Gempa Poso Bukan dari Garis Patahan Palu Koro

- Periklanan -

POSO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Poso menyebut kalau gempa 5,7 SR yang mengguncang Poso pada Minggu pagi (24/3) lalu bukan akibat patahan garis sesar Palu Koro yang membentang sepanjang teluk Palu hingga teluk Bone (melewati Poso) sebagaimana telah viral di media sosial (medsos).
Tetapi gempa tersebut akibat patahan dari pada kerak bumi memanjang Utara-Selatan, sebelah barat danau Poso. Bahwa gempa Poso karena patahan garis sesar Palu Koro ini diperoleh BPBD Poso dari hasil konsultasi dengan pihak Badan Geologi Bandung. “Dari hasil konsultasi dengan pihak Badan Geologi Bandung diperoleh keterangan kalau gempa Poso 5,7SR, akibat patahan kerak bumi memanjang utara selatan sebelah barat danau Poso. Akibat patahan tersebut terjadi pergerakan batuan yang menimbulkan dentuman untuk menuju proses kestabilan. Itu akan terjadi makin lama makin kecil, seperti pernah terjadi pada gempa Jogja tahun 2006 dan gempa danau Toba tahun 2004,” jelas Kepala BPBD Poso, Masdian Mentiri MSi, Selasa (26/3). “Ini klarifikasi bahwa gempa bukan akibat patahan garis sesar Palu Koro yang membentang ke Poso sebagaimana viral di medsos,” tambah dia.
Diketahui, gempa bumi bermagnetudo 5,7 SR yang mengguncang Poso ini mengakibatkan 107 bangunan rusak. Diantara yang rusak tersebut, terdapat diantaranya 6 bangunan rumah ibadah (Pura) dan kantor milik pemerintah (Polsek Pamona Barat). Nilai kerugian diperkirakan sebesar Rp 146.700.000.
Masdian menyebut tingkat kerusakan bangunan akibat gempa bervariasi. Ada yang rusak ringan, rusak sedang, dan ada pula yang rusak berat. Rusak ringan dan berat berupa retak pada dinding bangunan, sementara rusak berat berupa ambruknya bangunan ketanah. Kerusakan bangunan akibat gempa terdapat di 6 desa di wilayah kecamatan Pamona Barat. Yaitu di desa Meko, desa Toinasa, desa Uranosari, desa Salukaiya, desa Owini, dan desa Taipa. Desa Meko menjadi desa dengan jumlah kerusakan bangunan terbanyak, yakni 32 bangunan rumah warga dan 1 bangunan Pura. Menyusul kemudian desa Toinasa 27 rumah warga, 1 bangunan Pura, dan 1 Gereja. Desa Uranosari 25 rumah warga dan 2 Pura, desa Salukaiya 10 bangunan rumah warga, desa Owini 7 bangunan rumah warga, dan desa Taipa 1 rumah warga. “Kerusakan rata-rata bangunan ini berupa kerusakan ringan. Retak-retak,” sebut Kabid Marhaento, Senin (25/3) dikantornya.
Nilai kerusakan ringan dan sedang yang diderita warga antara Rp 500.000-Rp 600.000 per bangunan rumah. Kerusakan terparah tercatat hanya menimpa satu rumah warga di desa Taipa atas nama M Daso (67). Pria sepuh ini mengalami kerugian materil sebesar Rp 30 juta. (bud)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.