alexametrics Ibu dan Penguatan Sumber Daya Manusia – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ibu dan Penguatan Sumber Daya Manusia

Oleh : Ahmadan B. Lamuri *)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SUMBER daya manusia merupakan sumber keunggulan daya saing yang mampu menghadapi berbagai kondisi. Dalam kajian manajemen, sumber daya manusia akan tetap bertahan karena memiliki kemampuan untuk merumuskan visi, misi, tujuan, dan strategi pencapaian hidupnya bahkan mampu mengarahkan sumber daya lainnya dalam mewujudkan apa yang direncanakan.

Islam memandang manusia adalah makhluk yang berpotensi untuk didik secara baik dan berkelanjutan. Manusia memiliki tubuh yang sempurna, memiliki ragam potensi yang siap dimanifestasikan dalam kehidupannya. Potensi intelektual, potensi social, potensi moral, dan lainnya. Adanya potensi dimaksud menunjukkan kecerdasannya yang melebihi makhluk-makhluk lainnya (Q.S. al-Baqarah: 33, Q.S. al-Tiin: 4).

Disadari bahwa saatnya lahir ke dunia, manusia tanpa mengerti apa-apa meskipun telah dibekali potensi. Tetapi potensi tersebut akan teraktualisasi ketika manusia memanfaatkan modalitasnya dalam berinteraksi dengan alam lingkungannya. Potensi spiritual, intelektual, social, emosional, dan potensi jasmani perlu diaktualisasikan agar sumber daya manusia tampil dengan kinerja terbaik. Keseluruhan potensi yang dimiliki manusia sebagai fasilitas penguatan Sumber Dayanya. Bagaimana peran ibu dalam rangka penguatan sumber daya manusia itu?

Tentu memperingati hari ibu bukanlah kegiatan tanpa makna; melainkan setiap waktu kita tidak akan pernah memisahkan diri dengan ibu. Kalaupun mereka telah mendahului kita, tetaplah dianjurkan untuk selalu mengirimkan doa terindah untuk mereka. Itu berarti hubungan seseorang dengan ibunya atau kedua orang tuanya tidak pernah terputus. Tulisan ini tidak mengeksplorasi keseluruhan dari peran seorang ibu, tetapi pada dua peran yang dianggap sangat strategis dalam rangka penguatan sumber daya manusia.

Pertama, Seorang Ibu dari Anak-anaknya

Sebagai seorang ibu dari anak-anaknya,untuk menguatkan sumber daya anaknya dilakukannya melalui pendidikan karakter. Mengandung, melahirkan, merawat, memelihara, dan bahkan mendidiknya dalam lingkup pendidikan informal. Ibu sejak awal telah meletakkan bibit-bibit kebaikan atau kejahatan dalam diri sang anak. Baik atau buruknya anak akansangat bergantung pada orang tua dan lingkungannya. Nabi Muhammad dalam salah satu Haditsnya telah menegaskan bahwa “setiap anak/bayi yang lahir itu dalam keadaan fitrah/suci bersih, yang menjadikan baik atau buruk tergantung pada orang tuanya”.

Tugas dan perannya seorang ibu memang sangat berat. Hal ini dapat diketahui informasi dalam Alquran Surah Luqman: 14, Allah SWT menyampaikan bahwa “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyapihnya sampai dua tahun lamanya. Bersyukurlah kepada Allah swt dan kepada kedua orang tuamu”.
Allah menggunakan kata “wahnan ‘ala wahnin” maksudnya kelemahan atau kerapuhan. Namun tidak ada seorang ibu yang mengeluh akan kondisi yang dialaminya itu.

Peran mengandung sampai melahirkan yang oleh para ahli tafsir memahami bahwa selama proses mengandung seorang ibu itu menahan dengan segala kesabaran atas penderitaan yang cukup berat, mulai bulan pertama hingga waktunya melahirkan. Kondisinya semakin lemah dan kekuataannya pulih kembali setelah masa nifas berakhir.

Dilanjutkan penderitaan itu saat menyusui anaknya selama 2 tahun, dan masa ini banyak kesukaran serta penderitaan yang dihadapinya tetapi semua itu dijalaninya dengan penuh kasih dan cinta demi sang belaian hati. Termasuk yang banyak dialami oleh seorang ibu dari anaknya ketika masa menyusui adalah bermandikan air kencing dari sang anak. Namun, semua dihadapi dengan sabar. Sikap demikian ini merupakan bagian dari proses pendidikan karakter terhadap anak.

Huzaemah T. Yanggo menulis sebuah kisah tentang Rasulullah SAW, “ada seorang anak digendong oleh Rasulullah, tiba-tiba sang anak pipis (buang air kencing), maka dengan kasar ibu pengasuh anak itu langsung merampas sang anak dari gendongan Rasulullah yang menyebabkan anak itu menangis. Rasulullah menegur sang ibu pengasuh itu, sambil berkata “Perlahan-lahanlah hai Um al-Fadhl, sesungguhnya ini (menunjuk pada pakaian beliau yang dibasahi pipis) dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati sang anak”?

