Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Hari Ini Jamaah Sulteng Tinggalkan Mina

Selama Operasional Mina 21 Jamaah Wafat

MAKKAH – Sebagian jamaah haji Indonesia mulai meninggalkan tenda Mina menuju hotel di Makkah. Untuk jamaah asal Sulawesi Tengah yang tergabung di embarkasi Balikpapan, dilaporkan hari ini (Rabu, 14/8) usai melakukan lontar jumrah yang terakhir langsung meninggalkan Mina menuju hotel di Makkah. Bagi jamaah yang memilih nafar awal meninggalkan Mina dan diangkut menggunakan bus sejak Selasa (13/8) pagi. Sedangkan bagi jamaah yang memilih nafar tsani baru bisa meninggalkan Mina, hari ini (Rabu, 14/8).
Koordinator Lapangan Kloter 07/BPN asal Sulteng, H Mustamin Umar melaporkan bahwa, untuk jamaah haji kloter 07/BPN memilih nafar tsani dan baru bisa meninggalkan Mina pada Rabu pagi. ‘’Lempar jumrah terakhir dilakukan Rabu dinihari dan selanjutnya jamaah di angkut menggunakan bus menuju Makkah. Alhamdulilah semuanya lancar meski Mina sempat diguyur hujan lebat,’’ jelas Mustamin Umar.
Tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) asal Sulteng, H Antoni menjelaskan, untuk sementara kondisi para jamaah yang tergabung pada Kloter 05/BPN dalam kondisi baik. Sejak wukuf di Arafah kata Antoni yang didampingi Sekkot Palu, H Asri, pihaknya selaku tim kesehatan terus memberikan imbauan dan motivasi kepada jamaah untuk selalu menjaga kesehatan. Bahkan Sekkot Palu, H Asri selaku TPHD juga melaporkan bahwa, jamaah kloter 07/BPN sudah melakukan rangkaian ibadah haji dalam kondisi sehat. Kondisi yang menguras tenaga kata H Asri, saat melakukan lempar jumrah karena jarak tenda dengan lokasi jamarat sekira 7 kilometer ditempuh jalan kaki pergi-pulang.

