Harus Tegas dan Komitmen, Kuncinya Jaga Silaturahmi

Titah Raja Tolitoli, dan Kearifan Lokal Menangkal Penyebaran Berita Hoax

- Periklanan -

Lutungan, Kabetan, Simatang, dei leok Dondo Lakuan ampii tara anggad Dampaa Agoamas, Kombo Takusan Sanjangan Tatanggalo seo niug gamag uwe kekeyaan butaku”…petikan syair lagu adat Patriot Baolan, sarat makna. Persatuan terjaga, meski di tengah plularisme dan badai kekinian-pemecah belah umat, akibat hoax.

Rustam Hamdani, Tolitoli

MAKNA bait lagu adat di atas, menggambarkan kemajemukan suku dan adat istiadat di Kabupaten Tolitoli, wilayah teritorial membentang di sepanjar pesisir dan pegunungan.  Raja ke-17 bergelar Gaukan Dei Babo Lantung, H. Mohammad Saleh Bantilan pernah bertitah, lagu persatuan itu wajib dinyanyikan seluruh pejabat, ASN, honorer di setiap momen seremoni, tak ada perbedaan, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Gaukan yang juga bupati Tolitoli sudah hampir setahun dinobatkan sebagai raja, termasuk Hj. Nuraeni–permaisuri yang kembali “dipersunting” setelah mahligai bahtera sempat goyah, sesaat saja!. Keduanya, naik takhta dalam upacara Matanggauk di Pantai Gaukan Bantilan Kelurahan Nalu, akhir 2018 lalu. Sejak itu, amanah dua jabatan sakral dipegang. Sejumlah kebijakan raja sekaligus bupati, seirama, termasuk perintah paduka pada medio 2019 yang menginstruksikan semua kepala dinas dan bawahannya, bersungguh-sungguh melawan penyebaran berita hoax. Ketahuan, ada bukti, tangkap, adili dengan kekeluargaan, tobat sebelum kelak diadili di mahkamah Yang Maha Kuasa.

Ungkap Raja Saleh, kemajuan teknologi begitu pesatnya, handphone terbaru, android dan sejenisnya berinovasi, semakin sulit dibendung apalagi ditolak, hampir semua kalangan butuh. Mengikuti teknologi kekinian bukan masalah, asal jangan larut, terpengaruh dan terprovokasi informasi dusta dan fitnah.  Menangkal hoax, yakin raja, salah satunya dengan cara melestarikan seni budaya semua suku yang ada, benteng kesatuan ini sulit dicerai-beraikan oleh pengaruh berita hoax.

“Karena di dalam seni budaya, silaturahmi jalan, walau cuman nongkrong dengan tokoh adat, pemuda, kalau gak sering silaturahmi, tidak ada rasa saling percaya, mudah percaya dengan berita bohong, kalau sering ketemu jadi bisa diluruskan, itu aja kuncinya, makanya saya perintahkan semua kita ini, sering-seringlah silaturahmi,” kata raja berkumis putih tebal ini.

Raja Saleh yakin, serangkaian kemarahan massa dalam aksi demo sepanjang tahun ini, tersulut akibat berita hoax. Seperti sebelumnya, beberapa kali pemda diserang ujaran-ujaran, “tidak peduli” dengan petani cengkeh, harganya anjlok. Padahal, pemda terus berupaya mencari solusi agar harga cengkeh di kota cengkeh kembali stabil, lobi ke pusat, konfirm ke provinsi. Termasuk membuat kesepakatan bersama stakeholder, Muspida untuk menetapkan harga cengkeh di angka Rp 100.000 per kilo, tapi sayangnya pengusaha dan importir absen dalam dialog bersama pendemo, awal September.

Kemudian, agar rasa persatuan selalu terasa “manis”, Raja Saleh menegaskan, jangan pernah ada ungkapan terlontar bahwa “putra daerah hanya yang berasal dari turunan atau marga tertentu, dan yang lahir dan dibesarkan di Tolitoli, bukan. Tapi, putra daerah dimaksud adalah, orang yang tinggal di Tolitoli dan mau bekerja, mengabdi, mempersembahkan karya terbaiknya untuk Tolitoli tercinta”.

