Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Hands Craft, Komunitas Penyandang Difabel yang Berwirausaha

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Para anggota komunitas Hands Craft yang merupakan penyandang difabel dan kini telah berwirausaha, berkat kerajinan tangan yang dibuat. (Foto: Umi Ramlah)

Keterbatasan fisik bukan jadi penghalang untuk berwirausaha. Hal itu yang ditunjukkan, sejumlah penyandang difabel tergabung dalam Hands Craft, yang membuat sejumlah karya kerajinan tangan, yang bernilai ekonomis.

Laporan: UMI RAMLAH, Talise

HANDS Craft sendiri, kini telah terdata sebagai usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ada di Kota Palu. Mereka telah memproduksi sejumlah kerajinan tangan, seperti gantungan kunci, bros dan beberapa kerajinan lainnya.

Hasil produksi kaum difabel Hands Craft sendiri, juga telah dipasarkan luas. Saat ada iven di kota ini, mereka pun diikut sertakan. Seperti pada iven yang baru-baru ini digelar pihak Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja Kota Palu, di Anjungan Nusantara beberapa waktu lalu, Hands Craft juga turut serta.

Salah satu pembina Hands Craft, Yassin, yang juga penyandang difabel tuna rungu, ditemui saat membuka lapaknya di acara tersebut, dengan ramah menyambut. Meski sepintas, apa yang disampaikan Yassin tidak terlalu dimengerti.

Saat diajak berdialog pun, harus diulang-ulang dan dengan suara yang dikeraskan, Yassin mengungkapkan, bahwa kerajinan tangan yang dipajang di lapaknya tersebut, merupakan hasil karya dari sejumlah penyandang difabel pula. Kerajinan tersebut, dijual dengan kisaran harga dari Rp10 ribu hingga Rp300 ribu. “Rp 300 ribu itu untuk tas besar, karena bahannya dan pembuatannya memakan waktu lama,” sebutnya.

Anggota Handt Craff  sendiri, kata dia ada lima orang. Semuanya merupakan penyandang tuna rugu, yang berusia 20an tahun. “Belum banyak iven yang kami ikuti, selain belum banyak masyarakat yang tahu jika tuna rugu bisa berkarya. Pemerintah juga belum melirik ke UMKM seperti ini,” sebutnya.

Yasin berharap, kedepannya tuna rugu juga dapat diperhatikan pemerintah, bukan membutuhkan bantuan dana, tetapi mengikut sertakan jika ada iven-iven di pemerintah kota, dengan menjual hasil karya juga bisa mendapatkan uang.

Hands Craff merupakan salah satu  program pemberdayaan ekonomi kreatif tunarugu. Bahan awal diperoleh dari bantuan dinas sosial, dan beberapa proposal pendanaan. Dengan kendala yang di hadapi saat ini adalah alat pembuat kerajinan.

“Kaum difabel juga bergabung dalam Gerakanan untuk kesejahteraan tunarungu indonesia Sulteng, yang sudah berjalan  2 tahun, pernah mengikuti pameran di Kediri,  Jawa Timur, September lalu,” sebutnya.

Dia pun berharap, apa yang mereka hasilkan ini, diketahui masyarakat bahwa kaum difabel mampu berkarya dan memiliki keahlian. Nantinya, hasil kerajinan kaum difabel ini, juga diharapkan bisa dapat bersaing dengan UMKM lainnya. “Kami sangat inginkan, selalu dilibatkan setiap ada kegiatan agar produk kami berupa gantungan kunci, bros, tas dan gelang kedepannya akan semakin dikenal, dan semakin bernilai ekonomis,” tandasnya. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.