Guru Sebagai Agen Pembelajar Juga Sebagai Fasilitator

Oleh : Dra. Harlina, M.Si

- Periklanan -

TUGAS guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secra terbuka.
Rasa gembira penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka merupakan modal dasar bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan, dan memasuki era globalisasi yang penuh berbagai tantangan.
Sebagai fasilitator, sebagai guru tugas yang paling utama adalah “to facilitate of learning” (memberi kemudahan belajar), bukan hanya menceramahi, atau mengajar, apalagi menghajar peserta didik, kita perlu guru yang demokratis, jujur dan terbuka, serta siap dikritik oleh peserta didiknya. Untuk itulah pentingnya pembelajaran terpadu, accelerated learning, moving claag, kontruktivisme, contektual learning, quantum learning digunakan sebagai modal pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi peserta didik. Untuk kepentingan tersebut, guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran, bahkan sangat menentukan berhasiltidaknya peserta didik belajar.
Salah satu hal yang perlu dipahami guru untuk mengefektifkan proses pembelajaran adalah bahwa semua manusia (peserta didik ) dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan, dan mereka semua memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Belajar dari pengalaman tersebut, dalam pembelajaranpun kondisinya tidak jauh berbeda, peserta didik memiliki rasa ingin tahu, dan memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Oleh karena itu, tugas guru yang paling utama adalah bagiamana membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik agar tumbuh minat dan motivasinya untuk belajar.
Untuk kepentingan tersebut perlu dikondisikan lingkungan yang kondusif dan menantang rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif dan menyenangkan. Fenomena sekarang mengapa prestasi peserta didik akhir-akhir ini cenderung rendah? Mengapa banyak peserta didik yang malas belajar? Membolos, berkelahi bahkan sampai mencuri, jawabannya sederhana saja karena mereka tidak merasa senang belajar, karena tidak ada rasa ingin tahu dan rasa ingin belajar. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena para guru tidak menciptkan iklim pembelajaran yang kondusif, dan kurang dapat membangitkan rasa ingin tahu peserta didik. Disinyalir dan didukung oleh beberapa hasil penelitian bahwa kebanyakan guru hanya menyampaikan bahan/materi sesuai dengan urutan-urutan dan ruang lingkup yang ada dalam buku teks. Hal ini yang harus diubah. Masalahnya sekarang bagaimana mengubah persepsi dan pola pikir terhadap tugas pokoknya sebagai guru (mengajar), bahwa mengajar bukan semata-mata menyampaikan bahan sesuai dengan urutan buku teks, tetapi yang paling penting bagaimana memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik sehingga dapat membangkitkan rasa ingin tahunya dan terjadilah proses belajar yang efektif kreatif dan menyenangkan (PAKEM), disinilah pentingnya peran guru sebagai agen pembelajar dan sebagai fasilitator.
Sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki 7 (tujuh) sikap seperti yang diidentifikasikan Rogess (dalam Knowles, 1984) sebagai berikut :
1. Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya, atau kurang terbuka.
2. Dapat lebih mendengarkan pesertadidik, terutama tentang aspirasinya dan perasannya.
3. Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif, dan kreatif, bahkan yang sulit sekalipun.
4. Lebih meningkatkan perhatian terhadap hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahanpembelajaran.
5. Dapat menerima balikan (feedback), baik yang sifatnya positif maupun negatif, dan menerima sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya.
6. Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran.
7. Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya.
Beberapa hal yang perlu dipahami guru dari peserta antara lain : kemampuan, potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah.
Sedikitnya 9 (sembilan) resep yang harus diperhatikan dan diamalkan guru, agar pembelajaran berhasil memperhatikan perbedaan peserta didik;
1. Kurangi metode ceramah.
2. Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik.
3. Kelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya.
4. Perkaya bahan dari berbagai sumber yang aktual dan menarik serta membangkitkan rasa ingin tahunya.
5. Hubungi specialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan.
6. Gunakan prosedur penilaian yang bervariasi dalam penilaian.
7. Pahami perkembangan peserta didik.
8. Kembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap peserta didik bekerja dengan kemampuan masing-masing tiap pembelajaran.
9. Libatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan seoptimal mungkin .
Guru yang berhasil mengajar berdasarkan perbedaan tersebut, biasanya memahami peserta didik melalui kegiatan :
1. Mengobservasi peserta didik dalam berbagai situasi, baik di kelas maupun di luar kelas.
2. Menyediakan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan peserta didik, sebelum, selama, dan setelah pembelajaran.
3. Mencatat dan mengecek seluruh pekerjaan peserta didik, dan memberikan komentar yang konstruktif.
4. Mempelajari catatan peserta didik yang adekwat (memenuhi syarat).
5. Membuat tugas dan latihan untuk kelompok.
6. Memberikan kesempatan khusus bagi peserta didik yang memiliki kemampuan yang berbeda.
7. Memberikan penilaian secara adil
Untuk kepentingan tersebut, guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi berikut :
1. Menguasai dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan kompetensi lain dengan baik.
2. Menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi.
3. Memahami peserta didik, pengamalan, kemampuan, dan prestasinya.
4. Menggunakan metode yang bervariasi dalam mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik.
5. Mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitannya dengan pembentukan komptensi.
6. Selalu mengikuti perkembangan mutakhir.
7. Menyiapkan proses pembelajaran dengan baik.
8. Mendorong peserta didik untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
9. Menghubungkan pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang akan dikembangkan .
Singkatnya, guru harus siap menjadi fasilitator yang demokratis, profesional, dalam kondisi perkembangan informasi, teknologi, dan globalisasi yang begitu cepat tidak menutup kemungkinan bahwa dalam hal tertentu peserta didik lebih pandai atau lebih dulu tahu daripada guru. Mungkin mereka memiliki berbagai media seperti internet, ketika guru belum menggunakan bahkan tidak tahu/tidak biasa fasilitas tersebut. Kondisi ini menuntut guru untuk senantiasa belajar meningkatkan kemampuan, siap dan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk belajar dari peserta didiknya.
*) Penulis adalah Kepala Sekolah SMP Negeri 14 Palu

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.