Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Hasil Otopsi, Ditemukan Luka Bekas Benturan di Tubuh Jufri

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Jasad almarhum Jufri, yang berada di dalam peti jenazah usai disolatkan, dan dipulangkan kembali kepada keluarga, Kamis (12/10). (Foto: Agung Sumandjaya)

PALU – Pihak kepolisian akhirnya melakukan otopsi terhadap jenazah Jufri (51), warga Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parimo, yang diduga tewas tidak wajar. Dari tubuh Jufri, yang dituduh sebagai pelaku aksi Curanmor tersebut, ditemukan penyebab kematiannya akibat pendarahan di bagian paru-paru juga di selaput otak bagian belakang kepala.

Otopsi terhadap jasad pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai buruh angkut beras di Gudang Bulog Olaya ini, baru dimulai sekitar pukul 13.00 wita, setelah dokter forensik dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polri, di Makassar tiba di Rumah Sakit Bhayangkara, Kamis (12/10) kemarin.

Kurang lebih 2 jam menunggu, akhirnya tim dokter, selesai menjalankan tugasnya melakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian dari korban.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sulteng, Kombes Pol Mohammad Aris Purnomo turut hadir di Rumah Sakit Bhayangkara, guna memantau langsung jalannya otopsi. Kepada wartawan, Aris mengungkapkan, bahwa kejadian meninggalnya Jufri tersebut, dianggapnya sebagai suatu musibah, yang meski korban merupakan pelaku kejahatan, namun pihaknya tetap menyelidiki penyebab kematian korban.

“Memang hasil penyelidikan sementara dia mencoba lari kemudian loncat dari jembatan yang cukup tinggi, kami juga sudah lihat TKP. Namun untuk kuatkan itu, kita undang Labfor lakukan otopsi,” jelas Wakapolda.

Meski begitu, secara terus menerus, 7 orang personel Polres Parimo yang terlibat dalam penangkapan terhadap almarhum diperiksa oleh pihak Propam Polda Sulteng.

Disinggung terkait dengan posisi TKP, yang jauh dari Mapolres Parimo dan bukan di jalan arah ke Mapolres, Wakapolda, mengatakan, bahwa saat itu anggota Polres Parimo tersebut, memang sengaja membawa korban untuk menunjukkan siapa penadah dari sejumlah motor yang diduga hasil curiannya. “Itu sebenarnya teknis penyelidikan aparat di lapangan,” tuturnya.

Begitupun terkait surat penangkapan terhadap korban pun juga diakui Wakapolda ada. Namun pernyataan Aris, yang didengar oleh istri dari almarhum Jufri yang juga berada di sekitar kamar mayat, langsung dibantah.

“Tidak ada surat penangkapan,” teriak istri dari almarhum, yang langsung coba ditenangkan oleh Wakapolda, yang melanjutkan wawancara.

Lebih lanjut disampaikan Aris, bahwa nantinya, hasil dari otopsi ini, akan kembali dicocokan dengan hasil penyelidikan di TKP. Nantinya, jika memang terbukti anggotanya melakukan pelanggaran, maka pihaknya siap untuk melakukan proses hukum.

“Ini memang butuh proses (hasil dari penyelidikan), salah satunya lewat otopsi untuk lihat penyebab kematian. Intinya kita tidak akan tutup-tutupi dan membela anggota jika salah,” tegasnya.

Sementara itu, untuk hasil dari otopsi, dijelaskan Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sulteng, AKBP dr Is Sarifin, bahwa terdapat sejumlah luka akibat benda tumpul, di bagian wajah, dada dan anggota gerak. Namun, yang menyebabkan korban meninggal, akibat pendarahan di bagian kepala tepatnya di selaput otak dan jaringan paru-paru, yang hampir 50 persen dipenuhi darah. “Ini terjadi akibat benturan keras, yang memungkinkan jika jatuh dari ketinggian,” terangnya.

