Implementasi Etik dalam Perspektif Moral dan Agama

Oleh: Prof. Dr. H. Zainal Abidin, M.Ag *)

- Periklanan -

Pendahuluan

Para akademisi, dalam pandangan umum, identik dengan nilai moral dan independensi. Mereka adalah cerminan moral yang menjadi figur teladan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, integritas moral menjadi sebuah keniscayaan yang harus dimiliki seorang akademisi. Di sinilah pentingnya kode etik di kalangan civitas akademika.
Kode etik, secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah rumusan bersama terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh suatu golongan atau komunitas sebagai standar baik dan buruk, atau layak tidak layaknya suatu perilaku/sikap. Meskipun istilah kode etik berlaku khusus pada anggota kelompok/organisasi/lembaga yang merumuskannya, akan tetapi standar nilai yang digunakannya tetap mengacu kepada nilai-nilai etika yang dianut oleh masyarakat secara luas, termasuk dalam hal ini nilai-nilai budaya, adat istiadat, ideologi negara dan ajaran agama. Dengan demikian, kode etik sejatinya adalah sebuah penegasan terhadap implementasi nilai-nilai etik dalam sebuah komunitas, terutama kelompok profesi, sehingga dalam menjalankan profesinya tetap berpijak pada nilai-nilai etika.

Oleh panitia, kami diminta untuk berbicara tentang Implementasi Etik dalam Perspektif Moral dan Agama. Perspektif moral yang dimaksud tentu harus dilihat dari sudut pandang filsafat moral. Namun demikian, karena keterbatasan waktu, kami cenderung membahas permasalahan ini sebagai satu kesatuan, tanpa membedakan antara moral dan agama. Di samping itu, persoalan moral adalah bagian inti dari ajaran agama.

Etika, Moral dan Akhlak

Ada tiga istilah yang sering kita gunakan ketika berbicara tentang perilaku manusia, khususnya sebagai makhluk sosial, yaitu: etika, moral dan akhlak. Ketiga istilah ini seringkali tidak mudah dibedakan karena memang ketiganya bersumber dari bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum membahas lebih jauh topik di atas, kami akan paparkan makna istilah-istilah tersebut sebagai batasan opersional dalam diskusi kali ini.

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani: ethos, yang berarti kebiasaan atau watak. Etika, dalam bahasa Prancis adalah etiquette yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut etiket yang juga berarti kebiasaan atau cara bergaul, berperilaku yang baik. Sebagai sebuah ilmu, etika diartikan: ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Jadi dalam hal ini etika lebih merupakan pola perilaku atau kebiasaan yang baik dan dapat diterima oleh lingkungan dan pergaulan seseorang atau suatu organisasi tertentu. Dengan demikian, etika pada dasarnya merupakan sistem nilai yang dipegangi oleh suatu komunitas tertentu sebagai standar dalam menentukan baik buruknya suatu perbuatan. Secara umum, etika sebagai sebuah sistem nilai berakar pada budaya masyarakat yang menggunakannya. Oleh karena budaya sangat beragam sesuai dengan keragaman masyarakat itu sendiri, maka etika pun bervariasi pada setiap tempat dan waktu, terutama jika ditinjau dari aspek praktisnya. Etika yang berlaku di suatu tempat, belum tentu tepat untuk tempat lain. Etika orang-orang Barat, misalnya, yang terbiasa dengan pola hidup individualistis, belum tentu dapat diterapkan bagi orang-orang Timur yang masih kental dengan pola hidup gotong royong. Di sinilah perlunya mengetahui budaya lain, agar kita dapat memahami sistem etik yang dianutnya sehingga kita dapat menyikapinya secara arif dan bijaksana.

