resesi, masih ada alternatif yang dimiliki oleh pemerintah untuk membawa ekonomi negara ini kembali rebound ke nilai yang positif di triwulan IV 2020 dan Triwulan I 2021. Diantaranya adalah meningkatkan ekspor khususnya Nikel yang ada di Morowali Sulawesi Tengah, meningkatkan belanja/Konsumsi Pemerintah dengan serapan anggaran yang optimal serta mendorong masyarakat untuk meningkatakan konsumsi rumah tangganya. Untuk konsumsi rumah tangga diharapkan meningkat, karena saat ini banyak sekali stimulan ekonomi yang diluncurkan oleh pemerintah dalam upaya mendororng tumbuhnya konsumsi demi menggerakkan sektor riil.

Pemberian BLT, Kartu Prakerja, Bantuan Sosial usaha, bantuan modal usaha tanpa bunga contoh program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga yang berujung pada dinamisasi ekonomi setelah sebelumnya dihantam badai Covid-19, disamping itu juga untuk mengantisipasi naiknya angka pengangguran secara signifikan akibat PHK dan menjaga penduduk miskin agar pemenuhan kebutuhan dasarnya dapat terpenuhi. Mudah-mudahan di triwulan IV 2020 dan triwulan I 2021 ekonomi RI kembali tumbuh Positif yang berimplikasi pada perbaikan ekonomi masyarakat dan dapat mengurangi angka pengangguran serta kemiskinan, Semoga.

*) Penulis adalah ASN BPS Provinsi Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.