Disinggung terkait independensi dokter, yang melakukan otopsi, Is Sarifin menggaransi, meski dokter tersebut merupakan anggota polisi, tetapi secara keahliannya sebagai dokter forensik hal itu bisa dipertanggungjawabkan.

Ditemui terpisah istri dari korban, Rosmin (41) mengaku, belum bisa terima atas kepergian suaminya, yang saat itu ditangkap dalam keadaan sehat-sehat, namun berselang tiga jam kemudian sudah pulang tidak bernyawa. Kecurigaan keluarga bahwa Jufri dianiaya, pun semakin kuat karena jika benar suaminya tewas karena mencoba melarikan diri, tetapi mengapa tidak dibawa pulang secara baik-baik kepada keluarga. “Ini malah nanti Kepala Desa yang laporkan kalau suami saya sudah tidak bernyawa. Kan aneh,” tuturnya.

Dia pun meminta keadilan kepada pimpinan Polri, dalam hal ini Kapolda, agar berlaku adil seadil-adilnya dalam menangani kasus ini. Jika pun benar, suaminya dianiaya, dirinya meminta para pelaku dihukum seberat-beratnya, untuk memberikan efek jerah kepada pelakunya.

“Kalau pun memang almarhum suamiku ini bersalah, tapi tidak harus sampai dibuat seperti itu,” sebutnya setengah terisak.

Almarhum sendiri dari Rosmin, dikarunia dua orang anak, sementara dari istri pertamanya ada 6 orang anak. Usai otopsi selama satu jam, jasad almarhum Jufri langsung dimandikan dan dikafani, untuk disolatkan di Rumah Sakit Bhayangkara. Tepat pukul 15.30 wita, jenazah almarhum pun dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Olaya, menggunakan ambulans yang difasilitasi pihak kepolisian.

Almarhum Jufri yang tewas usai diamankan petugas Polres Parimo dari kediamannya, oleh pihak kepolisian disebut sudah masuk sebagai target operasi (TO). Jufri diduga terlibat jaringan pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) yang beraksi di Kota Palu.

Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto menuturkan, bahwa ada empat laporan polisi tentang Curanmor di wilayah Palu maupun Parigi, yang diduga melibatkan almarhum. Hal itu kata Hari, terungkap, bermula saat Selasa (10/10) lalu, sekitar pukul 21.00 wita, anggota Polsek Palu Barat berhasil menangkap tersangka Curanmor berinisial AC (33).

“Dari hasil pengembangan terhadap tersangka tersebut, terungkap pelaku lain yakni Jufri, yang beralamat di Desa Olaya,” tutur Hari.

Sekitar pukul 23.30 wita, di hari yang sama, lanjut Hari, Tim Gabungan Reskrim Polres Palu dan Reskrim Polres Parimo berhasil mengamankan almarhum di kediamannya di Desa Olaya. Dari keterangan Jufri, diakui bahwa ada pelaku lain yang berperan sebagai penadah sepeda motor hasil curian, berinisial ARD alias PD.

“Berbekal keterangan dari almarhum itu, anggota di lapangan kemudian meminta dia menunjukan rumah dari penadah yang dimaksud. Saat perjalanan, Jufri berusaha melarikan diri dengan melompat di jembatan jalur dua Desa Pombalowo, yang tingginya sekitar 4,6 meter, hingga dirinya terluka, namun berhasil diamankan kembali oleh tim,” ungkap Kabid Humas.

Saat diamankan kembali dan diminta untuk kembali menunjukkan rumah dari sang penadah, kondisi almarhum terlihat masih bisa memberikan keterangan rumah dari ARD. Akhirnya petugas berhasil mengamankan ARD, yang berperan sebagai penadah dengan mengamankan 2 unit barang bukti sepeda motor jenis vixion dan sepeda motor matic.

“Di tengah jalan, sekitar pukul 01.20 wita, Jufri mengeluh sakit sehingga dibawa ke RS Anuntaloko Parigi, untuk mendapat penanganan medis. Namun nyawanya tidak dapat tertolong dan meninggal sekitar 01.45 wita,” sebut Hari. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.