Hutan Pinus Panorama Poso yang Kini Ramai Dikunjungi Wisatawan

Dikelola Swadaya Masyarakat, Jalan Menuju Puncak Masih Memprihatinkan

- Periklanan -

DARI simpang tiga tugu patung dua tokoh misionaris asal Belanda di tanah Poso, Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaas Adriani Kota Tentena Kabupaten Poso ada satu desitinasi ekowisata baru yang kini sedang populer dan ramai dikunjungi wisatawan, Hutan Pinus Panorama.

Laporan : Rony Sandhi-POSO

 

Jalan menanjak ke arah perbukitan yang dulunnya dikenal warga sebagai kawasan pesanggerahan Panorama terdapat destinasi baru yang ramai dibahas di Media Sosial (Medsos). Hutan Pinus Panorama atau yang baru masyarakat lokal sekitar Tentena Kabupaten Poso menyebutnya Yopo Pinus Panorama Tentena.

Luas jalan menuju puncak hutan pinus hanya sekitar 2 meter lebih itu dari bawah terlihat sudah teraspal seadanya. Selain itu di beberapa titik jalan banyak jalan berlubang. Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat banyak yang menuju ke puncak hutan pinus. Jarak menuju puncak hampir 1 kilo meter. Namun sekitar 100 meter menuju puncak hutan pinus dari lokasi yang dikenal dulunya sebagai Pesanggerahan Panorama jalan menanjak tidak teraspal. Bebatuan kerikil dan tanah berdebu menjadi jalan untuk bisa mencapai puncak tujuan ke hutan pinus.

Dengan mengendarai sepeda motor jenis matik, Radar Sulteng mencoba menjajaki jalur menuju destinasi yang menawarkan alam yang sejuk itu. Tepat di tanjakan yang basah karena terkena rembesan air dari pipa yang bocor terlihat sebuah mobil mini bus wisatawan berhenti. Sopir dari kaca samping depan mengarahkan tangannya ke depan mempersilakan kendaraan roda dua mendahuluinya, karena mobil yang dikendarainya memilih mundur dan parkir di tanah lapang di sekitar area pesanggerahan. “Motor maju-maju. Mobil ini ceper jadi tidak bisa terus, jalannya rusak,” kata sopir mengarahkan tangannya.

Beberapa pengendara motor lainnya yang berboncengan, penumpangnya terpaksa berjalan kaki menuju puncak karena jalannya berbatu dan terjal. “Jalan saja daripada jatuh. Jalannya parah,” kata salah seorang wisatawan yang mengaku berasal dari Kota Poso.

Mengendarai sepeda motor matik, Radar Sulteng harus menurunkan kedua kaki untuk menopang ketika kendaraan terhempas ke kiri dan kekanan akibat jalan berlubang dan berbatu. Debu coklat dari jalur yang dilalui kendaraan mewarnai jalur pendakian menuju puncak.

Ketika sampai di puncak, tampak jelas sebuah pos kecil dan seorang wanita muda mengenakan topi berdiri mengarahkan kendaraan pengunjung ke area parkir kendaraan yang sudah disiapkan. “Parkir sebelah sini pak,” kata wanita penjaga di pos masuk.

- Periklanan -

Jejeran motor parkir di lokasi agak di atas dan jejeran parkiran mobil berada di bawah dekat pos pintu masuk. Sambil mengarahkan kendaraan di titik parkiran wanita penjaga pos pintu masuk hutan pinus juga menyampaikan kepada pengunjung tarif kebersihan masuk lokasi hutan pinus. “Dua ribu rupiah untuk pengunjung dewasa. Anak-anak tidak dibayar. Parkir motor tidak dibayar,” kata wanita berkacamata sembari melemparkan senyum.

Salah seorang wisatawan dari Kota Palu, Rina bersama keluarga berlibur tahun baru di Kota Poso menyempatkan untuk singgah di tempat wisata yang sedang ramai diketahuinya dari postingan- postingan di media sosial. “Tadi kami dari Danau Poso Siuri. Setelah dari sana kami ke sini hutan pinus. Karena kebetulan ada di sekitar sini kami sempatkan ke tempat ini,” katanya.

Rina mengaku tempatnya sejuk dan asri dan bagus untuk rekreasi keluarga. Pemandangannya juga bagus. Di bagian bawah terlihat jelas Danau Poso dari ketinggian hutan pinus. Hanya saja jalan menuju ke puncak sangat rusak. “Sedangkan kami yang naik mobil was-was juga. Soalnya jalannya menanjak dan belum diaspal,” ucapnya.

Menurutnya, karena sudah ramai dikunjungi wisatawan baiknya pemerintah menjadikan kawasan ini sebagai prioritas perhatian. Jalan masuk ke lokasi ini harus segera diperbaiki, agar para wisatawan bisa lebih nyaman menuju lokasi ini. “Semoga pemerintah daerahnya bisa cepat memperbaiki prasarana jalan dan fasilitas pendukung di lokasi wisata hutan pinus ini,” ujarnya.

Senada dengan itu wisatawan lain, Agustina yang datang menggunakan sepeda motor mengeluhkan jalan menuju puncak yang belum diaspal. Dia terpaksa turun dari boncengan karena takut jatuh, karena jalannya berbatu-batu dan menjanjak. “Daripada jatuh lebih baik jalan sampai ke puncak,” ucap warga dari Kota Palu ini.

Penjaga pintu masuk hutan pinus, Enjel Sigilipu mengatakan beberapa bulan lalu Bupati Poso sudah mencanangkan sebagai Ekowisata hutan pinus di Bukit Panorama Tentena. Ekowisata alam pinus kerjasama Pemkab Poso dan Pemprov Sulawesi Tengah, Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sintuwu Maroso, dan Kelompok Pinus Panorama Tentena (KPPT). Saat ini kata Enjel, hutan Pinus Panorama masih dikelola secara swadaya oleh beberapa orang berkeluarga. “Waktu pak bupati berkunjung kesini, salah satu yang akan dibenahi beliau jalannya. Mudah-mudahan tahun 2020 sudah mulai ada perbaikan,” katanya.

Menurutnya, jalan ke kawasan hutan pinus dulunya cuma jalan petani penyadap getah pinus, makanya aspalnya hanya sampai di bawah dekat pesangrahan. Jalan menuju ke puncak hanya jalan berbatu dan belum diaspal.

Sejak viral di media sosial, menurut Enjel, pengunjung ke hutan  Pinus setiap liburan banyak pengunjung, tidak hanya dari warga sekitar Tentena dan Poso, bahkan dari dari Kota Palu dan luar Provinsi Sulteng juga banyak yang berkunjung. “Kalau ramai-ramainya pengunjung bisa sampai 1000 orang,” katanya.

Saat ini Enjel dan keluarganya mengelola kawasan wisata hutan Pinus Panorama Tentena Poso secara swadaya. Dengan membelakukan tarif kebersihan bagi yang berkunjung, Rp 2 ribu untuk pengunjung dewasa. Dari dana tarif kebersihan itulah yang digunakan untuk membiayai beberapa fasilitas penunjang seperti, kebersihan, tempat duduk pengunjung, tempat-tempat untuk spot foto. “Jadi yang kelola sementara disini masih swadaya. Fasilitas yang disini sementara masih kami yang siapkan,” terangnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.