IKIB Itu Harus Mengakar Sampai ke Akar Rumput

- Periklanan -

PALU-Ketua Pengurus Besar Ikatan Keluarga Indonesia Buol (PB IKIB), Syamsudin Kuntuamas, menegaskan bahwa Visi dan Misi IKIB sudah jelas ada di Musyawarah Besar (Mubes) PB IKIB yang digelar untuk mencari figur ketua PB IKIB yang baru untuk edisi 2020-2025, pada 10-11 Januari 2020 di Citra Mulia Hotel Kota Palu.

“Visi dan misi ini sama dengan hayalan atau harapan. Itu harapan mau jadi apa, mau jadi apa belum tentu terwujud. Kuncinya bagaimana terwujud tentunya kita punya strategi yakni manajemennya, “ kata Syamsuddin Kuntuamas kepada Radar Sulteng, Minggu (28/6).

Dalam manajemen itu, semua orang yang ada dalam kompenen satu organisasi itu harus kerja. Karena ini dasarnya adalah organisasi kerukunan, dasarnya adalah keihlasan untuk berbuat tanpa harus berharap dinilai oleh siapa. Itu tidak penting. Yang penting itu kebersamaan membangun organisasi kerukunan demi kekeluargaan. Karena itu harapan kerukunan seperti itu.

“ Tidak bisa terlalu kita kesampingkan kedepan itu akan seperti ini. Yah kita berbuat saja belum, bagaimana kita mau ditagih yang belum kita jalani. Jadi kita kerja saja sesuai dengan kekeluargaan dan kebersamaan ini yang perlu kita pelihara, “ tegasnya.

Kalau dulu terkesan elitis, hanya orang-orang diatas, nah sekarang kata Syamsudin orang-orang bawah yang harus kita sentuh. “Untuk apa IKIB kalau orang-orang yang macam kita yang ketemu-ketemu tidak ada gunanya, hanya milik orang-orang tertentu saja. Tetapi IKIB itu bisa mengakar sampai ke akar rumput yang paling bawah untuk menginventarisasi mana semua orang-orang warga Buol yang ada di perantauan. Seharusnya kerukunan seperti itu, “ bebernya.

Ketika ditanya, bagaimana dengan adanya warga Buol yang memiliki potensi sebagai orang yang bisa masuk ke pengurusan PB IKIB periode 2020-2025 tetapi ternyata tidak masuk dalam kepengurusan ? Masalah ini dijawab oleh Ketua IKIB Syamsudin Kuntuamas bahwa dirinya tidak fokus dalam penyusunan struktur PB IKIB, dan bukan pula kesalahan teman-teman karena mereka yang lebih tahu siapa jadi apa dan siapa kebagian peran apa, dalam kepengurusan ini.

“ Saya tidak fokus di situ. Karena mohon maaf, masih ada orang yang pantas menyusun komposisi kepengurusan seperti yang ada sekarang karena mereka sangat mengetahui kapasitas seseorang untuk diakomodir dalam kepengurusan saat ini, “ ungkap Syamsudin.

Pada prinsipnya, Syamsudin sangat berharap yang namanya orang Buol itu semuanya harus masuk, tanpa terkecuali. Kalau bisa tidak ada pembatasan. Dirinya berharap antusiasme warga Buol seperti yang ditunjukan pada saat TAWAB dan Mubes di 10-11 Januari seperti itulah yang diharapkan.

Menurutnya, harus ada perbaikan di mainseat tata kelola, termasuk di struktur pengurus PB IKIB perlu ada penambahan, khususnya mereka warga Buol yang layak masuk.

“Dalam sebuah organisasi tidak ada yang melarang komposisinya harus banyak. Misalnya, dalam satu biro itu mengapa kalau dikasih masuk banyak. Cuma kalau ada biro yang harus diplot sekian orang terus dipaksakan sekian orang, itu melanggar etika dalam berorganisasi. Kalau tidak ada batasan, kalau perlu semua orang Buol jadi pengurus. Tidak ada masalah, “ tandasnya.

- Periklanan -

Ketua PB IKIB juga menanggapi adanya wacana untuk warga Buol yang belum masuk dalam struktur pengurus disetting masuk dalam kepengurusan wilayah misalnya di kabupaten dan kota. Kalau pusat ada di Palu, terus kita berkedudukan di Palu tentu ada cabangnya di Palu. Kalau ada teman-teman punya kesiapan untuk mengurus kepengurusan di situ tidak apa-apa. Itu bahkan lebih luas lagi, kita punya kebersamaan.

