Hujan Intensitas Lama masih Berpotensi Terjadi

- Periklanan -

Korban Banjir Tolitoli Bertambah

Warga mendatangi sungai Tuweley. Mereka rela antre dan berdesakan agar bisa mandi dan mencuci serta membawa pulang air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. (Foto: Yuslih Anwar)

PALU – Wilayah Sulteng masih waspada bencana alam dalam satu minggu ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mutiara Palu memprediksikan wilayah di Sulteng yang mempunyai karakteristik banjir perlu mempersiapkan diri. Potensi hujan durasi yang lama dengan intensitas sedang masih akan terjadi hampir di seluruh Kabupaten/Kota di Sulteng.

“Curah hujan tinggi dan meningkat di seluruh wilayah Sulteng sepekan ke depan,” kata Affan Nugraha kepada Radar Sulteng di Kantor BMKG Mutiara Palu, Senin (5/6).

Affan menyebutkan, cuaca ini dipengaruhi dengan munculnya MJO atau Madden-Julian Oscillation adalah fenomena global atmosfer. Masa hidup MJO di Sulteng akan berlangsung selama 30 hari. BMKG menyatakan MJO ini sudah berlangsung sepekan terakhir, dan puncak maksimumnya pada dua hari lalu ketika intensitas hujan hampir tidak berhenti selama dua hari di Sulteng. Namun, menurut Affan masa hidup MJO masih bisa berubah kapan saja, jika ada faktor global lain yang dapat memengaruhi.

Affan mencontohkan, wilayah Sulteng yang perlu diwaspadai dan berkarakteristik banjir, seperti Tolitoli, Buol, Poso, Morowali, Morowali Utara, dan Donggala. Untuk kepulauan yang diwaspadai adalah di jalur penyeberangannya. Karena dari cuaca buruk akan berdampak dengan ketinggian gelombang yang meningkat, seperti di Kepulauan Salakan dan Togean.

“Intinya seluruh Kabupaten yang karakteristiknya banjir menyiapkan diri,” lanjut Affan.

Dalam kalender BMKG, memasuki bulan Juli Sulteng akan memasuki musim kemarau, dan pada bulan Juni saat ini seharusnya sudah mulai terik matahari.

“Akan tetapi, karena adanya fenomena MJO cuaca masih cukup basah,” terang Affan.

Untuk Kota Palu, menurut Affan perlu diwaspadai debit air sungai Palu yang bisa meningkat dalam sepekan ke depan. Apalagi potensi hujan mengguyur Kabupaten Sigi masih ada, namun dengan intensitas sedang.

“Mungkin hanya ini sumber air terbesar di Kota Palu,” ujarnya.

Data dari BWS Sulawesi III permukaan sungai Palu dua hari lalu sempat naik hingga diketinggian 246 centi meter, dan masuk kategori waspada. Hasilnya, ratusan rumah di tujuh Kelurahan yang berdampingan langsung dengan Sungai Palu digenangi air kurang lebih 20 jam lamanya. Data terakhir BWS Sulawesi III sekitar pukul 13.00, Senin (5/6), ketinggian air surut menjadi 1.8 m, termasuk kategori siaga I. Sedangkan untuk klasifikasi ketinggian air di Sungai Palu pada BWS Sulawesi III diantaranya siaga I diketinggian 1.75-2 m, siaga II 2.01-2.5 m, dan siaga III 2.51-3.5 m.

Untuk menanggulangi bencana di berbagai daerah di Sulteng, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulteng bergerak cepat dengan menurunkan 60 personil yang disebar ke berbagai titik bencana, sekaligus bergabung dengan BPBD Kabupaten setempat dan aparat lainnya.

“Kalau akses jalan Provinsi info terakhir seluruhnya sudah tembus,” kata Kepala BPBD Sulteng, Bartholemeus dihubungi Radar Sulteng, Senin malam.

Dia menyebutkan, pihaknya saling bahu-membahu dalam kegiatan penanggulangan bencana. Ada yang ke lokasi bencana dan ada yang stand by di posko.

Data BPBD Sulteng korban meninggal di Tolis bertambah menjadi 4 orang yaitu Salima (40) warga Kelurahan Tuweley, Kecamatan Baolan. Rahmi (62) warga Kelurahan Tambun, Kecamatan Baolan. Kadek Susila warga Desa Tinading Kecamatan Lampasio. Dan perempuan yang belum diketahui identitasnya perkiraan usia 50 tahun warga Desa Tinading Kecamatan Lampasio. Sementara itu korban hilang masih dalam pencarian tim SAR atas nama Mae (43) dan Sastro (42) masing-masing adalah warga Desa Ogomoli, Dusun Doyan, Kecamatan Galang.

“Untuk Kabupaten lain kami masih menunggu info. Artinya belum ada data yang valid, jika jaringan komunikasi cukup lancar saat ini,” kata Bartholemeus.

- Periklanan -

Sebelumnya menurut Bartho, tim yang membawa logistik menuju Tolis tidak dapat dihubungi selama sehari semalam.

Basarnas Kantor SAR Palu turut membantu korban banjir Sulteng. Dari data Kantor SAR Palu ada 3 musibah banjir yang ditangani diantaranya musibah banjir bandang di Tolis, tim diberangkatkan pada 3 Juni lalu. Kemudian banjir di Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai, dan Desa Balukang Kabupaten Donggala. Sedangkan pencarian orang hilang terdapat di dua lokasi yaitu di Ampibabo seorang nelayan hilang dan Tanjung Tuwis dilaporkan juga seorang nelayan hilang diperairan km 8 Kecamatan Luwuk Selatan.

