Gubernur Ikuti Prosesi Adat Pora’a Binangga di Poboya

- Periklanan -

Gubernur H Longki Djanggola bersama keturunan madika lainnya yang masih dalam rumpun Yojo Kodi, menjalani Proses Noriu Madika (Memandikan Madika), dalam ritual Pora’a Binangga, di Sungai Pondo, Kelurahan Poboya, Rabu (28/2). (Foto: Arwansyah)

PALU- Masyarakat empat kelurahan di Kecamatan Mantikulore yakni Poboya, Lasoani, Tanamodindi dan Kelurahan Kawatuna, kemarin (28/2) melaksanakan upacara adat Poraa Binangga. Upacara adat dipusatkan di bantaran Sungai Pondo, Kelurahan Poboya.

Ritual adat yang dilaksanakan setiap tahun ini bertujuan untuk memohon keberkahan hujan dan sinar matahari silih berganti untuk kemanfaatan masyarakat. Upacara adat dihadiri Gubernur Sulteng H Longki Djanggola, pejabat pemerintah, serta sejumlah tokoh adat dan tokoh masyarakat dari Kelurahan Poboya, Lasoani, Tanamodindi, dan Kawatuna.

Acara diawali dengan penyambutan Gubernur dan pejabat pemkot, dengan tarian Kabasara. Acara puncak dari upacara adat Pora’a Binangga ini adalah Noriu Madika atau memandikan Madika/Raja. Ada empat orang tokoh/turunan raja yang dimandikan. Salah satunya adalah Gubernur H Longki Djanggola. Sementara, yang memandikan adalah tiga orang tua perempuan sesepuh adat.  Mereka adalah merupakan keturunan sesepuh adat yang memandikan raja zaman dahulu.

Sebelum pelaksanaan Noriu madika, Gubernur H Longki Djanggola yang merupakan salah satu keturunan raja atau Madika kota Palu, sekaligus Toma Oge menuju tiang bambo yang disebut vunja. Vunja ini dihiasi dengan ketupat dan melakukan ritual makan yang berada di atas dula palangga.

Sementara dalam persiapan memandikan, dilakukan pemotongan kambing berwarna putih di sungai. Penyembelihan dilakukan petugas yang merupakan keturunan dari leluhur, dan memang bertugas menyembelih hewan dalam ritual seperti ini.

- Periklanan -

Darah kambing ini kemudian dialirkan ke sungai, dimana di bagian hilirnya keturunan madika atau raja  menjalani prosesi dimandikan. Ini bermakna agar berkat mengalir seperti keluarnya darah.

Selama prosesi memandikan keturunan raja, diiringi oleh tabuhan gimba (Gendang), yang dipukul oleh dua orang yang saling bersahutan. Gimba juga diyakini untuk mengundang leluhur dalam pelaksanaan ritual itu.

Daging hewan yang disembelih tadi kemudian dimasak dan dimakan bersama masyarakat, sebagai tanda rasa syukur terselenggaranya ritual adat tersebut. Acara terakhir adalah santap siang bersama, pejabat, tamu undangan dan seluruh masyarakat yang hadir.

“Saya mengapresiasi kegiatan upacara adat ini. Saya juga sangat mengapresiasi program Pemerintah Kota Palu yang salah satunya adalah memperkuat kelembagaan adat di Kota Palu,” ujar Longki dalam sambutannya.

Gubernur berharap dengan dilaksanakan upacara adat ini segala keinginan dan tujuan bisa dicapai.

Gubernur mengungkapkan ritual tersebut dimaksudkan untuk memanjatkan doa kepada Allah, melalui ritual leluhur agar diberi keberkahan hujan dan menghindarkan dari kekeringan.

‘’Dan kita berharap yang akan diberikan tidak akan menjadi malapetaka buat rakyat yang dilaluinya, tetapi akan bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat, khususnya masyarakat yang dilalui oleh aliran sungai ini,’’ ungkap Gubernur. (ars/awl)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.