Impian Palu Jadi Embarkasi Haji Antara Terancam Gagal

- Periklanan -

PALU – Impian untuk menjadikan Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai embarkasi antara di tahun 2018 terancam tidak bisa terwujud.

Pasalnya hingga pertengahan bulan November, progres proyek revitalisasi pembangunan asrama haji transit Palu, yang menggunakan anggaran Rp 43.651.000.000 belum mencapai 15 persen.

Pantauan Radar Sulteng di lokasi proyek, kemarin (16/11), tidak banyak yang bisa didapatkan. Saat media ini datang, pintu gerbang terbuka, sehingga memudahkan untuk masuk. Saat masuk ke dalam, media ini meminta izin kepada satpam yang menjaga lokasi, kemudian diarahkan kepada seseorang yang oleh satpam dikatakan sebagai bos. Saat bertemu dengan orang tersebut, dengan nada tinggi, orang itu langsung mencak-mencak.

“Kenapa sudah ada beritanya? Kan saya bilang temui orang di Kemenag dulu,” kata pria itu, dengan nada tinggi.

Setelah dijelaskan bahwa media ini, belum sekalipun memberitakan proyek asrama haji itu, nada bicara orang yang tidak ingin menyebutkan namanya itu baru mulai menurun. Terkait proyek asrama haji, orang itu meminta agar menanyakan langsung ke pihak Kemenag Provinsi.

“Langsung ke Kemenag saja. Temui Ibu Nur. Kalau mau kesini juga harus ada surat izin dari Ibu Nur, dari Kemenag,” katanya singkat.

Saat media ini baru keluar dari lokasi proyek, gerbang proyek yang dikerjakan PT Tirta Dhea Addonnics Pratama itu langsung ditutup.

Sebelumnya, 31 Oktober lalu, media ini juga sempat melakukan pemantauan di lokasi proyek. Sejak awal, sikap kaku dan tertutup serta tidak kooperatif terhadap media memang sudah terlihat. Saat media ini masuk ke dalam lokasi proyek 31 Oktober lalu, media ini bertemu langsung dengan orang yang disebut bos itu. Namun saat itu, pria itu mengaku sebagai kepala tukang.

“Kita ini kan hanya kerja. Bagusnya langsung ke Kanwil (Kanwil Kemenag, red) saja tanyakan,” kata pria itu, beberapa pekan lalu (31/10).

Saat itu, pria ini mengizinkan Radar Sulteng untuk memantau langsung lokasi pengerjaan proyek dengan syarat tidak mengambil gambar. Namun saat media ini berbincang dengan beberapa buruh, satpam yang mengaku bernama Iwan langsung datang menghampiri dan bertanya maksud dan tujuan media ini berada di dalam lokasi tersebut.

Dengan nada bicara yang juga tinggi, saat itu, Iwan meminta untuk memeriksa handphone media ini untuk memastikan tidak ada gambar yang diambil.

- Periklanan -

“Setiap yang masuk harus meminta izin dari saya dulu karena saya yang menjaga di depan,” ucapnya saat itu.

Pada pantauan di akhir Oktober itu juga, media ini menemukan beberapa pekerja merupakan perempuan.

Dikonfirmasi terkait proyek asrama haji tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Provinsi Sulteng, Dr H Gasim Yamani menjelaskan, masih ada kemungkinan proyek tersebut mencapai target. Dalam dua hari kedepan kata Gasim, sudah akan dilakukan penyelesaian lantai 1. Kemudian lanjutnya, dari 1 hingga 15 Desember, akan dilakukan pengecoran lantai 2 dan 3. Dengan demikian lanjut Gasim, 16 hingga 30 Desember lantai 4 juga bisa diselesaikan.

“Tapi kalau begitu, kontraktor harus mengeluarkan uang lebih, karena jika selesai lantai 1, extra foldingnya tidak dicabut lagi, agar bisa langsung dilanjut ke lantai 2 tanpa harus menunggu kering yang di lantai satu,” jelas Gasim, ditemui di ruangannya, kemarin (16/11).

Keterlambatan proyek ini lanjut Gasim disebabkan awalnya kontraktor menggunakan tenaga kerja yang kurang, dan dari orang lokal di Kota Palu. Selain itu, Gasim mengakui, pengerjaannya di awal-awal berhenti di sore hari dan tidak dilanjutkan saat malam hari. Namun Gasim menegaskan, pihak Kemenag juga sudah beberapa kali mengingatkan pihak kontraktor.

Selain itu, lanjut Gasim sejak awal Oktober lalu juga sudah ada i’tikad dari kontraktor dengan menambahan tenaga kerja dari luar kota. Jam kerja lanjut Gasim juga sudah dilakukan secara shift, yakni dari jam 6 pagi hingga 6 sore, dan 6 sore hingga 6 pagi.

“Yang pasti saat ini, tidak ada kerugian negara yang diakibatkan dari proyek ini. Karena uangnya masih aman. Jika pun tidak selesai, uangnya akan dikembalikan ke Kementerian Agama dan ini yang merugikan kita, karena sudah ada dana tapi tidak bisa menyelesaikan rehab asrama haji, dan yang kita dambakan menjadi embarkasi, terpaksa tidak bisa di tahun 2018,” kata Gasim lagi.

Namun lanjut Gasim jika target sesuai yang disebutkan sebelumnya dengan menyelesaikan lantai 4 sesuai yang diperhitungkan, kemungkinan akan ada rekomendasi tambahan waktu yang diberikan ke kontraktor. Rekomendasi itu kata Gasim akan dikeluarkan oleh konsultan pengawas dengan pertimbangan-pertimbangan apabila menurut konsultan pengawas ada progres yang signifikan yang dilakukan kontraktor.

“Itu nanti dari konsultan pengawas, jika ada rekomendasi, bisa menambah waktu,” terangnya.

Gasim juga menjelaskan, proyek tersebut sudah berjalan sesuai kontrak dan semua unsur sudah menjalankan fungsinya. Yang terlibat dengan proyek ini kata Gasim ada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kelompok Kerja (Pokja), Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas, pengelola teknis, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulteng, Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D).

Sedangkan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Nur, kepada media ini mengungkapkan dari hasil pertemuan dengan konsultan pengawas kemarin pagi, diketahui capaian proyek asrama haji itu baru mencapai 12,36 persen. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.