IAI Dukung Untad Buka Prodi Profesi Arsitek

Ditandai dengan Penandatangan  MoU dan MoA

- Periklanan -

PALU – Tidak lama lagi Fakultas Teknik Universitas Tadulako akan segera membuka Program Studi Profesi Arsitek (PPAr). Keseriusan membuka Prodi Profesi Arsitek ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Universitas Tadulako, Senin (27/1) di aula Fakultas Teknik Untad.

Digandengnya IAI untuk membuka Prodi Profesi Arsitek itu, bukan tanpa sebab. Universitas Tadulako sendiri, saat ini memang masih berakreditasi B, sehingga dalam membuka Prodi Profesi perlu menggandeng asosiasi profesi untuk menghasilkan lulusan yang kelak langsung berprofesi sebagai seorang arsitek.  IAI sendiri, merupakan asosiasi profesi, yang memiliki standarisasi arsitek dan telah diakui oleh dunia kearsitekan internasional.

Dalam MoU ini, hadir langsung Ketua Umum IAI, Ahmad Djuhara IAI yang turut dalam penandatanganan MoU bersama Rektor Untad, Prof Dr Ir H Mahfudz MP. Dalam sambutannya, Ahmad Djuhara menyampaikan, bahwa sesuai dengan undang-undang Nomor 6 Tahun 2017 tentang arsitek, profesi arsitek harus benar-benar memiliki standar kompetensi. Pendidikan arsitektur di tingkat Strata 1 saja, belum cukup.

IAI kata Ahmad Djuhara, kedepan bakal membantu pihak Universitas Tadulako terkait dengan tenaga pengajar. Persyaratan sendiri untuk membuka Prodi Profesi Arsitektur, harus ada dua orang pengajar dari tenaga profesi dan tiga orang pengajar internal perguruan tinggi. “Tentu ini kami sangat apresiasi pihak Untad, karena sudah mau ambil bagian dan menginginkan semua lulusannya dapat diterima dalam dunia kearsitekan,” sebutnya.

Pendidikan akademik selama lima tahun, hingga dinyatakan lulus sebagai arsitek, kata Ahmad Djuhara, memang belum bisa disebut profesi arsitek, karena masih harus magang terlebih dahulu selama dua tahun.  Layaknya seorang dokter, untuk mendapatkan gelar dokter, profesi arsitek pun, harus melalui tahapan-tahapan, seperti mengikuti magang minimal 2 tahun dan mengikuti proses registrasi, sertifikasi hingga lisensi. Hal itu penting, ketika arsitek dipercayakan dalam kerja-kerjanya berhubungan dengan arsitektur, sebagai pegangan hukum dengan adanya sertifikat atau lisensi sebagai seorang arsitek. “IAI sendiri memiliki rekomendasi untuk membantu Perguruan Tinggi yang belum berakreditasi A, untuk membuka Prodi Profesi Arsitek,” jelas Ahmad Djuhara.

- Periklanan -

Universitas Tadulako sendiri, sebut Ketua IAI, merupakan perguruan tinggi ke 19 yang melakukan kerjasama dengan IAI. IAI sendiri, dengan Kemenristek Dikti sejak 2015 sudah bekerjasama dan telah membuat standar pembelanjaran. “Sebenarnya sejak 2006 kita sudah ajukan standar pembelajaran, namun negara baru mengakui IAI untuk memberikan pembelajaran tahun 2015, sehingga tidak boleh sembarang memilih asosiasi profesi dalam melahirkan profesi arsitek,” papar Ketua IAI sembari menyebutkan bahwa standar kompetensi yang diberikan IAI, juga telah diakui dunia kearsitekan internasional.

TEKEN MOU : Rektor Untad bersama Ketua IAI saat penandatanganan MOU. FOTO : AGUNG SUMANDJAYA

Senada dengan Ketua IAI, Rektor Untad menyebutkan, kedepan lulusan Untad yang sudah memiliki sertifikat profesi akan semakin terbuka lapangan kerja, karena tidak perlu diragukan lagi. Karena dunia kerja kedepan, selain pendidikan formal di bangku perguruan tinggi, juga memerlukan pengakuan kompetensi profesi berupa sertifikat profesi. “Untad sekarang lewat Fakultas Teknik saya berikan tugas untuk mengurus Prodi Profesi, pertama insinyur yang sedang berproses, kedua profesi arsitek ini, yang kedepan bisa segera terwujud,” harap Rektor.

Dia juga berterimakasih kepada IAI, yang sudah ikut mendukung dan akan memfasilitasi terbentuknya Prodi Profesi Arsitek di Fakultas Teknik Untad. Rektor juga mendorong, para mahasiswa Teknik Arsitektur Untad, agar tidak terlalu lama menyelesaikan kuliah, sehingga bisa segera mengambil profesi arsitek. “Jadi kita coba hilangkan pandangan bahwa kuliah di arsitek itu harus menempuh waktu yang lama. Lima tahun saja paling lama, sudah harus bisa selesai dan kemudian mengambil Prodi profesi arsitek,” tandasnya.

Terpisah, Dekan Fakultas Teknik Untad, Andi Rusdin Phd mengatakan, kedepan bila Prodi Profesi Arsitek ini telah dibuka, maka lulusan Untad nantinya, semakin berdaya saing. Tidak hanya dalam negeri saja, namun juga secara global. Hal ini karena, asosiasi profesi yang digandeng, yakni IAI, juga memiliki standar profesi arsitek internasional. “Saya berharap Prodi ini segera dibuka, minimal semester depan sudah ada,” harap Dekan.

Sementara itu, Ketua IAI Sulteng, Taswin Bulu IAI secara pribadi mengaku, sangat bersyukur selangkah lagi Prodi Profesi Arsitek (PPAr) bakal berdiri, setelah penantian panjang. Hal ini kata dia, berkat kerja sama yang tulus dengan segenap anggota IAI Sulteng. “Ini sudah kami rintis sejak 2016, tujuannya agar Untad juga bisa sejajar dengan Unhas yang sudah lebih dahulu ada Prodi Profesi Arsiteknya,” kata Taswin.

Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik, Dr Ir Fuad Zubaidi , ST, MSC mengungkapkan, Fakultas Teknik khususnya Jurusan Arsitek sebenarnya sudah sejak lama bekerjasama dengan IAI. Namun khusus pembukaan Prodi Profesi Arsitek, mulai dibicarakan sejak 2016 yang lalu. “Kebetulan kami sebagian besar dosen di Jurusan Arsitektur ini adalah anggota IAI, jadi hubungan yang ada ini memang sudah terbangun lama. Dan dari 81 Perguruan Tinggi yang miliki Jurusan Arsitektur di Indonesia yang layak untuk dibuka Prodi Profesi Arsitek, yang benar-benar siap baru 19 perguruan tinggi, salah satunya kami,” kata Fuad.

Selain Penadantanganan MoU, Rektor Untad dalam kesempatan itu menyerahkan cinderamata kepada Ketua IAI serta dilakukan pula penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang antara Ketua Jurusan Arsitektur, Fuad Zubaidi bersama Ketua IAI Sulawesi Tengah, Taswin Bulu. Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Panitia, Rachmat Saleh ST MT, serta seluruh Civitas Akademika Fakultas Teknik juga pengurus IAI Sulteng. (agg)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.