Mungkin sang anak belum mengetahui apapun yang dilakukan orang tua terhadapnya sewaktu masih usia belia, tetapi hati dan kejiwaannya akan merekam seluruh perlakuan terhadapnya. Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kepada manusia dengan perlakukan penuh cinta dan sayang kepada anak-anak. Wahbah al-Zuhaily mengatakan bahwa karena kesabaran dan perjuanganlah yang menyebabkan ibu berada 3 tingkat dibandingkan dengan ayah.

Ibu telah memperkenalkan tugas pendidikan dan pembinaan terhadap anak tentang nilai-nilai kehidupan ketika sang anak mulai berinteraksi dengan lingkungan dalam rumah. Interaksi terbanyak dan sering terjadi adalah dengan ibu. Karena itulah penguatan karakter telah dipraktekkan oleh seorang ibu kepada anak sejak dini. Pelaksanaan peran ini tidak lain mengikuti jejak Lukman al-Hakim yang telah diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran Surah Lukman ayat (13-19).

Untuk memperkuat fisik dan mental sang anak, ibu menyusuinya dengan ASI yang telah diakui sebagai minuman terbaik dan tidak ada minuman produk olahan manusia yang mengalahkan kualitas gizi yang dikandung oleh ASI. Selama dua tahun lamanya merupakan tugas berat bagi seorang ibu; tetapi usaha itu bagian dari tanggung jawabnya guna mempengaruhi progress perkembangan dan pertumbuhan anak. Semua ini hanyalah sang ibu yang memahaminya. Karena itulah, suami harus memberikan nafkah yang halal dan thayyib guna seluruh hasil konsumsinya akan mempengaruhi siklus terbentuknya ASI.

Kedua, Seorang Istri dari Suaminya
Sebagai seorang istri perannya sangat strategis terhadap kesuksesan sang suami. Mengapa tidak, Alquran membahasakan “hunna libaasullakumwa antum libaasullahunna, istri-istri itu laksana pakaian bagi suami-suami dan suami-suami bagaikan pakaian bagi istri-istri”.

Busana memiliki fungsi penting: menutupi aurat, menutup segala yang dianggap kurang di antara mereka, dan saling melengkapi di antara keduanya. Busana atau pakaian juga berfungsi sebagai hiasan bagi pemakainya. Istri harus menjadi hiasan hidup bagi sang suami dan suamipun harus menjadi hiasan bagi sang istri. Jika kehangatan lahir di antara suami istri akibat busana yang indah; dapat dijamin generasi yang terlahir di antara keduanya akan menjadi generasi tangguh dan berkarakter mulia.

Dibalik kesuksesan seorang suami, terdapat istri luar biasa di belakang ataupun di sampingnya. Kesuksesan yang dicapai oleh baginda Nabi Muhammad SAW, tidak lepas dari peran penting dari istri-istrinya. Begitu banyak seorang suami sukses dalam segala karir disebabkan ada istri yang ikut memainkan perannya.

Dalam kehidupan rumah tangga, istri menjadi ahli gizi dan perawat kesehatan bagi suami dan anak-anaknya, patner kerja, konsultan bisnis, akuntan keuangan, penghibur, dan masih banyak lagi peran yang dengan peran tersebut mampu mendatangkan kekuatan dahsyat dalam kehidupan rumah tangga. Hal dan perilaku ini akan tertularkan kepada sang anak.

Tanggungjawabnya telah ditentukan oleh syari’at sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Wa al-Maratu Ra’iyatun ‘Ala Baitin Ba’liha wa Hiya Masulatun ‘Anhu, dan Istri itu pemimpin dalam rumah tangga dan anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggung jawabannya”.

Peran kepemimpinan istri dalam rumah tangganya lebih diarahkan pada penguatan keluarga sebagai institusi pendidikan pertama yang melahirkan generasi kuat, tangguh, dan shaleh. Sumber daya manusia akankuat apabila ibu mampu mengaktualisasikan peran dan fungsinya dengan baik.

Kenyataan di lapangan adanya generasi lemah, kualitas rendah, banyak terlibat dalam perilaku jahat, moralitas tidak terpuji dan sebagainya, kemungkinan adanya kesalahan menjalankan tupoksi seorang ibu. Emansipasi dan gender telah banyak melibatkan wanita dalam segala jenis pekerjaan. Tuntutan kerja bisa saja menjadi sebab kurangnya waktu berinteraksi bersama generasinya. Sehingga pelaksanaan tugas mulianya terabaikan.

Renungkanlah peringatan Allah SWT dalam Alquran Surah al-Nisaa ayat 9, jangan meninggalkan keturunan yang lemah. Seorang ibu harus terus belajar ilmu agar dapat menjadi guru terbaik bagi generasinya, konsumsilah jenis makanan dan minuman yang halal lagi bergizi, sisihkanlah waktu berinteraksi bersama anak-anak agar kasih sayangnya dirasakan oleh mereka.

Nabi Muhammad SAW menegaskan zaman anak keturunan kita berbeda dengan aman orang tuanya maka berikanlah pendidikan terbaik untuk mereka. Dengan demikian potensi sumber dayanya akan terisi dengan baik dan bermutu.Wallahul A’lam!

*) Penulis adalah Dosen Universitas Alkhairaat dan Ketua Baznas Kota Palu.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.