Sedangkan moral atau moralitas, adalah istilah yang berasal dari bahasa Latin: Mos (jamak: mores) yang berarti cara hidup atau kebiasaan. Secara harfiah istilah moral sebenarnya sama dengan istilah etika, tetapi dalam prakteknya istilah moral atau moril sebenarnya jauh berbeda dari arti harfiahnya. Moral atau morale dalam bahasa Inggeris dapat diartikan sebagai semangat atau dorongan batin dalam diri seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Moral dilandasi oleh nilai-nilai tertentu yang diyakini oleh seseorang atau organisasi tertentu sebagai sesuatu yang baik dan buruk, sehingga bisa membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak sepatutnya dilakukan. Dalam konteks ini, moral sebagai dorongan batin yang melahirkan perilaku berhubungan dengan etika dalam arti standar nilai. Jika seseorang berbuat sesuai dengan etika, maka dia disebut bermoral baik, sebaliknya jika perbuatannya melanggar standar etika maka dia disebut tidak bermoral atau amoral.

Adapun akhlak, berasal dari bahasa Arab yang berarti tingkah laku, perangai atau tabiat. Menurut istilah, sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Gazali, akhlak adalah kondisi kejiwaan yang dari sana muncul perbuatan secara spontan dan mudah, tanpa dipikir dan direnungkan. Berdasarkan pengertian ini, akhlak pada dasarnya melekat dalam diri seseorang dan merupakan daya dorong yang melahirkan perilaku. Akhlak merupakan aspek batiniyah manusia, sedangkan yang tampak dalam perilaku adalah manifestasi akhlak itu yang oleh al-Gazali disebut dengan suluk. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita menyebut akhlak, padahal yang dimaksud adalah suluk.

Integritas Moral Keagamaan

Salah satu topik utama dalam filasafat etika, atau filsafat moral adalah standar nilai kebenaran, apakah kebenaran diukur berdasarkan fakta empiris (empirisme) atau berdasarkan rasio (rasionalisme), atau dilihat dari segi manfaatnya semata (pragmatism), dll. Dalam konteks ini, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan moral keagamaan adalah moral yang dibangun berdasarkan nilai-nilai agama, yang berarti tolak ukur kebenaran didasarkan pada ajaran Ilahi sebagaimana yang diyakini oleh masing-masing penganut agama.

Immanuel Kant, seorang filusuf Jerman, menolak menggunakan dasar-dasar empirisme bagi ajaran moral dan kurang setuju dengan intuisionalisme, serta rasionalisme perfeksionis yang menyatakan bahwa tujuan moral yang utama ialah pengembangan bakat alamiah seseorang. Kant menjelaskan tentang dasar-dasar ajaran moralnya bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh adanya kehendak atau suasana hati yang menjadi dasar dari perbuatan manusia. Pada setiap manusia terdapat suatu intuisi yang menyatakan bahwa tiada sesuatu yang lebih tinggi dari suatu perbuatan yang dilakukan karena “kehendak baik,” terlepas dari buah atau akibat yang ditimbulkannya. Kant menyatakan tiada sesuatu yang mungkin bisa dianggap baik secara mutlak tanpa syarat di alam ini atau bahkan di luarnya kecuali suatu kehendak yang baik. Sebagai contoh Kant menyebutkan bahwa kecerdasan dan kepandaian merupakan kebaikan yang diakui oleh semua orang. Namun kebaikan seperti ini bisa menjadi kejelekan dan kejahatan jika “kehendak” yang memakainya (dalam bentuk karakter atau watak) itu sendiri tidak baik. Demikian pula dengan adanya kekuasaan, kekayaan, kehormatan dan lain-lain akan menjurus pada kesombongan jika tidak ada kehendak baik yang mengoreksi atau mengendalikan dasar-dasar perbuatan kita. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk rasional dan selalu berkaitan dengan alam semesta yang diciptakan berdasarkan prinsip-prinsip rasional pula. Oleh karena itu Kant mengajukan prinsipnya bahwa suatu tindakan tidak bisa dianggap benar kecuali jika orang dapat mengemukakan alasan untuknya. Suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan suatu dorongan tertentu seperti rasa iba mungkin benar, tetapi cara untuk membuktikan kebenarannya itu kita harus menunjukkan bahwa tindakan itu rasional. Kita sering menilai dengan cara demikian, yaitu suatu tindakan kita anggap benar karena rasio juga menyetujui adanya tindakan yang dilakukan atas dorongan rasa iba tersebut. Namun Kant menegaskan bahwa tindakan harus tetap dilaksanakan karena rasa kewajiban (sense of duty) semata, sekalipun dorongan rasa iba itu tidak ada.

