Harga Cabai Kembali Jadi Penyumbang Utama Inflasi Palu

- Periklanan -

Pedagang cabai rawit di pasar tradisional Manonda, Jumat (5/1). (Foto: Mugni Supardi)

PALU-Kekhawatiran kenaikan harga cabai bakal memberi kontribusi signifikan terhadap inflasi Kota Palu kembali terjadi. Bahkan, Bulan Februari 2017, kenaikan harga cabai menjadi kontributor terbesar inflasi Kota Palu.

BPS merilis, Inflasi Kota Palu Bulan Februari 2017 sebesar 0,29 persen. ‚ÄúDan Cabai Rawit memberi kontribusi paling tinggi, menyusul kenaikan tarif listrik. Bagusnya, selama Februari kemarin, harga beras justru cenderung turun,‚ÄĚ jelas Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar di kantornya, kemarin.

Menurut dia, kecenderungan terus bergerak naiknya harga cabai ini belum dapat dijadikan indikasi  utama bahwa pasokan cabai yang ada tidak mencukupi kebutuhan. Bisa jadi kenaikan harga cabai ini disebabkan ulah spekulan.

Lebih jauh Wahyu Yulianto, Kabid Statistik Distribusi BPS Sulteng mengungkapkan, dari tujuh kelompok pengeluaran, lima  kelompok mengalami kenaikan indeks, satu kelompok mengalami penurunan indeks dan satu kelompok pengeluaran indeks harganya stabil.

Kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 1,87 persen, serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan  mengalami kenaikan indeks sebesar 0,70 persen. Selanjutnya, kelompok  sandang mengalami kenaikan indeks sebesar 0,37 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau  sebesar 0,10 persen dan kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,08 persen.

- Periklanan -

‚ÄúKelompok bahan makanan selama Februari 2017 mengalami penurunan indeks harga sebesar 1,53 persen. Dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga relatif¬† tidak mengalami perubahan,‚ÄĚ jelas Wahyu.

Bila dilihat andil/kontribusi, Inflasi Kota Palu sebesar 0,29 persen berasal dari andil kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar 0,431 persen, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,129 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,022 persen, kelompok sandang sebesar 0,021 persen, serta kesehatan sebesar 0,004 persen.

Sementara andil negatif terhadap inflasi disumbangkan oleh kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,317 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga selama Februari 2017 relatif stabil.

Bila dilihat per komoditi, cabai rawit memberi andil inflasi Kota Palu Bulan Februari 2017 paling tinggi, sebesar 0,21 persen,‚ÄĚ sebutnya.

Selanjutnya, tarif listrik (0,19 persen) di urutan kedua dan upah tukang di urutan ketiga (0,11 persen) dan kontrak rumah di urutan ke empat (0,09 persen), serta tarif pulsa ponsel di urutan kelima (0,07 persen).

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif (penurunan harga) terhadap inflasi antara lain beras (0,12 persen), ikan selar (0,12 persen), daging ayam ras (0,06 persen), ikan ekor kuning (0,04 persen) dan telur ayam ras (0,04 persen). Selanjutnya, komoditi bawang merah (0,03 persen), ikan cakalang (0,03 persen), ikan teri (0,03 persen), ayam hidup (0,02 persen), serta ikan mujair (0,02 persen). (ars)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.