Hingga Kini Gaji Guru Honorer Daerah Terpencil Belum Dibayarkan

- Periklanan -

DONGGALA-Sejumlah guru honorer Kabupaten Donggala di Kecamatan Balaesang Tanjung terus merasa resah, karena gaji dan hak-hak mereka ternyata belum diterima hingga kini. Dipertanyakan integritas dan kepedulian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala sebagai pengelola gaji guru honorer daerah terpencil Kabupaten Donggala.

Meski Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala pernah mengumpulkan ke 35 orang guru honorer daerah terpencil di wilayah Balaesang Tanjung di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini, tetapi realisasi yang dikatakan penanggungjawab honorer daerah terpencil Hikmah Lassa sudah dibayarkan, ternyata belum sama sekali. Buktinya, masih ada guru honorer yang belum menerima hak mereka berupa gaji, melalui nomor rekeningnya.

” Mungkin ada yang sudah dibayar separuh-separuh, misalnya dua Triwulan (TW), atau hanya ada yang bayar satu TW saja. Bahkan laporan yang masuk kepada kami ini ada yang sama sekali belum dibayar gaji guru honorer selama 9 bulan atau 3 TW, ” ungkap salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten Donggala, Mohammad Yasin Lattaka SE MM, kepada Radar Sulteng, Rabu (23/1).

Yasin menanggapi pernyataan guru honorer yang mendatangi Graha Pena Radar Sulteng setelah diundang penanggungjawab honor Hikmah Lassa di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala belum lama ini, antara lain Nontje dan Mohammad Senapati.

” Kami disuruh ibu Hikmah untuk datang ke Radar Sulteng dalam rangka memberitahukan kalau gaji kami sudah dibayar. Ada yang sudah dibayar dua TW. Ini yang diminta oleh ibu Hikmah untuk memberitahukan ke Radar Sulteng bahwa gaji guru honorer daerah terpencil di Balaesangn Tanjung Donggala itu sudah dibayar, ” tutur Nontje mewakili 35 orang guru honorer daerah terpencil yang dipanggil Dinas Pendidikan Donggala, kepada Radar Sulteng, saat mendatangi kantor Graha Pena.

- Periklanan -

Menurut Yasin, dengan belum dibayarkan gaji guru honorer tersebut, maka pihaknya bersama guru honorer di wilayah Balaesang Tanjung akan melakukan somasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala terkait belum dibayarkannya gaji guru honorer daerah terpencil khususnya yang bertugas di wilayah Kecamatan Balaesang Tanjung.

“Dan bila perlu, kalau somasi ini belum juga menemukan solusi atau titik terang pembayaran gaji dan hak-hak saudara-saudara kami guru honorer ini, maka kami akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Sebab mereka diangkat sebagai guru honorer di daerah terpencil dengan surat resmi oleh pejabat negara, dan diatur dalam undang-undang yang berlaku, ” tandas Yasin.

Yasin merasa terpanggil untuk mendampingi para guru honorer di Kecamatan Balaesang Tanjung, karena melihat guru honorer terzolimi hanya karena dugaan sentimen politik. Selain itu, beberapa orang guru honorer diantara 35 guru honorer daerah terpencil yang ada di Balaesang Tanjung dan sudah menghadiri undangan Dinas Pendidikan, dikait-kaitkan dengan Iyamo Kami, yakni jargon salah satu pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Idam Pagaluma SH dan Moh Yamin Lattaka SE di Pilkada Kabupaten Donggala tahun 2018 lalu. Gaji mereka belum dibayar lunas sesuai dengan hak-haknya berdasarkan aturan yang berlaku, diduga lantaran mendukung paslon Iyamo Kami tersebut.

Yasin pun kecewa, karena belum ada tindakan yang berarti dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala, sebagai pihak yang berwenang untuk mencairkan gaji guru honorer.

” Mestinya, gaji guru honorer daerah terpencil ini dituntaskan saja pembayarannya. Karena diperoleh kabar, bila gaji tersebut masih ditahan pengelola gaji guru honorer daerah terpencil, dengan berbagai alasan, ” pungkasnya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.