Hujan, Jalan Diponegoro Berubah Jadi “Sungai”

- Periklanan -

Warga yang mengendarai sepeda motor tampak mengurangi kecepatan ketika melintas di Jalan Diponegoro, Senin (3/7) malam. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Hujan deras yang mengguyur Kota Palu, Sulawesi Tengah mengakibatkan genangan air di sejumlah Jalan poros di Kota Palu. Tidak hanya itu, buruknya saluran  drainase akibat sampah, juga menjadi salah satu faktor tergenangnya air di jalan serta rumah warga, Senin malam (3/7).

Dari pantauan Radar Sulteng beberapa jalan digenangi air setinggi 20 centimeter. Seperti yang terlihat di Jalan Diponegoro di depan Asrama Donggala. Masyarakat pun berinisiatif menutup salah satu ruas jalan ke arah utara dengan memasang plang di badan jalan.

Selain itu, beberapa ruas jalan juga tergenang dengan ketinggian bervariasi dari 10 sampai 20 centi meter seperti di Jalan Gajah Mada, Teuku Umar, dan HOS Cokroaminoto.  Iqbal salah seorang pemilik warung kopi, yang tinggal di Jalan Diponegoro mengatakan, banjir seperti ini sudah sering kali terlihat jika hujan deras. Dirinya juga mengaku harus menutup warungnya sementara untuk membersihkan sisa luapan air drainase yang dipenuhi sampah dan berbau busuk.

“Kalau air yang masuk ini, ketinggiannya sampai di mata kaki. Ini pengaruh sampah didrainase jadi air meluap dan masuk ke dalam warung,” kata Iqbal kepada Radar Sulteng.

- Periklanan -

Lebih lanjut kata Iqbal, melihat kondisi air yang mulai meluap, dirinya beserta tiga orang rekanya turun ke drainase untuk membersihkan sampah. Dirinya juga mengaku tidak mengalami kerugian yang signifikan, karena sejumlah alat-alat elektronik langsung diamankan.

“Ini hujan mulai jam 19.00 wita sampai jam 03.00.  Ketika kita turun ke drainase, kita menemukan batang pohon palem kurang lebih panjangnya 3 meter. Setelah membersihkan selama dua jam, air  mulai surut,” sambungnya.

Melihat seringnya terjadi banjir diwilayah tersebut, dirinya (Iqbal. Red) berharap agar Pemerintah Kota Palu, bisa bertindak untuk menanggulangi drainase yang sering tersumbat sehingga mengakibatkan banjir. “Dulu sudah ada petugas kebersihan, tetapi turunnya nanti ada kejadian. Ini kan sampah datang terus jadi saya harap, sebelum hujan deras lagi  agar ditindaklanjuti,” tandas Iqbal.

Sementara itu, Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Klas II Mutiara Palu, Isna Putri megatakan, curah hujan di wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari belakangan ini memang tergolong masih tinggi. Kenaikan curah hujan tersebut, dapat terpantau di beberapa hari kemarin. Khusunya di Kota Palu, hujan dengan intensitas rendah mulai terlihat dibeberapa titik.

“Untuk di bulan Juli ini memang, bulanya agak sedikit basah dibandingkan bulan yang lain. Maksudnya itu, tingkat intensitas hujanya lebih meningkat. Tapi tidak bisa dibilang musim hujan,” kata Isna Putri kepada Radar Sulteng, Selasa (3/7) kemarin ditemui di kantornya.

Lanjut Isna, kondisi cuaca seperti ini memang sering terjadi dibulan Juli. Pasalnya kondisi cuaca di Kota Palu merupakan wilayah Non Zona Musim (Non Zom), yaitu wilayah yang tidak mempunyai batas yang jelas antara periode musim hujan dan musim kemarau. “Kalau tahun ini agak lebih bergeser karena hujan sudah mulai meningkat di akhir Juni,” pungkas Isna.   (win)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.