Seperti halnya Kant, Al-Ghazali, seorang ilmuwan muslim yang banyak membahas tentang moral/akhlak, juga menolak menjadikan rasio sebagai standar moral. Menurutnya, ketentuan baik dan buruk diketahui dari ketetapan agama. Rasio memang diakui memiliki kemampuan untuk menetapkan baik-buruknya suatu perbuatan. Tetapi rasio itu harus diterangi oleh agama. Artinya, rasio secara independen tidak dapat menentukan sendiri ukuran baik dan buruk. Selain agama dan akal, al-Ghazali juga mengakui bahwa hati nurani dapat berfungsi untuk mengetahui ukuran baik dan buruk. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa suatu perbuatan dianggap baik jika hati merasa tenang, tidak merasa bersalah di dalam melakukannya, meskipun banyak orang tidak setuju.

- Periklanan -

Pusat dari moral adalah “qalbu” atau hati. Hati dapat mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani. Hati adalah sumber lahirnya “kehendak” dalam Istilah Kant, yang dari situlah muncul perilaku sebagai perwujudannya, yang oleh al- Ghazali disebut sebagai suluk.

Dalam perspektif Islam, telah dikenal istilah aql, qalb, dan fuad sebagai pusat pengendali intelektual, moral, dan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan apresiasi yang sama terhadap ketiga sistem tersebut. Hubungan ketiganya dapat dikatakan saling membutuhkan dan melengkapi. Namun apabila dipilah-pilah, maka spiritual merupakan prima causa dari intelektual dan moral. Spiritual mengajarkan interaksi manusia dengan Sang Khaliq, sementara intelektual dan moral mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya sendiri dan alam sekitarnya.
Tanpa ketiganya bekerja secara proporsional, maka manusia tidak dapat menggapai statusnya menjadi “khalifah” di muka bumi ini. Oleh karena Islam memberikan penekanan yang sama terhadap “hablun min Allah” dan “hablun min An-nas”, maka dapat diyakini bahwa keseimbangan intelektual, moral dan spiritual merupakan substansi dari ajaran Islam. Penggabungan dari ketiga hal ini akan menghasilkan manusia-manusia paripurna yang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya.

Implementasi Nilai Etik

Tidak bisa dipungkiri, nilai-nilai etika memiliki peran yang sangat signifikan dalam menata kehidupan sosial, mulai dari lingkup terkecil, lingkungan keluarga, hingga ke masyarakat, sampai kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebelum diundangkannya peraturan-peraturan dalam bentuk hukum formal, masyarakat tradisional jaman dulu sudah dapat hidup harmonis dengan berpijak pada nilai-nilai etika sebagai pijakan moral. Sebaliknya, meski pun serentetan peraturan telah diundangkan, masyarakat modern belum juga mampu mewujudkan masyarakat yang harmonis karena pudarnya implementasi nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari- hari.

Kemajuan suatu bangsa dan negara bukan hanya ditentukan oleh banyaknya bangunan fisik materil yang telah diwujudkan, kekayaan alam yang dimiliki, atau prestasi ekonomi yang telah diraih. Bahkan kemajuan ilmu pengetahuan yang telah dicapai pun bukan jaminan bagi keberlangsungan hidup sebuah bangsa dan negara. Salah satu faktor penentu yang tidak bisa diabaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah moralitas yang dimiliki oleh para penduduknya terutama para pemimpin yang memegang amanah rakyat. Ahmad Syauqi, seorang pujangga, dalam syairnya berkata:

“Sesungguhnya suatu bangsa dapat eksis sepanjang moral/akhlaknya masih eksis, apabila moralnya telah punah, bangsa itu pun akan binasa.”