Sementara itu selama masa operasional Mina dilaporkan jumlah jamaah wafat mencapai 21 orang. Kepala Satgas Mina Ahmad Jauhari menuturkan bus sudah mengangkut sebagian jamaah meninggalkan hotel pukul 07.00 waktu Arab Saudi. Jamaah yang pulang lebih dahulu menuju hotel ini adalah mereka yang mengambil nafar awal. Sehingga proses pelemparan jamarah dan mabitnya sudah selesai pada 12 Dzulhijjah (13 Agustus).
’’Merata hampir setiap maktab sudah ada jamaah yang diberangkatkan menuju hotel,’’ tuturnya. Sementara bagi jamaah yang mengambil nafar tsani masih harus melakukan mabit dan lempar jumrah pada 13 Dzulhijjah (14 Agustus). Sehingga pada 12 Agustus mereka masih harus mabit atau menginap di Mina. Mereka baru diberangkatkan menuju hotel hari ini (14/8).
Jauhari menuturkan tidak bisa memastikan jumlah jamaah yang sudah diangkut bus menuju hotel di Makkah. Dia hanya menjelaskan jumlah jamaah yang melaporkan mengajukan nafar awal sebanyak 120 ribu jamaah. Secara persentase jamaah yang melakukan nafar awal sekitar 57 persen.
Pergerakan jamaah haji dari tenda-tenda di Mina menuju hotel dilakukan menggunakan bus dari naqabah. Jumlah bus yang disiapkan sebanyak 21 unit untuk setiap maktab. ’’Jumlah armada busnya sama seperti pendorongan jamaah dari Makkah menuju Arafah,’’ katanya.
Pemulangan jamaah dari tenda di Mina menuju hotel di Makkah biasanya berakhir pukul 17.00 waktu setempat. Sebab bagi jamaah yang mengambil nafar awal, harus sudah meninggalkan Mina sebelum terbenanya matahari. Jika setelah matahari terbenam masih berada di Mina, mereka harus melakukan mabit lagi dan melempar jumrah nafar tsani.
Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskehas) Kementerian Kesehatan Eka Jusuf Singka memberkan perincian jumlah jamaah yang meninggal tersebut. ’’21 (jamaah wafat, Red) itu tidak semuanya (meninggal, Red) di Mina. Angka itu dalam periode operasional Mina saja. Sebagian besar meninggalnya di RS Arab Saudi,’’ terang Eka.
Dia merinci ada 13 orang jamaah wafat di RS Arab Saudi di Makkah. Kemudian empat orang meninggal di tenda jamaah. Lalu ada tiga orang meninggal dalam perjalanan rujukan ke RS Arab Saudi di sekitar Mina dan Makkah. Kemudian ada satu orang meninggal di Jabal Rahmah saat mengikuti kegiatan dari KBIH-nya. ’’Di tenda kesehatan Mina tidak ada (kejadian jamaah wafat, Red),’’ tutur dia.
Eka juga memberikan penjelasan terkait dampak adanya hujan lebat yang mengguyur Mina pada Senin (13/8) sore. Dia menyampaikan tidak ada jamaah Indonesia yang mengalami cedera atau kesakitan akibat hujan tersebut. Saking lebatnya hujan yang mengguyur, di sejumlah titik di jamarat dan di komplek tenda Mina, aliran air terlihat cukup deras.
Hujan lebat yang mengguyur hingga menjelang maghrib itu, mengakibatkan aliran listrik di sejumlah maktab di Mina diputus. Akibatnya tenda menjadi gelap dan AC mati. Sejumlah jamaah menggulung tenda bagian samping supaya tidak gerah. Selain itu jamaah juga memilih beraktifitas di luar tenda untuk menahan gerah.
Menutur sejumlah jamaah, pemadaman listrik terjadi menjelang maghrib. Diantara titik tenda yang mengalami pemadaman adalah di maktab 50. Sekitar pukul 23.00 waktu setempat (03.00 WIB) listrik kembali menyala.
Akibat dari pemadaman listrik tersebut, pendistribusian makan malam untuk jamaah mengalami penundaan. Petugas dari maktab harus menyajikan makanan yang baru kembali menjelang dini hari. Sebab makanan yang dimasak sore hari, sudah tidak layak disajikan ke jamaah karena mesin penghangat di dapur tidak beroperasi. Namun sayang ketika petugas mulai mendistribusikan makan malam itu, hampir seluruh jamaah sudah terlelap. Hanya beberapa jamaah yang masih terjaga saja yang melahapnya.
Menteri Agama (Menag) selaku Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin menginap di tenda Mina. Dia baru pulang dari tenda misi haji Indonesia di Mina kemarin pagi pukul 07.00 waktu setempat. Pada pagi hari sebelum pulang, Lukman juga sempat ikut antri di toilet bersama jamaah. Tidak kurang dari 20 menit dia antri sampai akhirnya bisa masuk ke toilet.
Dia menuturkan sejauh ini pelaksanaan kegiatan lontar jumrah maupun mabit di Mina berjalan dengan baik. ’’Meskipun kemarin (12 Agustus, Red) ketika ada hujan deras beberapa tenda di maktab mengalami pemadaman listrik. Tapi alhamulillah secara bertahap listrik dapat dipulihkan kembali,’’ jelasnya.
Politisi PPP itu mengakui ada beberapa makbat maktab yang agak terlambat pemadamannya. Sebab ada travo yang terbakar karena mengalami konsleting. Dia juga mengakui kejadian pemadaman listrik ini membuat pendistribusian makanan di beberapa tenda terhambat. Namun Lukman menuturkan pemadaman listrik itu merupakan keputusan dari otoritas setempat untuk keamanan jamaah.
’’Seperti kejadian di Arafah saat hujan deras, tentu mengakibatkan aliran listrik terpaksa harus dimatikan,’’ tuturnya. Sebab instalasi listrik itu dibuat di bawah tenda-tenda jamaah. Sehingga bisa membahayakan jamaah, jika sampai ada air menggenang tetapi listrik tidak dimatikan. Begitupun di Mina, pemadaman listrik demi keselamatan jamaah.
Lukman menjelaskan problem terberat haji itu adalah operasional Arafah, Mudzalifah, dan Mina (Armuzna). Lebih khususnya saat jamaah berada di Mina. Sebab kondisi fasilitas atau infrastruktur di ketiga lokasi itu tidak permanen. Serba darurat. Berbeda dengan saat jamaah berada di hotel di Makkah atau Madinah. Dimana instalasi listrik, air, dan lainnya sudah tertata dengan rapi.
Dia menuturkan kejadian hujan lebat pada Senin sore itu memang di luar dugaan. Lukman mengaku sejak enam tahun menjadi Amirul Hajj, tidak pernah Mina diguyur hujan sederas itu.
Lukman juga bersyukur adanya pemadaman listrik tersebut tidak mengganggu layanan medis di pos kesehatan Mina. Dia menuturkan gangguan hanya pada urusan penerangan saja. Untuk layanan medis tidak ada gangguan. Karena memang tidak ada perawatan khusus yang membutuhkan suplai listrik secara terus menerus.
Menurut dia jumlah pasien yang dirujuk dari pos kesehatan di Mina ke RS Arab Saudi tahun ini jauh menurun dibandingkan tahun lalu. Padahal jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini bertambah 10 ribu orang. Selain itu jumlah jamaah lanjut usia (lansia) tahun ini juga semakin banyak. ’’Alhamdulillah kondisi jamaah lebih baik dibanding tahun lalu,’’ pungkasnya. (*/hilmi/lib/jpg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.