Hasil Visum Dituding Tidak Benar, Oknum Dokter Dilapor

- Periklanan -

PALU – Salah seorang dokter Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu dipolisikan, terkait tudingan surat laporan hasil visum et repertum (VeR) yang tidak benar. Pelapor dalam kasus ini, adalah Tonny Satya Mangitung.

Ilustrasi (@jogjakartanews.com)

Laporan polisi sendiri, dilayangkan Tonny pada 5 April 2018 lalu, di Polda Sulteng, dengan nomor laporan polisi : LP/172/IV/2018/SPKT. Dugaan pemalsuan itu kata Tonny, bahwa apa yang tercantum dalam VeR, nomor 353/33/V/2017/RSU, ditandatangani oleh dr AP yang juga melakukan visum terhadap Septina F Mangitung, dinilai tidak sesuai dengan aturan pembuatan VeR.

“Atas VeR yang tidak sesuai aturan itu lah, yang dijadikan sebagai bukti  untuk menjerat saya hingga memberatkan hukuman dalam kasus dugaan penganiayaan yang dituduhkan kepada saya,” terang Tonny.

Menurut Tonny, banyak kejanggalan di dalam VeR yang dibuat oleh terlapor dr AP, di mana seharusnya VeR dibuat atas dasar apa yang dilihat dan ditemukan oleh dokter kepada pasien yang diperiksanya, bukan berdasarkan keterangan dari pasien. Anehnya, menurut Tonny, dalam surat VeR, yang dibuat oleh dr AP, pada point 1 menyebutkan bahwa dokter menemukan luka dan nyeri di wajah hidung serta pusing setelah dipukul (tinju tangan).

“Di poin 1 ini sudah sangat jelas betapa tidak objektifnya VeR yang dibuat dokter tersebut, yang disampaikannya di dalam VeR tersebut bukan apa yang dilihat, karena dia menyebutkan nyeri dan pusing setelah dipukul, itu berdasarkan keterangan pasien,” ungkap Tonny.

Masih menurut Tonny, di point ke 4 VeR tersebut, diterangkan bahwa daerah mata kiri Septina robek dan bengkak serta nyeri bila ditekan. Sementara, jika benar robek, mengapa di sekitar daerah mata yang bersangkutan tidak dijahit ataupun diperban.

- Periklanan -

“Ini kan aneh, dia sebut robek, tapi saya sendiri lihat tidak ada bekas jahitan atau minimal diperban di sekitar mata yang bersangkutan,” katanya.

Seharusnya, lanjut dia, jika memang hal itu berdasarkan keterangan pasien yang diperiksa, dokter seharusnya mencantumkan bahwa VeR merupakan hasil Anamnesis atau wawancara ke pasien. Bukan berkesimpulan, seolah-olah mengetahui atau menyaksikan proses terjadinya luka.

“Kesimpulan VeR yang dibuat dokter AP ini juga memberatkan saya di pengadilan, karena ada bahasa luka robek, bengkak, berdarah di daerah hidung dan mata sehingga korban perlu perawatan khusus dan sebabkan halangan bekerja,” ungkap Tonny.

Nyatanya, kata Tonny, kesimpulan itu tidak sesuai fakta yang ada, di mana Septina, yang juga adik dari pelapor, tidak dirawat inap dan lukanya pun tidak dijahit. Atas dasar itu lah, maka Tony melaporkan dr AP, ke Polda Sulteng, atas tuduhan pemalsuan surat.

“Karena dalam VeR tersebut dia membuatnya tidak objektif, maka otomatis surat itu pun patut kami duga palsu. Dan atas perbuatannya itu lah dalam sidang saya divonis berat oleh pengadilan,” paparnya.

Terkait laporan polisi yang dilayangkan Tonny ke Polda Sulteng itu, ditanggapi dingin dr AP. Dia mengaku, belum mau menanggapi terkait apa yang dituduhkan Tonny terhadap dirinya. AP juga mengaku, belum mengetahui dan mendapat informasi resmi bahwa dirinya dilaporkan ke Polda oleh Tonny.

“Itu kan persepsi dia. Nanti lah saya tanggapi kalau sudah ada panggilan dari penyidik,” singkat dr AP saat dikonfirmasi sore kemarin. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.