alexametrics Hambatan dan Peluang Peningkatan Ekonomi Desa di Provinsi Sulawesi Tengah – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Hambatan dan Peluang Peningkatan Ekonomi Desa di Provinsi Sulawesi Tengah

Oleh : Nurfadhilla Amalia Ibrahim, SE *)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SALAH satu indikator keberhasilan perkembangan ekonomi di suatu negara adalah masyarakat desa. Mengikuti tulisan M Zaid Wahyudi pada Kompas.com, menyebutkan bahwa “Jumlah penduduk Indonesia yang tinggal diperkotaan sebanyak 54 persen. Jika saat ini jumlah penduduk Indonesia sudah lebih 240 juta, artinya paling sedikit ada 129,6 juta orang yang menyesaki perkotaan”.

Mengikuti pendekatan tersebut di atas, berarti sekitar 46 persen atau sekitar 110,4 juta orang yang masih menempati desa di Indonesia. Mengikuti Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah desa di Indonesia Tahun 2021 sebanyak 81.616 desa, berarti jika dirata-ratakan jumlah penduduk yang mendiami setiap desa di Indonesia sekitar 1.353 orang perdesa. Sedangkan khusus untuk di Sulawesi Tengah jumlah desa sebanyak 1.842 desa. Hasil Sensus Penduduk Pada Bulan September Tahun 2020 jumlah penduduk Sulawesi Tengah sebanyak 2.985 jiwa, maka jika mengikuti tulisan M. Zaid Wahyudi yang mengatakan bahwa jumlah penduduk di Indonesia yang mendiami perkotaan sebanyak 54 persen, berarti di Sulawesi Tengah jumlah penduduk yang masih berada di desa rata-rata sebanyak 1.373 orang perdesa.

Melihat kondisi ini maka sudah sewajarnyalah Pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah memberikan perhatian penuh kepada masyarakat yang hidup di pedesaan, salah satu caranya adalah dengan program kebijakan peningkatan Ekonomi Masyarakat Desa di Sulawesi Tengah.

Beberapa hambatan dan peluang arah kebijakan dalam peningkatan ekonomi desa di Sulawesi Tengah, antara lain, satu, Faktor Sumberdaya Manusia. Rata-rata tingkat pendidikan, pengetahuan, pengelolaan dan pengalaman kerja masyarakat desa masih rendah, dalam memilih usaha ekonomi di desanya, walaupun harus diakui di beberapa desa dalam kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah faktor di atas telah terpenuhi.

Akibat terbatasnya faktor SDM tersebut di atas, mengakibatkan usaha yang digeluti oleh masyarakat dalam menghasilkan juga menjadi sangat terbatas. Kebijakan pemerintah yang diharapkan dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia ini adalah melalui pendampingan atau memberikan pelatihan kepada masyarakat desa untuk semua sektor ekonomi desa, seperti pertanian, perkebunan, nelayan, perdagangan, wiraswasta dan lain sebagainya.

Kedua, Faktor Modal. Tidak semua masyarakat desa memiliki modal yang besar untuk menggarap produksinya, sehingga hasil produksinya juga menjadi kecil. Misalnya masih dijumpai di kalangan petani, harus meminjam uang dahulu pada tengkulak baru dapat melaksanakan kegiatan pertaniannya.

Artinya bahwa ketergantungan petani untuk memiliki modal sangat tinggi, namun akses pada lembaga perbankan belum ada, sehingga salah satu alternatif yang cepat dalam memenuhi modal kerja mereka adalah meminjam uang pada tengkulak, yang sudah jelas berimpikasi kepada terikatnya hasil produksi petani untuk dijual kepada tengkulak dengan harga yang tidak sesuai. Pemerintah perlu hadir di tengah masyarakat dalam memberikan aksebilitas permodalan melalui lembaga perbankan, seperti bantuan UMKM, nelayan, petani dan peternak.

Ketiga, Faktor Pasar. Banyak warga di desa yang memiliki produk sangat bagus, untuk semua sektor ekonomi, akan tetapi tidak memiliki akses dalam memasarkan produknya. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat dalam memberikan akses pasar, sehingga masyarakat tidak ragu dalam meghasilkan produksi tertentu, karena pemerintah menjamin bahwa produk yang dihasilkan tersebut memiliki akses pasar yang baik.

Keempat, Faktor Produksi. Di beberapa desa di Sulawesi Tengah masih terdapat warga desa yang bekerja pada sektor pertanian biasanya memiliki masalah dalam produksinya. Masih banyak petani memilih jenis tanaman yang masa produksinya lama, misalnya masyarakat memilih tanaman tahunan seperti sawit, cengkeh, karet, coklat, kopi, teh dan lain-lain. Jenis tanaman tersebut masih harus menunggu sampai beberapa tahun baru berproduksi. Jika dibandingkan dengan tanaman musiman seperti ; cabe rawit, nilam, jagung, sayuran dan lain lain, tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan hanya beberapa bulan saja telah dapat menghasilkan yang sudah dapat dinikmati hasilnya oleh petani. Pemerintah melalui instansi terkait perlu untuk memberikan sosialisasi tentang pemilihan jenis produksi yang tepat untuk masyarakat.

Kelima, Faktor Alam. Di beberapa desa di Sulawesi Tengah, hasil produksi usaha masyarakat seperti petani dan nelayan, sangat dipengaruhi oleh faktor alam. Tidak sedikit jumlah lahan pertanian masyarakat di desa yang terendam banjir dan harus gagal panen. Selain itu juga musim kemarau berkepanjangan akan memperngaruhi hasil masyarakat petani. Demikian juga halnya masyarakat yang bekerja pada sektor nelayan, jika musim ombak pada bulan bulan tertentu, masyarakat nelayan tidak dapat menangkap ikan. Pemerintah perlu untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, misalnya petani sawah dengan cara membangun saluran irigasi yang lebih baik, agar masyarakat dapat terhindar dari gangguan alam dalam melaksanakan aktivitasnya.(**)

*) Penulis adalah Mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Magister Perencencanaan Wilayah Pedesaan Universitas Tadulako.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.