“Jadi kita ini, semua kita yang tinggal di Tolitoli adalah putra daerah, yang membangun daerah ini, itulah putra daerah. Dan putra daerah jangan mudah percaya dengan berita bohong, cerna dulu, konfirmasi, dengan begitu Tolitoli tetap aman.  Wuihhhh, bahaya sekali hoax itu pak, eh jangan,” seru raja yang juga mengajak warganya bersama-sama membangun daerah. Sebab, Tolitoli sekarang ini, dibanding daerah lain di Sulteng-masih berjuang dari ketertinggalan, tidak juga terlalu mundur-mundur amat lah, walaupun sebagian warga intelek sering menyindir ketertinggalan di arena pembangunan Provinsi Sulteng. Raja ingin, Tolitoli sejajar dan bahkan lebih maju dari daerah lainnya dalam mencapai kesejahteraan.

Sahutnya lagi, Tolitoli adalah rumah besar bersama, rumah tempat lahir, tumbuh, besar dan berbakti. Karena itu, Raja Saleh mengajak rakyatnya untuk memberikan sumbangan pemikiran positif, serta kerja nyata agar rumah besar tempat bernaung ini tetap kokoh, aman, tentram dan sejahtera.

Kepala Bagian Humas Pemkab Tolitoli, Aham A Jacub menyebut, Bupati Moh. Saleh Bantilan “langganan” jadi korban hoax, ada ratusan kasus, mulai dari foto wajah yang diubah, ucapan, berita dan beberapa aktivitas lainnya di medsos. Sebagian keluarga raja juga jadi sasaran “wartawan” medsos.

Terbaru, salah satu akun di laman facebook bernama Melvin Pontoh dilaporkan ke Polda Sulteng karena menyebarkan berita hoax, yakni tentang seringnya bupati melancong ke luar negeri, gak betah di kampung halaman, mainannya Jakarta-luar negeri. Di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Bupati melapor, ke Singapura hanya untuk berobat, hidung bermasalah, perlu penanganan serius.  Beda jauh dengan berita hoax yang beredar, bupati kocak ini pelisiran, gambling dan sebagainya. Semua dicap HOAX.

Sebagai corong pemerintah, Arham-mantan jurnalis Palu lantas mengklarifikasi kabar yang sempat meluas hingga ke dusun. “Kabar miring soal gambling , wara-wiri dan lainnya, hanya hoax. Banyak kali kasus hoax di Tolitoli, ratusan. Pusing juga kalau mau diladeni semua. Tapi, kami punya jurus sendiri,” tuturnya.

- Periklanan -

Sering dipanggil menghadap bupati karena hoax, Arham mengaku geram. Klarifikasi berita-berita palsu tetap dilakukan dengan berbagai cara, walau sulit melacak siapa dalangnya. Endingnya, hanya bisa kesal, marah, sebatas itu saja. Namun begitu, ia memulai melakukan protect internal. Anak buahnya dibekali ilmu menulis berita yang benar, editing foto.  “Tujuannya kalau ada kasus hoax, anggota saya bisa membedakan, ini hoax atau bukan. Kalau palsu langsung kita klarifikasi, lari-lari juga anggota saya ke sana sini, bupati, sekda, jika berkenaan dengan pemda. Sakitnya tuh di sini pak….,” gerutunya sambil menunjuk dada dan otak.

Kemudian, langkah antisipasi di tengah masyarakat, Humas Pekab Tolitoli rajin gerilya, menyalin sejumlah berita hoax, lalu dicap stempel “ BERITA HOAX”. Bagi yang tidak mengerti apa itu hoax, judulnya saja diubah, berita palsu.  “Bahh…bahaya pak, berita palsu ini sama saja fitnah, bohong, mengadu domba. Masyarakat yang buta tuli, tidak tahu membaca, asal terima info paling rentan terpengaruh, ngamuk, pemda lagi jadi sasaran,” mirisnya.

Diakuinya, anggaran humas saat ini memang minim, tak lebih dari 400 juta. Itupun harus dibagi operasional dan program kerja rutin, kawal agenda bupati dan wakil bupati. Sehingga, upaya untuk membendung berita hoax di tengah masyarakat, belum klimaks, menyesuaikan kemampuan. Tapi, humas tidak tinggal diam, enggan pesimistis, apalagi loyo dengan kondisi yang ada. Lawan berita hoax tetap prioritas, meski sesekali ikut nebeng program di dinas instansi. Minimal, SDM humas punya cara membantu meluruskan kebohongan yang sengaja disebarkan pelakunya.

