Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Halalbihalal Bundo Kanduang, Khas Minang Kental dari Sambutan hingga Makanan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Tari Pasambahan sebagai tari penyambutan dan penghormatan kepada tamu undangan, ditampilkan dalam acara halalbihalal IKMST “Bundo Kanduang”, di Rumah Gadang, Jalan Kelinci, Kelurahan Talise, Kota Palu, Minggu (23/7). (Foto: Safrudin)

Suasana keakraban sangat erat terasa antar sesama perantau Minang di Sulteng dalam perayaan halalbihalal Ikatan Keluarga Minang Sulawesi Tengah (IKMST) “Bundo Kanduang”, yang dilaksanakan di Rumah Gadang, Kota Palu.

LAPORAN : SAFRUDIN

SEKITAR pukul 08.00 Wita, Ahad (23/7) kemarin, suasana di Rumah Gadang, Jalan Kelinci, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

Deretan kursi yang tertata rapi di halaman depan Rumah Gadang jadi pertanda akan ada hajatan di tempat tersebut. 4 dara minang mengenakan baju kurung dan suntiang (penutup kepala, red) khas Minang siap menyambut setiap tamu yang datang.

Kira-kira pukul 08.30 Wita, tamu mulai berdatangan. Setiap tamu yang datang tampak semringah disambut dengan ramah oleh 4 dara Minang dengan memberi salam.

Memasuki ruangan dalam Rumah Gadang, riuh percakapan dengan bahasa Minang sangat terasa. Rindu lama tak jumpa antar sesama perantau Minang ditumpahkan dalam percakapan-percakapan ringan dengan duduk santai menunggu acara dimulai.

Suku Minang merupakan salah satu suku pendatang awal yang datang di bumi Tadulako. Dikenal sebagai perantau, masyarakat suku Minang tersebar di seluruh Indonesia bahkan hingga ke negeri jiran Malaysia.

Khusus Sulawesi, sejak abad 16 sudah didatangi perantau asal Minang. Perantau asal Minang sebagian besar merupakan alim ulama. Untuk Sulteng, dikenal dengan nama Datokarama yang merupakan penyebar Islam pertama di tanah Tadulako. Datokarama merupakan asli Minang yang nama aslinya ialah Syekh Abdul Raqi.

“Tahun 1602, Syekh Abdul Raqi sudah menyebarkan Islam di sini,” kata salah satu warga Minang di Sulteng, Prof Dr Ramadanil Pitopang, kemarin (23/7).

Beberapa tahun setelahnya, disusul sekira 50-an orang Minang yang juga datang ke Sulteng. Yang kemudian berasimilasi dengan cara kawin-mawin dengan masyarakat lokal kala itu. Hingga saat ini masyarakat matrilineal atau mengikuti garis keturunan ibu terus beranak pinak dan tersebar di hampir seluruh wilayah Sulteng.

“Bahkan Gubernur pertama Sulteng orang Minang yakni Anwar Datuk Rang Kayo Basa Nan Kuning. Selain itu, Rektor pertama Untad kala masih swasta juga orang asli Minang, drh Nazri Gayur Datu Sinaro,” jelas Prof Ramadanil.

Arah jarum jam menunjukkan pukul 10.20 Wita, acara halalbihalal dibuka, ditandai dengan lantunan ayat suci Alquran yang merdu dengan bacaan tartil.

Salah satu adat Minang dalam setiap hajatan ialah menyuguhkan Tari Pasambahan, yang merupakan tari untuk menghormati serta menyambut para tamu. Dilakukan 9 orang dara Minang dengan baju kurung berwarna hijau serta mengenakan suntiang di sisi kanan dan kiri. Sedangkan satu dara dengan baju kurung berwarna biru tua diapit dua dara lainnya dengan baju kurung berwarna merah muda memegang Caranol, yakni sebuah wadah yang berisi daun dan kapur sirih, pinang, serta gambir yang diberikan kepada tamu kehormatan yang berada di kursi bagian depan.

Diiringi alat musik tradisional berupa talempong, banci, canang, dan gendang, para dara tersebut menari di atas panggung serta turun memberikan daun serta kapur sirih kepada tamu undangan kehormatan.

Latar panggung yang memperlihatkan Aya Tajun Lembah Anai yang merupakan gambaran air terjun di daerah Minang Sumatera Barat, serta istana Pagaruyung (surau/musala) membuat tamu undangan semakin rindu dengan kampung halaman.

Namun nyanyian lagu-lagu Minang yang dilantunkan membuat perantau Minang di Sulteng, serasa berada di kampung sendiri bersama handai taulan. Ditambah lagi dengan tampilan tari Indang yang sarat akan makna, dilakoni 10 dara Minang di penghujung acara menjadikan suasana kampung halaman, bagi perantau Minang semakin dirindukan.

Ketua panitia halalbihalal, Nasrul Zain Tanjung mengatakan, dalam kegiatan ini selaku perantau Minang di Sulteng, harus saling memaafkan jika ada salah dan khilaf baik yang sengaja maupun tidak sengaja dilakukan.

“Selaku sesama perantau Minang, selayaknya kita berlapang dada saling memaafkan dan bersilaturahmi yang barang tentu dalam keseharian melakukan hal-hal yang membuat kita khilaf, rasa salah dan rasa berdosa,” ucap Nasrul.

Sementara, Ketua IKMST “Bundo Kanduang”, Muchlis Harbey Djambak berpesan kepada seluruh masyarakat perantau Minang di Sulteng agar selalu menjaga kekompakan dan kesolidan.

“Ka lurah samo manurun, ka gunuang samo mandaki,” sebut Muchlis dalam sambutannya yang sarat akan makna positif.

Makna dari kalimat yang disampaikan Ketua IKMST “Bundo Kanduang” menggambarkan pentingnya kekompakan serta kesolidan antar sesama perantau. Susah dirasakan bersama, senang juga dirasakan secara bersama-sama. Seperti itu makna kalimat tersebut. Muchlis menginginkan saat ada perantau Minang yang sedang kesusahan, hal itu juga merupakan bagian dari kesusahan lainnya, sehingga bisa saling membantu satu sama lain.

Suasana halalbihalal yang penuh keakraban dan kekeluargaan tersebut juga diisi siraman rohani. Dalam tausiahnya, Ustaz Sarifudin menjelaskan, tentang pentingnya memaafkan, mengamalkan amal-amal saleh, serta menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang.

Menyampaikan ceramah dengan beberapa guyonan, Ustaz Sarifudin sukses memberi pemahaman keagamaan dengan cara yang ringan dan sederhana, serta mudah dipahami oleh para tamu.

Makanan khas Minang disajikan di sebelum acara selesai. 4 meja diisi makanan khas Minang berupa rendang, kulejariang, dendeng balado serta makanan khas lainnya. Para tamu tampak sangat menikmati makanan daerah asal mereka.

Acara diakhiri dengan saling berjabatan tangan pertanda saling memaafkan antar satu dengan lainnya antar sesama perantau Minang di Sulteng. (**/exp)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.