HMI Palu Desak Polisi Tutup Tambang Poboya

- Periklanan -

DATANGI POLDA: Belasan aktivis HMI Cabang Palu saat berorasi di depan Kantor Polda Sulteng di Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu, Selasa (7/2). (Foto: Safrudin)

PALU – Kekhawatiran akan bahaya aktivitas tambang emas di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, terus bermunculan. Siang kemarin (7/2), belasan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam cabang Palu turun ke jalan meminta kepada penegak hukum untuk menutup aktivitas tambang yang tepatnya berada di Vatutempa, Kelurahan Poboya, tersebut.

Mereka berdemo di depan Mako Polda Sulteng di Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu. Saat berorasi, aktivis HMI mendesak Polda Sulteng untuk segera menutup aktivitas tambang Vatutempa di Poboya. Tambang itu juga ilegal atau tak mengantongi izin.

Dalam aksi yang dipimpin langsung Ketua HMI Cabang Palu, Zaenal, massa aksi mengultimatum pihak kepolisian agar bertindak tegas dalam menindak aktivitas tambang emas. “Masyarakat Kota Palu sudah dikepung dengan bahaya, akibat aktivitas tambang di Poboya yang telah menggunakan zat kimia berbahaya,” kata Zaenal dalam orasinya kemarin.

Massa aksi tampak membawa beberapa spanduk dari karton yang ditulis dengan spidol. Isinya tak lain, meminta kepada kepolisian untuk tidak membiarkan aktivitas tambang emas beroperasi lagi.

- Periklanan -

Zaenal yang merupakan mahasiswa jurusan FKIP Kimia Untad Palu menyatakan, zat merkuri sifatnya menyerap dalam tanah. Sehingga dapat dipastikan, air bawah tanah di Palu sudah tercemari zat berbahaya. Itu sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup masyarakat Palu saat ini dan ke depannya.

Sedangkan penggunaan sianida, menurut Zaenal, juga sangat membahayakan. “Sianida akan menguap dan turun bersamaan dengan hujan yang turun. Kita yang berada di Kota Palu sudah dikepung racun. Ini jangan kita lakukan pembiaran,” desak mereka.

Sementara itu, pimpinan Polda Sulteng tidak satupun yang bersedia menerima massa aksi dengan alasan sedang melakukan rapat. “Pimpinan sedang rapat di dalam. Jadi belum bisa bertemu,” kata salah satu anggota kepolisian menjelaskan kepada massa aksi yang beroperasi di depan pagar Kantor Polda Sulteng.

Meski tidak ada perwakilan Polda yang menerima mereka, tapi Zaenal berjanji akan tetap melakukan aksi yang serupa, bahkan dengan massa dalam jumlah yang lebih banyak. HMI Cabang Palu tetap tak setuju dengan aktivitas tambang Poboya.

“Kami tidak mau membiarkan masyarakat Kota Palu terkena racun. Kita akan tetap komitmen menuntut penutupan. Paling tidak, pimpinan Polda bisa menjelaskan kepada kami terkait tambang Poboya, kenapa masih saja beroperasi. Apalagi sudah beroperasi dengan adanya sejumlah alat berat di sana,” kata para pendemo. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.