alexametrics Gugatan Class Action Petani Plasma Ditolak – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Gugatan Class Action Petani Plasma Ditolak

PT Sonokeling Pastikan Lapor Balik ke Polda Sulteng

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TOLITOLI—Usai sudah perseteruan di meja hijau antara perwakilan kelompok petani plasma Desa Oyom dengan PT Sonokeling Buana, belum lama ini.
Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tolitoli memutuskan, menolak gugatan kelompok atau class action yang diajukan empat orang penggugat yang mengatasnamakan kelompok petani plasma, pada 20 Oktober lalu.

Menyikapi hasil putusan PN Tolitoli, Kuasa Hukum PT Sonokeling Buana—Sabrang, SH, kepada Radar Sulteng menjelaskan, dari hasil putusan dalam persidangan di PN Tolitoli 17 November, PT Sonokeling Buana menilai, isi perkara gugatan yang diajukan kelompok petani plasma yang diwakili empat orang yakni Doni Salim, M. Yahya Bantilan, Pinjaman Kapitalau dan Yasin melalui Kuasa Hukum Fadli Anan, SH, Moh. Ridwan, SH, dan Syaiful Asis, SH, dengan perkara No25/PDT,G /2020, terkesan mengada-ada. Selain itu PN juga memutuskan bahwa gugatan tidak memenuhi unsur gugatan, serta terlalu prematur untuk diajukan sebagai gugatan.

“Majelis hakim baru memeriksa pendahuluan perkara, belum isi gugatan. Kesimpulannya, terlalu prematur lah mereka menggugat. Selain itu, persyaratan bahwa penggugat berdomisili di lokasi gugatan tidak terpenuhi, mereka tinggal di tempat berbeda di kecamatan lain,” kata Sabrang.

Kemudian, untuk diketahui, dalam gugatan tersebut, penggugat seolah-olah hendak membuat konflik perseteruan di antara masyarakat dengan pihak perusahaan, dengan menyebutkan bahwa PT Sonokeling Buana tidak menepati janji atau wanfrestasi atas pembagian hasil panen sawit kepada masyarakat Desa Oyom yakni 60 persen untuk perusahaan dan 40 persen bagi petani plasma, serta menyebutkan bahwa perusahaan melakukan penyerobotan lahan, dan pernah melakukan akad perjanjian setelah panen.

“Perusahaan tidak pernah melakukan deal, atau pernah mendatangi masyarakat Oyom kemudian berjanji akan melakukan bagi hasil 60-40. Intinya, dari hasil sidang majelis hakim menolak gugatan mereka, dan kami juga telah menilai bahwa gugatan ini sudah mengada-ada dan tidak memenuhi unsur,” ungkap Sabrang.

Untuk diketahui, empat orang perwakilan kelompok petani plasma mengajukan nilai bagi hasil dalam gugatan yakni sebesar Rp 955,8 miliar kepada perusahaan dalam kompensasi bagi hasil sawit plasma.
 
Disinggung soal rencana lapor balik ke Polda, Sabrang menegaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan segera bertolak ke Polda Sulteng di Kota Palu, dengan agenda melaporkan balik pihak penggugat ke Polda. Sebab, dalam perkara ini, semua tuduhan yang dialamatkan kepada PT Sonokeling tidaklah benar atau mengada-ada, dan utamanya perusahaan tidak pernah melakukan perjanjian bagi hasil kepada masyarakat Oyom. Selain itu, tuduhan bahwa, PT Sonokeling telah melakukan penyerobotan lahan seluas 6.000 hektare milik petani plasma atau pemilik lahan (SKPT) tdaklah benar.
“Luas wilayah Desa Oyom itu hanya 1.000 hektare (ha) saja, dan jumlah penduduknya 700 kk lebih. Sehingga, apa yang disampaikan perwakilan kelompok petani plasma ke media, terkesan mengada-ada, tidak benar,” kata Sabrang yang menyebutkan, berdasarkan sertifikat HGU nomor 002, 003 dan 004, posisi PT Sonokeling Buana berada di wilayah Kabupaten Buol, dan perusahaan mengklaim hingga saat ini tidak pernah melakukan ikatan perjanjian baik tertulis maupun lisan mengenai bagi hasil perkebunan sawit.

Selain itu, SKPT yang dijadikan sebagai alat bukti untuk mengajukan gugatan ke PN adalah palsu atau fiktif berdasarkan putusan pengadilan No 50 dan 51. Dan diketahui, ada sekitar 650 SKPT dinyatakan bodong, lantaran tidak ada bukti nyata keberadaan lahannya.

Mengenai batas wilayah antara Kabupaten Tolitoli dan Buol, mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No 61 tahun 2017, yang intinya menyebutkan bahwa jarak Desa Oyom hingga ke patok HGU PT Sonokeling di wilayah Buol sejauh 28 kilometer. Sehingga, PT Sonokeling masih berada di Kabupaten Buol sesuai batas HGU.(dni)

*) Berita ini sudah ditayangkan pada edisi Rabu 25 November 2020, di harian Radar Sulteng.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.