Kasus yang seringkali dijadikan contoh adalah Jepang. Secara fisik Jepang (Hirosima dan Nagasaki) pernah diluluhlantakkan oleh bom atom, di masa-masa akhir Perang Dunia II, yakni pada bulan Agustus 1945. Namun demikian, Jepang bisa bangkit kembali dan menjadi salah satu negara terkemuka saat ini, jauh melampaui Indonesia yang meraih kemerdekaannya pada tahun yang sama (1945). Sebagian orang pun berkomentar, bahwa Jepang secara fisik memang hancur, tetapi moralitas mereka tidaklah hancur sehingga dalam waktu yang tidak lama mereka dapat membangun kembali negerinya. Di sisi lain, bangsa Indonesia secara fisik memang tidak hancur, tetapi moralitasnya yang hancur sehingga kekayaan negeri ini tidak mampu membuat negara ini menyamai kemajuan Jepang. Tentu saja kita boleh tidak setuju dengan pandangan ini. Tetapi harus diakui bahwa moralitas dalam kultur masyarakat Jepang masih sangat kuat. Masih segar dalam ingatan kita, pada tahun 2014 yang lalu Menteri Perdagangan dan Industri Jepang, Yuko Obuchi, langsung mengundurkan diri dari jabatan setelah diduga melakukan penyalahgunaan uang sebesar 10 juta yen. Beberapa jam setelahnya, Matsushima yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman pun turut mengundurkan diri dari kursi pemerintahan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Shinzo Abe. Tahun 2016, Menteri Ekonomi Jepang, Akira Amari, mundur setelah sebuah surat kabar menyiarkan dirinya telah menerima uang suap dari salah satu kepala perusahaan konstruksi untuk kebutuhan politik. Selanjutnya, pada tahun yang sama Gubernur Tokyo Yoichi Masuzoe mengundurkan diri setelah dirinya terbukti menggunakan dana politik yang sebagian didapat dari pajak masyarakat Tokyo untuk kebutuhan personal–wisata, akomodasi, dan souvenir.
Contoh kasus di atas menunjukkan betapa sebuah budaya yang mengedepankan moralitas perlu dibangun, sehingga melahirkan budaya “malu” untuk melakukan perbuatan amoral, perbuatan yang melanggar nilai-nilai etika.

Sedemikian pentingnya persoalan moral dan etika, sehingga dalam Islam hal ini dijadikan sebagai orientasi utama dari seluruh ajaran agama. Nabi saw. bersabda: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran moral (akhlak)”.

Itulah sebabnya, jika kita cermati tuntunan Alquran dan Sunnah, sebagian besar di antaranya berbicara tentang tata etik dalam relasi manusia dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya.

Penutup

Dalam kehidupan sosial, etika merupakan persoalan penting yang menjadi titik sentral pembicaraan dalam setiap tradisi dan budaya. Sedemikian pentingnya sehingga etika menjadi salah satu cabang dalam kajian filsafat, baik di Timur maupun di Barat. Demikian halnya dalam agama, seluruh ajaran agama di dunia ini terutama agama-agama dalam rumpun Abrahamic (Yahudi, Kristen dan Islam) menempatkan persoalan etika sebagai bagian integral dalam mengukur nilai ketakwaan seseorang. Tidak terkecuali dalam ajaran Hindu-Budha, yang menjadikan etika sebagai tolak ukur kebajikan untuk meraih kebahagiaan abadi.

*) Penulis merupakan Ketua MUI Kota Palu yang juta Ketua FKUB Provinsi Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.