Ibu Rumah Tangga Diperkosa Enam Pemuda di Tempat Wisata

- Periklanan -

TOLITOLI-Entah setan apa yang telah merasuki 6 pemuda asal Desa Ogomoli, Kecamatan Galang, hingga nekad memperkosa seorang ibu muda yang diketahui sebagai rumah tangga (IRT) sebut saja Melati (18) bukan nama sebenarnya, Senin (17/5) malam di lokasi wisata Puncak Desa Ogomoli.

Kejadian yang sempat membuat geger warga Desa Ogomoli itu, dikabarkan warga terjadi kurang lebih jam 11 malam di salah satu gazebo atau pondok wisata yang ada di lokasi puncak.

Menurut penuturan warga, awalnya Melati dikabarkan telah membuat janji dengan salah satu pemuda yang tak lain mantan pacarnya, untuk sekadar bertemu atau ngobrol. Namun, mantan pacaranya itu sebut saja si Otong (bukan nama sebenarnya) ternyata membawa “pasukan”, di antaranya ada juga pelajar yang masih di bawah umur.

Singkatnya, setelah beberapa saat ngobrol dan bersenda gurau, ternyata Si Otong kemungkinan mulai konak, ia terus mencoba merayu hingga akhirnya memaksa Melati melayani nafsu bejadnya. Tidak hanya itu, Melati bahkan digiilir oleh kawan Si Otong tak terkecuali pelajar di bawah umur.

- Periklanan -

Setelah kejadian yang memalukan warga sekampung, keesokannya keluarga Melati melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tolitoli.
“Yah benar, kasusnya telah dilaporkan dan saat ini kami sedang melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap para pelaku dan korban. Dari 6 pelaku, di antaranya ada pelajar di bawah umur,” ungkap Kasat Reskrim AKP Rijal kepada Radar Sulteng.
Disinggung terkait kasus tersebut, Kades Ogomoli Amris mengaku sangat prihatin atas perisitiwa yang terjadi di salah satu wilayah kerjanya, Puncak Wisata Ogomoli.

“Ini semua pengaruh HP dan tontonan yang tidak sehat, ditambah pergaulan dan lingkungan yang tidak baik, ada itu juga anak-anak masih di bawah umur ikutan juga. Jadi, memang ini kejadian sangat memalukan bagi kami. Kedepan kami akan melakukan upaya yang lebih ekstra, terutama mengingatkan para orangtua agar memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak, khususnya yang remaja,” ungkap Amris.

Terpisah, pengamat sosial Ahmad Pombang menilai, pengawasan orangtua terhadap anak-anaknya, terutama pelajar di momen pandemi saat ini, seharusnya lebih ketat. Sebab, dengan alasan penggunaan HP untuk belajar saat ini, ternyata lebih banyak digunakan untuk melihat tontonan pornografi. “Ini bahaya kalau tidak diawasi,” kata Ahmad.

Sebab, momen belajar dengan HP justru kalau tidak diawasi, bisa kebabalasan, anak akan cepat menyerap hal-hal yang menurut dia menyenangkan. “Apalagi, pelaku ini rerata masih muda semua, bahkan ada yang pelajar,” lanjut Ahmad sekaligus menyarankan kepada pemerintah desa agar benar-benar mengelola tempat wisata puncak Ogomoli dengan serius, terutama masalah keamanan dan kenyamanan.

Menurut Ahmad, di lokasi wisata puncak, lampu penerangan sangat kurang, sementara rumah pondok atau gazebo tidak ada penerangan yang cukup, sehingga ini menjadi kesempatan bagi kawula muda untuk berbuat mesum, karena tidak ada pengawasan.
“Kalau desa bersungguh-sungguh, kelola itu lokasi, buat penerangan bagus, tarik retribusi parkir, retribusi keamanan, dan diawasi dengan baik, jangan sampai malah jadi pusat perbuatan zina di sana,” sarannya. (dni)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.