Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Harga Garam Talise Semakin ‘Asin’

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Faktor cuaca yang tidak menentu menyebabkan produksi garam Talise menurun drastis. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Bukan hanya Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sering naik, namun harga garam Talise semakin asin alias meroket. Faktor penyebabnya adalah cuaca. Untuk memenuhi permintaan garam, petani garam Talise Kota Palu terpaksa harus mendatangkan garam dari Sulawesi Selatan.

Akibatnya, harga jual garam Talise tembus Rp300 ribu per karung ukuran 50 kilogram.  Padahal sebelumnya harga jual hanya Rp80 ribu per karung. Kenaikan harga tiga kali lipat dari harga normalnya.

Kamis (27/7) kemarin, terlihat banyak garam yang dijual oleh petani maupun pengumpul garam yang ada di sepanjang Jalan Komodo. Pemandangan berbeda terlihat di tambak garam, hanya terlihat seorang petani sedang membersihkan tambak miliknya.

Maman, salah seorang petani garam Talise saat sedang menjual garam di Jalan komodo mengatakan, dirinya sudah 5 bulan tidak memproduksi garam Talise, karena cuaca tidak menentu. Karena tidak adanya garam Talise, dia bersama petani garam lainnya terpaksa membeli garam dari Makassar yang kualitasnya tidak sebanding dengan garam Talise.

Saat ini, harga garam per karungnya mencapai Rp 300 ribu, dari harga semula Rp80 ribu per karung. Untuk ukuran satu gayung yang semula dijual Rp 10 ribu, kini menjadi Rp20 ribu. Garam dari Makasar dibeli petani dengan harga Rp250 ribu per karung. Kenaikan harga garam hingga 3 kali lipat ini, bukan karena garam yang dibeli berasal dari Makasar, tetapi karena cuaca semata. Sehingga petani garam Talise tidak bisa produksi.

“Kalau masih ada garam Talise-ku, pasti dijual Rp500 ribu per karung. Karena banyak yang cari dan kualitasnya bagus,” sebutnya.

Maman mengatakan, banyak perusahaan kelapa lokal dan kelapa sawit tidak mau menggunakan garam dari Makassar, dan tetap mencari garam talise, karena kualitasnya berbeda.

“Garam Talise itu istilahnya muda, dan proses produksinya cepat 4 hari jika panas sudah panen. Garam Talise cepat diserap oleh tanaman. Terkena air hujan saja sudah larut. Sedangkan garam Makassar itu istilahnya tua karena proses produksinya 6 bulan baru di panen, tidak cepat larut, kotor, sehingga wajar pengusaha suka garam Talise. Saat baru panen jika diambil 1 biji garam Talise jika di makan akan terasa sedikit manis,” sebutnya.

Maman menjelaskan, dihari biasa saat cuaca panas 1 petak tempat pengolahan garam bisa menghasilkan 7 hingga 8 karung garam, dengan rincian 2 karung garam bersih sisanya garam kotor. Namun jika cuaca tidak menentu hanya menghasilkan 4 hinga 2 karung garam.

“Garam bersih itu ada dilapisan paling atas dan bisa untuk di makan. Sedang lapisan bawah atau kedua, garam untuk pupuk, karena ada hitamnya sedikit,” ungkapnya.

Dampak dari musim hujan yang tidak menentu di Kota Palu lanjut Maman, Petani garam Talise terpaksa membeli garam dari Makassar karena sudah menjadi mata pencarian mereka sebagai petani sekaligus pedagang garam. Meroketnya harga garam yang tinggi kata Maman, sudah dimulai sebelum ramadan lalu, dan hingga saat ini harganya mencapai Rp 300 ribu per karung.

Maman menjelaskan cara pembuatan garam talise sangat mudah, setelah tambak dibersihkan dari lumut, lalu dikeringkan selama 2 hingga 3 hari, setelah kering 1 petak tambak diberi 1 argo pasir setelah diratkan, diberi air dari tambak yang ada disebelahnya yang sudah memiliki bibir garam dengan tinggi 1 centi meter. Selanjutnya dibiarkan hingga muncul garam, lalu dipadatkan dan diberi air setengah dari tinggi tambak dan dibiarkan selama 4 hari barulah garam siap dipanen.

“Saat ini ada 160 orang petani garam talise yang tidak bisa membuat garam sehingga tergantung pada garam asal Makassar untuk perdagangkan. Padahal garam dari Makassar tidak selaris garam talise. Kalau garam talise 1 hari biasa 4 hingga 5 karung terjual. Untuk garam dari Makassar sehari bisa menjual 2 karung sudah luar biasa,” sebutnya.

Hal senada diungkapkan Iwan, penjual garam tetapi bukan petani garam Talise mengatakan, menjual garam dari Makassar lakunya lama. Daya beli masyarakat Sulteng terhadap garam asal Makassar tidak selaris garam Talise, Kota Palu, karena saat ini perusahaan kelapa sawit di pasangkayu tidak mau menggunakan garam asal Makassar, dan lebih memilih garam pasang kayu sendiri.

“Para pembeli selalu mencari garam Talise. Biasa pembelinya dari wilayah Pasang Kayu, Kabupaten Parigi, Toli-toli dan lainnya. Karena tahu kualitas garam Talise, biasa pembeli dengan terpaksa membeli garam dari Makassar,” sebutnya.

Selian itu, perusahaan tidak mau membeli banyak yang biasa membeli sampai 5 karung, saat tahu garam dari Makassar paling banyak beli hanya 2 karung. Bukan karena mahalnya,tetapi karena kualitas garamnya  yang berbeda.

“Perusahaan kelapa sawit biasa membelinya banyak asal garam asli Talise. Namun karena  tahu stok garam dari Makassar belum hanya satu atau dua karung,” sebutnya.

Hayun, salah seorang petani kelapa asal dari Pantai Timur, mengatakan, membeli  garam dalam jumlah banyak digunakan untuk memupuk kelapa di kebunnya agar buahnya besar. Cara ini dilakukan sudah lama sekira sejak tahun 2014, dengan menggunakan garam talise.

“Berapapun harga garam saya beli mengingat  hasil panen kelapa menjadi bagus. Walaupun sekarang lebih mahal garam dari pada harga jual kelapa biji. Saya beruntung harga jual kopra saat ini juga bagus sehingga masih bisa untuk beli garam dan kebutuhan lainnya,” ucapnya sambil tertawa.

Hayun juga menyebutkan, baru kali ini menggunakan garam yang berasal dari Makassar, karena sudah tidak ada lagi petani garam talise yang memproduksi. (umr)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.