Menurutnya, sudah ada beberapa dari kabupaten-kabupaten ingin didatangi untuk pelantikan pengurus. Namun kita masih punya keterbatasan. Apalagi ini organisasi sosial ada tiga faktor yang menentukan dan menjadi ukuran. Pertama bagaimana kita dibutuhkan pemikiran di dalamnya. Kedua adalah tenaga. Ketiga adalah materi berupa finansial atau pembiayaan.

“Jadi teman-teman, saya harapkan jangan sampai ada pemikiran bagaimana kita bisa hidup di organisasi ini, tetapi punya pikiran bagaimana menghidupkan organisasi ini, “ serunya.

Sementara itu, salah seorang warga Buol di Kota Palu, Amat Entedaim, menjelaskan, bahwa dalam organisasi itu yang ditonjolkan adalah asas kekeluargaan. Namun asas kekeluargaan di dalam kepengurusan yang ada sekarang tidak didekati oleh kelompok-kelompok atau oleh pengurus lain yang ada di lingkungan ketua.

“Maksudnya begini, kenapa tokoh-tokoh lain yang kapabilitasnya luar biasa baik secara nasional, regional, maupun lokal, tidak terakomodir. Kalau saya sendiri tidak masuk komposisi kepengurusan karena saya mungkin dinilai oposisi. Tetapi saya bersikap seperti itu bukan oposisi untuk seorang ketua, bukan. Tetapi yang saya krtitisi itu adalah penyelenggraaannya yang tidak kapabilitas. Tidak punya dasar hukum, karena didirikan hanya berdasarkan SK kepanitiaan yang mengastasnamakan pendiri, “ sebut Amat Entedaim.

Mari kita tinggalkan itu. Persoalannya di sini sudah terpilih ketua, dan dari ketua itu bagaimana caranya mengikut keinginan ketua terpilih. Visi ketua itu kekeluargaan. “ Kekeluargaan itu harus ditonjolkan. Karena organisasi ini adalah organisasi kekeluargaan. Bukan organisasi politik. Persoalannya sekarang beliau dikelilingi oleh orang-orang politik. Sementara beliau pak ketua bukan orang politik. Sering dikasih saran ini pak ketua ikut. Dikasih saran itu beliau juga ikut, “ terangnya.

Olehnya itu, tandas Amat, perjalanan PB IKIB masih panjang, masih ada waktu untuk melakukan perbaikan di tubuh IKIB, yaitu penambahan personel, perlu ada tenaga ahli untuk mendampingi ketua umum.

Dia juga melihat saat ini PB IKIB dipimpin Syamsudin Kuntuamas sudah bergeliat dengan banyaknya aktifitas positif, misalnya menggalang donasi untuk membantu warga Buol di Tolitoli yang rumahnya terbakar. Kemudian menggalang donasi lagi untuk warga kita di Kabupaten Buol karena terdampak Covid-19.

“Pak Sayamsudin Kuntuamas di awal kepemimpinannya sudah bagus, walau dulunya berkecimpung di organisasi profesi, dan sekarang menukangi organisasi kemasyarakatan non profit. Karena itu beliau harus didampingi oleh beberapa staf ahli, meskipun bukan pengurus, untuk memimpin PB IKIB ini. Yaitu staf ahli orang Buol yang punya pemikiran dan wawasan yang luas untuk mengawal kepemimpinan ketua PB IKIB, “ urai Amat Entedaim.

Diakhir pernyataannya Amat mengatakan jangan ada kebohongan sejarah terhadap generasi berikutnya. “ Jangan ciptakan tumbuhnya ada kebohongan sejarah terhadap generasi kita berikutnya, “ ujarnya mengingatkan.

Dirinya berkata seperti itu setelah mendengarkan adanya upaya untuk membuat akta pendirian PB IKIB. “ Saya menegaskan seperti ini, karena saya dengar ada semacam upaya untuk membuat akte pendirian. Hati-hati dengan akte pendirian PB IKIB karena PB IKIB didirikan kurang lebih oleh 15 orang. Tokoh 15 orang inilah yang menggelar Mubes untuk melahirkan TAWAB. Beda Mubes beda TAWAB. Jadi hati-hati, disitu yang meng SK kan panitia TAWAB, “ sebutnya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.