Hutan Kota, Destinasi Baru yang Populer Pasca Bencana

Sehari Pengunjung Bisa Tembus 1.000, Foto Gaun Ala Korea Paling Diminati

- Periklanan -

Pasca bencana alam, gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang melanda wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala 28 September 2018, Hutan Kota Palu menjadi destinasi baru yang kini Hits dan ramai dikunjungi warga Palu maupun dari luar Kota Palu.

Rony Sandhi, TALISE-KOTA PALU

TRAGEDI bencana “tiga dimensi”, gempa bumi, tsunami dan likuefaksi tidak hanya memporak-porandakan kawasan pemukiman warga, tapi juga menghancurkan kawasan wisata pantai sepanjang Teluk Palu. Dari Pantai Kampung Nelayan, Pantai Talise, Anjungan Nusantara hingga ke kawasan pantai Taman Ria, yang dulunya sebelum diterjang tsunami adalah spot-spot yang paling ramai dikunjungi warga Palu maupun warga luar Kota Palu untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga maupun kerabat.

Pasca bencana, di saat warga korban bencana yang coba bangkit dari keterpurukan, sebuah destinasi baru muncul. Hutan Kota Palu Kamboana namanya. Terletak di sekitar perbukitan Jabal Nur, Kelurahan Talise, Kecamatan Matikulore. Dulunya kawasan ini adalah hanya kawasan hutan yang ditumbuhi pohon-pohon yang ditaman untuk kawasan penghijauan dan jarang dikunjungi orang. Juga Sering dijadikan sebagian warga untuk mengembalakan hewan ternak kambing warga sekitar.

Sekitar tahun 2017 Pemerintah Kota Palu, bersama Balai Prasarana dan Permukiman Wilayah (BPPW) Sulteng mulai berkolaborasi menata dan menyulap hutan dipenuhi belukar itu kini menjadi destinasi wisata baru dan terfavorit bagi warga Kota Palu.
Pemerhati Lingkungan, Zulfikar yang juga ASN di BPPW Sulteng mengatakan, kawasan wisata Hutan Kota kini menjadi kawasan komplit, dimana selain sebagai destinasi wisata, juga menjadi wadah wahana olahraga dan seni.

Terdapat beberapa wahana olahraga seperti, lapangan futsal, area permainan skateboard, lapangan basket, wahana ATV Adventure. Di bagian lain tepatnya di samping pintu utama masuk kawasan Hutan Kota Jalan Jabal Nur terdapat kawasan cafe-cafe UKM yang menjadi tempat santai warga untuk menikmati sore dan berakhir pekan bersama keluarga maupun kerabat. “Kawasan Taman Hutan Kota ini memang menjadi salah satu pilihan warga Palu setelah beberapa kawasan wisata di pesisir pantai rusak akibat disapu gempa dan tsunami 28 September 2018,” ujarnya, Kamis (13/9).

- Periklanan -

Menurut Zulfikar, saat ini dia bersama komunitas pencinta lingkungan sedang memprogramkan penghijauan dan penanaman pohon di sekitar kawasan Hutan Kota. Selain cocok untuk kawasan wisata, olahraga, seni dan menikmati aneka jajanan, kawasan Hutan Kota juga bisa menjadi kawasan eduksi lingkungan, baik penghijauan, olahraga dan upaya edukasi-edukasi lain, termasuk edukasi mitigasi bencana. “Semua pihak harus ikut terlibat dan mendukung kawasan Hutan Kota menjadi kawasan bermanfaat baik untuk lingkungan, wisata, olahraga dan terlebih memberi manfaat ekonomi untuk warga Kota Palu sendiri,” terangnya.

Senada dengan itu, salah seorang pedagang di kawasan Hutan Kota, Rukmini (53) mengaku, dengan adanya kawasan Hutan Kota bisa memberi keutungan untuk para pedagang. Dengan banyaknya pengunjung yang menikmati keindahan alam di Kawasan Hutan Kota, juga memberi manfaat ekonomi bagi warga yang berdagang. “Lumayan lah pak. Sekarang ini kan setelah gempa bumi susah cari kerjaan. Dengan jualan disini bisa ada pendapatan,” kata ibu yang mengaku tinggal di Huntara Lapangan Golf.

Setiap hari kata Rukmini, pengunjung Hutan Kota khususnya yang datang menikmati pemandangan maupun yang berfoto-foto di jejeran pohon-pohon dan jejeran pohon Kaktus setiap hari ramai saat sore antara pukul 15.00 sampai hampir magrib. Selain foto dengan pemandangan yang ada, salah satu yang juga ramai adalah foto menggunakan pakaian ala Korea, lengkap dengan payungnya yang juga disiapkan khusus disewa untuk pengunjung yang ingin berfoto. Setelah dikenal luas kini kawasan Hutan Kota setiap sore hari ramai dikunjungi dari berbagai usia.

Sehari bisa sampai sekitar 500 pengunjung di hari biasa. Kalau saat akhir pekan pengunjung lebih banyak lagi, bisa sampai 1.000 pengunjung. Dengan adanya penjual di kawasan Hutan Kota, pengunjung yang kehausan atau butuh makanan bisa langsung ke warung-warung yang ada. “Kalau siang sampai sore saya jualan disini. Kalau malam saya jualan di jejeran cafe di pinggir jalan Jabal Nur. Soalnya pengunjung disini Cuma sampai sore, kalau malam tidak ada, kan juga tidak ada lampu penerangan di Hutan Kota,” ujarnya.

Hasil amatan Radar Sulteng, jejeran warung yang menjual berbagai makanan dan minuman cepat saji dan penyewaan pakaian ala Korea terletak di bagian paling timur kawasan Hutan Kota. Di depan pintu masuk ke area kawasan Hutan Kota, ada satu wahana balapan ATV Adventure yang rutenya dibuat di sekitar simpang tiga jalan utama masuk ke kawasan Hutan Kota.

Beberapa pekerja tampak sedang bekerja menyelesaikan fasilitas pendukung di sekitar kawasan Hutan Kota Palu. Menurut beberapa pedagang pekerja sedang menyelesaikan toilet umum dan fasilitas lain seperti ruang ganti bagi pengunjung untuk mendukung fasilitas panggung pertunjukan seni outdoor yang masih dalam proses perampungan pekerjaan, yang letaknya bersebelahan dengan kawasan Hutan Kota Palu. Saat ini karena belum ada toilet umum, para pedagang, bersama pihak yang dipercayakan mengawasi kawasan Hutan Kota Palu berinisiatif membuat toilet umum darurat. “Toilet umum masih darurat dibuat. Hanya pakai dinding seng dan pintunya hanya ditutup kain,” kata pemilik warung lainnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.