alexametrics Harus Dibangun SPBU untuk Nelayan dan Petani di Buol – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Harus Dibangun SPBU untuk Nelayan dan Petani di Buol

Menjawab Solusi Antrian Jeriken di SPBU Kali

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU-Salah seorang tokoh masyarakat Buol yang ada di Kota Palu, Wahid Tarim, menyoroti tentang pelayanan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kelurahan Kali Kecamatan Biau Kabupaten Buol, yang hanya mengutamakan jeriken daripada warga yang menegendarai motor atau mobil umum.

“ Nah ini masalah, SPBU Kali di Buol lebih utamakan isi jeriken daripada kendaraan yang antri. Dimana peran Pemda dan aparat keamanan, “ kata Wahid Tarim, mempertanyakan permasalahan tersebut.

Wahid Tarim mengatakan, dalama mengatasi kondisi bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Buol, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol harus mencarikan solusi. Kalau perlu Pemkab mengusulkan ke Pertamina untuk membangun SPBU Khusus melayani nelayan dan petani di Kabupaten Buol.

“ Solusinya adalah membangun SPBU khusus untuk para nelayan dan para petani sehingga tidak mengganggu SPBU yang umum, “ tegas Wahid.

Diberitakan sebelumnya, Sudah masuk dua pekan kelangkaan BBM di Kabupaten Buol mulai diresahkan warga. Dua SPBU di wilayah Kabupaten Buol setiap hari mengular antrian kendaraan baik roda dua, roda empat hingga kendaraan perusahaan berderet menunggu antrian di lokasi SPBU Kelurahan Kali dan Kelurahan Kampung Bugis.

“ Inilah yang kami rasakan tiap hari menunggu antrian berjam-jam untuk mengisi bahan bakar mobil di SPBU, “ungkap Udin, salah seorang sopir angkot pedesaan kepada Radar Sulteng, Jumat (4/11).

Menurutnya kelangkaan BBM seperti pertalite, pertamax, solar dan premium (bensin) ini sudah hampir dua minggu sudah tidak ada dimuat kendaraan pengangkut dari Kabupaten Tolitoli, hanya mengangkut tiga jenis BBM yaitu pertalite dan pertamax, serta solar. Itupun tidak cukup dua jam sudah habis dijual, sehingga kendaraan yang tidak sempat diisi harus menunggu sampai pengiriman besoknya.

Sedangkan bensin sama sekali sudah tidak ada masuk padahal harganya terjangkau, belum lagi diperparah adanya pelayanan ratusan jeriken di SPBU yang dijual kembali pedagang eceran ke masyarakat dengan mengurangi takaran yang biasanya ful satu botol ukuran besar jenis pertalite dikurangi hampir setengah dengan harga jual Rp 10 ribu, modusnya mencari keuntungan.

“ Kita minta kepada Pemkab Buol untuk menurunkan tim teknis untuk memantau kelangkaan BBM  di dua SPBU ini, “ ujar Udin.

Sementara itu Aco, selaku pengawas SPBU Kampung Bugis mengatakan, ada dua jenis bahan bakar yang mulai langka didistribusikan dari Depot Pertamina Tolitoli yakni bensin dan solar. Hanya pertalite dan pertamax yang lancar diangkut dari Tolitoli ke Buol tiap hari, itupun tidak mencukupi permintaan konsumen yang setiap hari menunggu antrian di SPBU.

Soal pelayanan jeriken, Aco selaku pengawas tidak berani melarang banyaknya pedagang eceran ini, namun pihaknya membatasi pengisian karena yang diutamakan itu kendaraan bermotor atau kendaraan pribadi yang ikut antrian.

“ Kami belum tahu apa penyebabnya BBM ini tidak semua didistribusikan ke Buol, “ papar Aco.(mch/tam)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.