Genangan Air dari Eks Likuifaksi Jadi Ancaman Baru

- Periklanan -

 

PALU- Pasca bencana gempa bumi yang terdampak terjadinya likuifaksi di wilayah Balaroa dan Petobo, tak disadari sebagai orang menjadi ancaman baru. Terjadi fenomena alam yang hanya dipahami oleh para ahli dengan munculnya air bawah tanah secara terus menerus dari perut bumi.

Terkait ancaman tersebut Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber daya air Ir. Saliman Simanjuntak, mengaku pemerintah provinsi Sulawesi Tengah gerak cepat ambil langkah antisipasi. Hal yang sama menurut Saliman juga terjadi di Petobo. Untuk penanganan awal secepatnya ditangani adalah wilayah Balaroa.

“Gubernur sudah memerintahkan kepada saya bagaimana caranya agar danau-danau atau genangan-genangan itu dikeringkan. Dan kami sudah menyiapkan desainnya dengan cara mengalirkan ke laut,” ungkap Saliman, kepada Radar Sulteng, Jumat (7/12).

Desain yang dibuat itu kata Saliman merupakan langkah antisipasi dengan inisiatif penuh tanpa menggunakan anggaran, kecuali pengerjaan konstruksi nanti diperkirakan akan menggunakan anggaran hanya sekitar Rp 1 Miliar.

“Kami sudah melakukan pengukuran dan baru Balaroa selesai desainnya. Tidak mahal harganya konstruksinya dan kami akan alirkan genangan itu sampai ke laut. Caranya, Kebetulan di sana sudah ada drainase yang dibuat pemkot yang akan saya bersihkan dulu sampahnya kemudian saya buat konstruksi batu kali untuk mengalirkan sampai ke laut,” jelas Saliman.

Apa penyebab munculnya air di lokasi eks likuifaksi 28 September 2018? Radar Sulteng sengaja mengambil penjelasan Kadis Cipta Karya dan SDA ini karena sejak awal melakukan hipotesa dan telah dibenarkan Japan Internasional Cooperation Agency jepang (JICA), setelah melakukan kajian. JICA adalah sebuah lembaga dari Jepang yang direkomendasikan oleh pemerintah melalui Bappenas dibiayai Bank Dunia untuk membantu melakukan kajian guna penanganan pasca bencana.

Dijelaskan Saliman, gempa bumi di Sulteng 28 September lalu menimbulkan fenomena baru di dunia. Berbeda dengan di Aceh, Lombok bahkan di Jepang sekalipun. Sesuai hipotesanya yang telah dibenarkan JICA setelah mengkaji fakta lapangan, likuifaksi yang terjadi disebabkan pecahnya lapisan aquifer yang diakibatkan guncangan keras gempa. Ini juga mementahkan anggapan sebagian orang yang menganggap likuifaksi di Petobo disebabkan air dari bocornya irigasi gumbasa.

“Di Palu ada pengecualian. Di Palu ada gerakan tanah yang mendorong ke atas sehingga terjadi pembelederan di Balaroa dan Petobo termasuk Jono Oge yang awalnya dikira orang karena patahan. Patahan tidak menyebabkan tanah naik ke atas karena patahan terjadi puluhan bahkan ratusan kilometer dibawah tanah,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, yang membedakan gempa di daerah lain dengan kota Palu dan sebagian Sigi, karena berada di atas confined aquifer, dengan topografi kemiringan dari pegunungan sampai ke lembah.Dimana diketahui di dalam tanah ada dua macam air yaitu Akifer Bebas (Unconfined Aquifer).

- Periklanan -

‘’Air ini jika kita mengambilnya bisa menggunakan pipa yang ditusuk dan menaikan dengan pompa atau dengan timba,’’ terang Saliman.

Kedua, confined aquifer. Jenis air tanah yang berada terjepit di antara dua lapisan kedap air (lapisan impermeable) yang isinya pasir, kerikil dan batu-batu lepas serta air. Sumber air disini menurut Saliman bersumber dari yang terjebak dari lapisan atas tanah dan gunung, dari aliran sungai yang masuk ke dalam atau terbentuk dari danau atau embung kecil yang terbentuk dari alam dan masuk kedalam yang kita sebut sebagai reservoir. Confined aquifer inilah yang didorong oleh energi potensial yang mengubah menjadi energi kenetis. Bocornya lapisan kedap air itu akan menyemburkan air ke atas menembus sampai ke permukaan. Inilah yang terjadi, terang Saliman saat terjadinya gempa yang menyebabkan pecahnya lapisan kedap air, kemudian air yang tertekan tadi mendorong lapisan uncofined diatasnya.

“Dia dorong tanah keatas, sehingga menyebabkan kekosongan di bawah, maka dengan beban dari atas menyebabkan tanah dan bangunan di atas masuk ke dalam. Proses ini terjadi terus-menerus sambil bergerak mengalir ke kebawah. Itu disebabkan karena memang lapisan impremeablenya miring. Pergerakan itu kemudian berhenti di suatu titik karena diperkirakan wilayah tersebut confined aquifer-nya jauh,’’ jelasnya.

Pasca gempa likuifaksi di Petobo dan Balaroa, menurut Saliman sampai saat ini masih terjadi aliran air dari bawah tanah. Adanya energi dari bawah tadi menyebabkan meskipun tak ada gempa air masih terus mengalir dari bawah. Itulah yang saat ini mulai membentuk danau kecil. Keluarnya air dari bawah tak sebanding dengan yang teraliri melalui selokan yang menyebabkan genangan.

“Hasil pengukuran kami minggu lalu sudah terjadi 1,6 hektar genangan. Kedalamannya, kami ukur menggunakan kayu 4 meter belum sampai, jadi Kira-kira diatas 4 meter atau bisa 7 meter,” ungkapnya.

Kondisi ini akan sangat mengancam karena jika dibiarkan akan menjadi petaka baru. Mengingat lokasi tersebut dipenuhi tanah endapan (Aluvial) yang mudah menjadi lumpur karena rendaman air. Ditambah lagi tumpukan tanah di wilayah likuifaksi itu saat ini elevasinya lebih tinggi dari tanah sebelumnya.

“Apa yang terjadi jika terus menerus keluar air, ditambah dengan curah hujan deras. Bisa terjadi banjir lumpur yang mengancam rumah yang ada dibagian bawah. Maka air ini harus dikeringkan,” katanya.

Saliman berharap penjelasan yang bersumber dari hipotesanya tidak membuat ketakutan di masyarakat, namun untuk menjadikan kewaspadaan di masyarakat bahwa di luar gempa tsunami dan likuifaksi akibat patahan, ada efek sampingan yang bisa timbul, yaitu ancaman banjir lumpur. Ia meminta masyarakat mempercayakan kepada pemerintah untuk melakukan antisipasi.

“Jadi nanti kami akan alirkan ke laut. Masyarakat diharapkan bisa memahami apa yang akan kami lakukan ini untuk menyelamatkan masyarakat. Mudah mudahan Desember ini juga kami laksanakan sebelum musim hujan panjang,” harap Saliman.(awl)

FOTO: MUGNI SUPARDI/RADAR SULTENG
TERGENANG : Kondisi lokasi bekas terdampak likuifaksi di Kelurahan Balaroa yang sudah digenangi air, Minggu (9/12).

- Periklanan -

1 Komen
  1. […] artikel juga telah dimuat dengan judul http://radarsultengonline.com/2018/12/10/genangan-air-dari-eks-likuifaksi-jadi-ancaman-baru/ […]

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.