Iklas Kunci Merawat Kebhinekaan

MUI Palu Gelar Halal bi halal

- Periklanan -

PALU – Masih bulan Syawal 1440 Hijriyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Senin malam (1/7), menggelar acara halal bi halal bersama pengurus masjid di Kota Palu. Jamaah Palu Subuh Berkah (PSB), dan Palu Mahgrib Berkah (PMB).

‘’Ditargetkan undangan jamaah PSB dan PMB hadir 200-an orang. Agenda tahunan ini untuk merajut toleransi kekeluargaan,’’ kata H Muh Munif Godal MA selaku panitia ditemui Radar Sulteng terpisah.

Dalam laporan ketua Panitia, Drs Sagir M Amin MPd mengatakan bahwa, tiap tahun acara halal bi halal selalu diselenggarakan MUI Kota Palu bersama jamaah Palu Subuh Berkah dan Palu Mahgrib Berkah. Hanya tempat yang selalu berbeda.

Tujuan dilaksanakan halal bi halal sesuai temanya menjaga toleransi kekeluargaan dan gotong royong untuk Palu yang maju. Wakil Ketua MUI Palu juga menjelaskan, di tengah ancaman publik terhadap disintegrasi bangsa perlu ummat membangun kekeluargaan dan gotong royong.

‘’Jawabannya adalah perlunya diadakan acara halal bi halal, dalam rangka penguatan ummat terhadap ancaman disintegrasi bangsa. Ummat rukun, negara aman dan insya Allah pembangunan lancar, Palu Sulawesi Tengah cepat pulih,’’ tegasnya.

Sagir M Amin juga menjelaskan, PSB ada sejak tahun 2016 dan  digagas penasehat MUI Kota Palu, H Syamsudin Oemar. Sebelum terjadi musibah gempa bumi, tsunami dan likuifaksi, ada 51 masjid yang selalu disambangi MUI. Namun terjadinya bencana pada 28 September 2018 lalu,  banyak masjid-masijd yang rusak dan sisa 20 an. ‘’Syarat masjid yang masuk agenda PSB MUI memiliki jamaah yang banyak. Supaya ilmu yang selama ini hanya dapat diperoleh di Kampus, bisa diperoleh melalui kegiatan PSB dan PMB karena para ustad atau pengurus MUI sebagian besar Dosen di Perguruan Tinggi,’’ kuncinya.

Sementara Ketua MUI Palu, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg mengatakan, acara halal bi halal merupakan sebuah tradisi di Indonesia. Budaya ini hanya ada di Indonesia. Secara rinci sudah dijelaskan pihak panitia. Apalagi yang hadir di sini para mubaliq.

- Periklanan -

‘’Intinya saya tidak mau ceramahi para ustad. Sama halnya jeruk minum jeruk. Hanya saja, karena diminta panitia untuk mengisi hikmah halal bi halal dan malam ini, mungkin satu-satunya profesor maka saya akan berbagi pengalaman,’’ ungkap Prof Zainal disambut tawa para undangan.

Menurut Prof Zainal, terlaksanakan acara halal bi halal MUI Kota Palu berkat dukungan dari penasehat MUI Palu, H Syamsudin Oemar. Yang mana kata Prof Zainal, penasehat MUI Palu ini juga memiliki latar belakang pengusaha. ‘’Banyak pengusaha di Palu, tapi tidak banyak yang mau menjadi pelopor seperti kegiatan ini. Mau membimbing banyak, tapi yang mau memberi keteladanan kurang,’’ tegas Prof Zainal yang dikenal pakar Islam moderat ini.

Mantan Rektor IAIN Palu juga menjelaskan, mengingat undangan malam ini sebagian besar jamaah PSB dan PMB maka, kedepan akan dirumuskan metode PSB maupun PMB yang diminati dan mudah dipahami. Tujuannya, agar PSB dan PMB tidak hanya sebuah kewajiban rutinitas namun memiliki nilai peningkatan SDM sebagaimana dikandung makna pada tema hari ini, toleransi kekeluargaan dan gotong royong untuk Palu yang maju.

Ketua FKUB Sulteng itu juga memberikan contoh tolerasi tentang usaha. Ceritanya, ada dua anak yang mendapat amanah dari orangtua dalam berusaha yaitu jangan sampai tersentuh sinar matahari, dan jangan sampai menagih utang. Singkatnya kata Prof Zainal,  anak pertama yang gagal karena berangkat kerja sudah siang dan memberi utang kepada orang. Sedangkan anak kedua berangkat kerja sebelum matahari terbit setelah salat subuh dan pulang kerja setelah mahgrib dan tidak memberi utang ke orang lain.

‘’Kegagalan  anak pertama tersebut bisa diartikan bahwa amanat yang diberikan orangtua dimaknai berbeda dengan kemampuam SDM atau wawasan yang sempit,” demikian kata Prof Zainal.

Orang seperti ini kata Prof Zainal, sulit menciptakan toleransi karena memiliki wawasan agama yang sempit. Biasa orang seperti ini mengaku paling benar dan selalu gunakan simbol agama. Demikian pula, beda orang beragama dan orang yang beriman. Orang beragama cara memahaminya tuhan itu ada. Sedangkan orang yang beriman cara memahaminya tuhan itu hadir. Memiliki sikap toleran dan menghargai perbedaan.

‘’Kata kuncinya ada satu keiklasan, kita rawat kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,’’ tegas Ketua MUI Palu memberi imbauan.

Hadir pada acara halal bi halal, Sekkot Palu  Asri SH, Kesbangpol Dr Fahcrudin D Yambas. Para mubaliq dan jamaah Palu Subuh Berkah maupun Palu Mahgrib Berkah. Pada akhir acara dilaksanakan jabatsalam para pengurus PSB dan PMB bersama tamu undangan yang hadir. (lib)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.