“Nelayan di Tuwis sudah ditemukan dalam keadaan selamat di Pulau Peleng oleh nelayan setempat selanjutnya dievakuasi di Kelurahan Tuwis,” kata Kepala Kantor SAR Palu, Jafar Henaulu.

Jumlah personel di lima lokasi yang didatangi Kantor SAR Palu sebanyak 31 personil. Dia menambahkan, personil SAR siap jika ada laporan masyarakat atau bencana alam yang terjadi.

“Kalau pencarian orang hilang dari laporan warga, sedangkan membantu korban banjir inisiatif dari Basarnas Kantor SAR Palu,” tutup Jafar.

Pipa Air PDAM Tolis Rusak 

Sementara Pasca diterjang banjir pada Sabtu malam lalu, warga Kabupaten Tolitoli khususnya di ibu kota kabupaten, sejak Minggu sampai dengan Senin kemarin, dihadapkan pada kondisi yang cukup memprihatinkan, akibat tidak tersalurnya air bersih keseluruh rumah warga.

Managemen PDAM Ogomalane Tolitoli menjelaskan, saat ini distribusi air bersih ke seluruh konsumen berhenti total. Hal ini disebabkan, empat batang pipa induk yang ada disekitar bak penampungan terputus dan terseret banjir pada Sabtu malam lalu. Sementara untuk memperbaikinya pihak PDAM tengah berupaya mendatangkan tenaga teknis dan peralatan memadai, agar kerusakan tersebut bisa segera diatasi.

“Butuh waktu paling cepat seminggu untuk bisa memperbaikinya, itupun jika tidak ada kendala non teknis. Saat ini tengah kami upayakan perbaikan, mudahan bisa cepat selesai,” jelas Direktur PDAM Ogomalane, Arnold Rasang saat dikonfirmasi kemarin.

Imbas dari mati totalnya air bersih tersebut, jangankan untuk melakukan pembersihan sisa material lumpur banjir yang mulai mengering, untuk mandi, cuci kakus bahkan untuk kebutuhan minum, warga terpaksa harus mendatangi sumber air, seperti sungai dan sumur yang kebetulan dimiliki warga lain.

Amatan media ini Senin (5/6) kemarin, warga sejak pagi tampak terus memadati sumber air sepanjang hulu sungai Kelurahan Tuweley.

Selain bertujuan untuk mandi dan mencuci, banyak pula warga yang datang mengambil air menggunakan mobil bak terbuka, truk yang dipasangi terpal tenda, bahkan motor dengan membawa galon dan jerigen. Sepanjang pagi hingga sore hari kemarin, tampak warga tak henti-hentinya mendatangi sungai tersebut. Ada yang datang berkelompok menggunakan mobil, cukup banyak pula rombongan yang mengunakan motor sambil membawa peralatan mandi dan tempat penampungan air untuk dibawa pulang.

“Walau airnya masih keruh, kami tidak punya pilihan lain, selain datang kesini. Kalau tidak, mau mandi dimana lagi pak?, cuma disini satu-satunya tempat mandi sementara,” tutur Fitriyanti warga Kelurahan Panasakan saat ditemui usai mandi di sungai tersebut.

Kondisi memprihatinkan lainnya akibat tidak tersalurnya air PDAM yakni, rumah warga, kantor Pemerintah dan swasta, pertokoan serta sekolah  saat ini, sebagian besar hanya dibiarkan dengan kondisi berlumpur material banjir yang mulai mengering. Rata-rata warga dan para pegawai swasta dan ASN yang masuk kantor hanya bisa mengamankan barang inventaris, menjemur dokumen yang basah maupun mengelurkan ATK dari dalam kantor untuk dibersihkan seadanya.

Sementara adapula kantor maupun rumah warga yang tampak melakukan pembersihan material dengan memanfaatkan air dari aliran saluran drainase yang disedot menggunakan alkon. Pantauan media ini Senin kemarin, hampir seluruh kantor pemerintah maupun swasta serta perbankan tidak melayani masyarakat, seluruh karyawan maupun PNS tampak disibukan dengan aktifitas pembersihan. Bahkan ada kantor seperti kantor Balitbangda, Pariwisata, kantor KUA, Dinas Pertanian, kantor Camat Baolan tidak dibuka karena halaman dan dalam kantornya tertutup lumpur yang cukup tinggi.

“Mau masuk juga, sepertinya sia-sia pak, tidak bisa dibersihkan. Tidak ada air, lagi pula isi kantor sudah terlanjur terendam,” ujar salah seorang staf kantor pariwisata.

Saat ini kondisi terkini dalam kota Tolitoli, selain banyak kantor yang pegawainya pasrah dan menunggu air bersih kembali normal. Tebalnya debu hampir di semua jalan dalam kota sangat mengganggu aktifitas berkendara, bahkan sejumlah jalan seperti, Jalan Magamu, Ahmad Yani, Syarif Mansyur, Veteran dekat bundaran, WR Supratman, Sultan Hasanuddin, ketebalan debu yang bertebaran telah mempengaruhi jarak pandang. (acm/yus)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.