Hoax Penemuan Bayi Bikin Sibuk Polisi

- Periklanan -

PALU – Bijaklah bermedia sosial jika tidak ingin berurusan dengan hukum. Hal ini dialami pemilik akun Sucitra Febiola, yang mem-posting kabar bayi dibuang di sekitar lokasi STQ, Jalan Soekarno-Hatta. Postingannya pun ternyata hoax atau informasi palsu.

Anggota Polsek Palu Timur langsung mendatangi rumah milik seorang perempuan pemilik akun FB Sucitra Febiola yang memposting berita hoax penemuan bayi di STQ jalan Soekarno Hatta. (Foto: Istimewa)

Foto yang diunggah, ternyata diambil dari internet yang tidak jelas sumbernya dan diposting di grup media sosial facebook. Informasi yang diposting itu pun sempat membuat aparat kepolisian, khususnya anggota Polsek Palu Timur menjadi kewalahan mencari kebenaran informasi tersebut pada Kamis (17/5).

Pasalnya, informasi di media sosial ini mendapat atensi langsung Kapolres Palu, yang langsung memerintahkan anggotanya ke TKP. Setelah memastikan postingan itu hoax, giliran pemilik akun yang memposting tersebut, diburu petugas.

- Periklanan -

Setelah mengetahui alamat lengkap pelaku, petugas langsung mendatangi. Ternyata yang memposting tersebut adalah seorang ibu rumah tangga. Petugas pun hanya meminta ibu tersebut menghapus postingan tersebut dan meminta maaf di akun facebooknya, karena telah menyebar informasi hoax.

“Yang bersangkutan tidak diproses, hanya diberikan teguran agar tidak mengulangi hal yang sama,” ujar Kapolsek Palu Timur, AKP Lusi Setiawati.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Palu, Ichsan Hamsah SH MSi mengungkapkan, media sosial seharusnya menjadi alat untuk informasi atau pemberitahuan yang memang layak dibaca. Bukan sebaliknya, menjadi alat untuk memberikan informasi bohong atau hoax.  “Kalau berita penyampaiannya bermuatan tidak baik maka hal itu akan bisa mengarah ke pidana (hukum),” ungkapnya.

Proses pidananya pun seharusnya tetap dilakukan, jika ada yang dirugikan atas pemberitaan yang di sampaikan oleh pemilik akun tersebut. “Meski akunya sudah dibuang, sudah tidak dipergunakan lagi, bakal tetap akan ketahuan dengan kecanggihan alat modern saat ini, cepat atau lambat orang tersebut akan ditemukan karena telah menyebabkan kerugian bagi banyak orang,” tuturnya.

Yang terbaru kata dia, banyak masyarakat yang mem-posting kembali, terkait informasi yang belum diketahui kebenarannya, namun sudah tersebarluaskan dan dipercaya oleh orang lain. Contohnya, terkait isu terorisme yang sumbernya tidak jelas, diposting kembali yang seolah-olah memprovokasi antar kelompok masyarakat. “Pengguna Medsos yang bijak, bila menerima berita melalui Medsos, tidak sembarang mem-posting kembali atau repost, melainkan harus menelusuri dahulu, apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak.,” imbau Kepala Dinas Kominfo ini. (who/zal)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.