Berbeda dari humas pemkab dengan catatan ratusan kasus hoax, Kasubag Humas Polres Tolitoli Iptu Latdje Lingkong malah menyebut nihil. Hingga Oktober 2019, belum ada laporan yang masuk, baik dari pejabat maupun masyarakat umumnya. Padahal, hampir setiap hari berita hoax muncrat di medsos, dominan di laman facebook.

“Ini kan delik aduan, ada laporan kita tindaklanjuti. Tapi, tetap juga sulit mendapatkan bukti lengkap, diperlukan tenaga ahli untuk mendeteksi siapa dalangnya. Harus ada kerja sama semua pihak, didukung alat yang canggih dan tenaga ahli,” ungkapnya.

Dinas Kominfo Tolitoli tak kalah repotnya.  Melawan hoax juga dilakukan dengan anggaran seadanya. Tugas terbarunya, melindungi generasi muda dari penyebaran pornografi, narkoba dan utamanya hoax. Terbentuk tahun 2017, Kominfo punya semangat juang tinggi, sosialisasi terus dilakukan hingga ke kecamatan dan desa pedalaman.

“Sosialisasi kita terus lakukan, blusukan terus lah, terbaru kami gerak di Kecamatan Dampal Selatan, 15 sekolah diundang, ratusan siswa hadir. Kami latih mental mereka agar tidak jadi generasi copy paste, copy berita tanpa cek ricek, tanpa mencerna info yang diterima,?ungkap Lukman Gaib SE, Kasi Pengolahan dan Pelayanan Informasi Publik, Diskominfo Tolitoli.

Selain ke sekolah-sekolah, Diskominfo juga menyusup ke keramaian warga, meluruskan jika ada gunjang-ganjing di tengah komunitas warga yang membahas berita medsos. Sedangkan di meja kerja, staf seksi pengolahan informasi publik hampir setiap hari tongkrongi dunia maya, menarik berita dan meng-counter berita bohong. Bahkan, Diskominfo mendapat amanah melanjutkan tugas Humas pemkab untuk mengelola website daerah, (www.tolitolikab.go.id), dan meneruskan berita sejumlah media profesional, baik nasional maupun daerah.

“Bupati kita,  berapa kali jadi korban hoax, tapi ya sama saja, masih sulit dideteksi, kalaupun ditemukan IP Adress atau alamatnya, saat ditelusuri ternyata datanya tidak akurat. Ini kendala utamanya,” risaunya.

Pria ramping murah senyum ini menegaskan, untuk penanganan kasus pidana hoax, ranahnya ada di kepolisian. Karena itu, pihaknya tak sungkan memberikan pendampingan dan kerja sama dengan aparat.  Hanya saja, ada sedikit mengganjal. Diskominfo belum punya tenaga ahli IT. Menangani kasus hoax perlu tenaga ahli. “Kita ingin sekali merekrut tenaga ahli, tapi belum bisa diwujudkan, taulah kan,” ucap Lukman agak lirih.

Menurutnya, marak berita hoax di medsos di era milenial saat ini, salah satunya dipengaruhi pesatnya kemajuan teknologi, handphone mudah didapat, android ada di mana-mana, software semakin canggih sehingga memudahkan remaja untuk mencoba-coba hingga ketagihan berselancar di jagat maya, sesukanya, murah meriah. Jangkauannya pun lebih luas. Berbeda cara manual, spanduk dan baliho yang biayanya jauh lebih mahal, terlihat lebih repot, perasaan waswas, risikonya mudah ditangkap.

Kata dia, melalui internet, siapapun punya privasi tersistem dan terlindungi, sehingga sulit untuk mencari siapa pembuat info hoax, apalagi pelakunya seorang hacker atau punya kemampuan IT yang sangat tinggi.

Terpisah, Ketua Dewan Adat Tolitoli, Drs. H. Ibrahim Saudah, PhD, menyambut titah raja melawan dan menangkal berita hoax. Mantan Kadis Pariwisata ini setuju, melawan penyebaran hoax kembali kepada kemauan dan itikad baik setiap individu warga, cerdas menyimak informasi, dan yang terpenting senantiasa menjaga silaturahmi. “Supaya tidak ada “dusta di antara kita”, dan tumbuh rasa kepercayaan dan kasih sayang,” pesannya. (**)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.